4 Metamorfosis AHY, Sang ‘Suksesor’ SBY Menuju Pilpres 2019

Nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mulai muncul dalam pembicaraan bursa calon presiden dan calon wakil presiden jelang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Memang ada kemungkinan AHY bisa maju sebagai cawapres, bahkan capres dalam kontestasi Pilpres 2019 nanti. Sang ayah yang merupakan Presiden RI Ke-6, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), berpotensi meneruskan tongkat estafet kepemimpinan kepada anaknya itu.

Seperti apa sih sepak terjang AHY, yang sebelumnya seorang prajurit TNI itu, di dunia politik? Yuk simak penjelasan di bawah ini.

Bertarung di Pilkada DKI Jakarta

AHY pertama kali terjun ke dunia politik pada panggung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2017 kemarin. Ketum Demokrat, SBY meminta AHY yang saat itu masih berstatus prajurit TNI untuk menjadi calon gubernur DKI. AHY akhirnya pensiun dini dari TNI pada September 2016.

Sayangnya, nasib berkata lain. AHY yang berpasangan dengan Sylviana Murni dan didukung Partai Demokrat, PKB, PPP, dan PAN itu harus mengakui kegagalannya. AHY-Sylvi kalah dari dua pasangan lain, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi di putaran pertama.

Saat itu di putaran pertama, AHY-Sylvi meraih suara terendah dengan total 17,06 persen, sementara pasangan Ahok-Djarot dengan 42, 99 persen suara, disusul Anies-Sandi dengan 39,95 persen suara. Lalu, di putaran kedua Anies-Sandi sukses menang dengan total 57,96 persen suara disusul Ahok-Djarot dengan 42,04 persen suara.

Meski gagal, AHY tetap legowo dan mengakui kegagalannya itu. Namun, sosok kelahiran Bandung, Jawa Barat pada 10 Agustus 1978 lalu tersebut tetap tak ingin berhenti berkiprah di panggung politik.

"Saya masih akan berkontribusi dalam memajukan negara menuju Indonesia Emas 2045. Generasi muda jangan takut gagal atau kalah," kata AHY di Wisma Proklamasi, Jakarta Pusat saat pidato kekalahan di putaran pertama Pilgub DKI 2017, Rabu 15 Februari 2017.

Bentuk "The Yudhoyono Institute"

Gagal di Pilkada DKI Jakarta 2017, nama AHY tak lantas tenggelam. Pada 10 Agustus 2017, AHY membentuk The Yudhoyono Institute. Di bawah bendera lembaga itu, AHY yang belum jadi kader Demokrat kerap bermanuver dan bertemu dengan sejumlah tokoh politik nasional. 

Dalam penjelasannya soal The Yudhoyono Institute, AHY yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif menyebut bahwa lembaga itu akan melakukan kajian dan pembahasan mengenai beragam isu strategis secara mendalam soal masalah yang dihadapi bangsa dan negara.

"Kita akan membahas banyak hal isu strategis ya, baik nasional, kawasan, maupun internasional. Kita punya tiga pilar, liberty, prosperity, dan security. Harapannya kita bisa terus membangun demokrasi yang semakin mapan dan beradab," kata AHY dikutip dari Kumparan, Kamis 10 Agustus 2017.

Tak hanya itu, AHY juga menegaskan bahwa nantinya The Yudhoyono Institute tersebut mengincar para anak muda. Menurut AHY, masa depan Indonesia ada di tangan mereka.

Mulai ‘gantikan’ SBY di Partai Demokrat

Tak berhenti sampai di situ, baru-baru ini, AHY diangkat menjadi komandan di Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat untuk Pilkada 2018 dan Pemilu 2019. Menariknya, tugas AHY di Demokrat sendiri cukup penting, termasuk menggantikan sang ketua umum yang merupakan sang ayah, SBY.

"AHY kini wajah baru dan pemimpin baru Partai Demokrat, menggantikan Pak SBY yang sudah memutuskan untuk 'Tut Wuri Handayani'," kata Wasekjen Partai Demokrat, Rachland Nashidik dikutip dari Detikcom, Minggu 18 Februari.

Ternyata tidak hanya mengurus soal pilkada dan pemilu, AHY juga mempunyai kewenangan yang cukup besar di partai yang berlambang bintang mercy itu. Salah satu kewenangan yang dimilikinya adalah menentukan dengan siapa Partai Demokrat akan bekerja sama saat pilpres nanti.

"AHY kini memiliki kewenangan untuk memutuskan kebijakan-kebijakan strategis partai, termasuk menentukan dengan partai mana saja nanti kami akan berkoalisi bagi Pilpres 2019," ujar Rachland.

Pada momen pengukuhan AHY, SBY punya pesan khusus. Menurutnya, Kogasma sendiri dibentuk untuk membantu Dewan Pimpinan Pusat Demokrat memenangi pemilu.

"Kepada Kogasma 2019, saya ucapkan selamat bertugas, laksanakan tugas dengan sebaik-baiknya. Susun strategi pemenangan yang jitu," ujar SBY saat mengukuhkan AHY sebagai Komandan Kogasma.

"Rancang dan selenggarakan kampanye pemenangan pemilu Demokrat di seluruh wilayah Indonesia dengan cara yang efektif, yang cerdas, mendidik, dan yang beretika. Ingat, politik Partai Demokrat adalah politik yang baik," lanjutnya.

SBY juga sempat berbicara mengenai 'tut wuri handayani'. Presiden RI ke-6 tersebut berbicara mengenai regenerasi di tubuh Demokrat.

"Sudah saatnya yang tua 'tut wuri handayani', yang muda di depan, tentu dengan bimbingan yang tua. AHY sering katakan untuk kita semua, dan untuk kader baru ini relevan. Dream big, work hard, never give up!" kata SBY.

Potensi jadi calon wakil presiden di 2019

Langkah AHY di pentas politik Indonesia semakin mantap setelah dua hari lalu muncul survei yang menegaskan namanya sebagai kandidat cawapres. Ya, berdasarkan hasil survei Poltracking Indonesia yang dirilis di Hotel Sari Pan Pacific, Jakarta, Minggu 18 Februari lalu, nama AHY jadi kandidat cawapres terkuat. 

Hitung-hitungannya adalah jika dipasangkan dengan Presiden Jokowi, rata-rata elektabilitas AHY mencapai 13,9 persen. Lalu, jika dipasangkan dengan Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto, elektabilitas AHY mencapai 15,85 persen. 

Sementara di posisi kedua sebagai kandidat terkuat, ada nama Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Melihat hasil itu tentu membuat Partai Demokrat bisa mempertimbangkan untuk mengusung AHY sebagai cawapres.

Partai Demokrat rencananya akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional (rapimnas) bulan depan untuk memantapkan persiapan Pemilu 2019. Kepastian pengusungan AHY pun akan jadi salah satu pembahasan pada Rapimnas tersebut.

"Kita lihat semuanya harus kita bicarakan dan putuskan karena kita juga ingin melaksanakan yang terbaik,” kata Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, Agus Hermanto di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Rabu 21 Februari.

“Kalau maju tentunya harus menang, yaitu kita harus melihat kemungkinan yang ada melihat juga yang terbaik bagi kemajuan PD dan kemajuan AHY," lanjutnya.

Seperti diketahui, Partai Demokrat akan menggelar Rapat Pimpinan Nasional bulan depan, yang katanya akan digelar pada 10-11 Maret 2018 di Sentul, Bogor, Jawa Barat. Hal itu dilakukan guna memantapkan strategi di Pemilu 2019.

Related Article