Isu Terkini

Kenapa Bulan Juni Menjadi Pride Month Bagi Kelompok LGBT?

OlehHafizh Mulia

featured

Bulan Juni lebih dikenal oleh komunitas LGBT di Amerika Serikat dan dunia sebagai bulan kebanggaan mereka, alias Pride Month. Pada bulan ini, komunitas LGBT (yang juga dikenal dengan istlah ekstensi LGBTQ+) biasanya melakukan parade dan sejumlah aksi yang bertujuan untuk menuntut kesetaraan dan penghapusan diskriminasi terhadap orientasi seksual mereka. Istilah “pride” sendiri dipilih menjadi simbol gerakan sebagai lawan kata dari “shame” atau “stigma” yang seringkali dilekatkan terhadap komunitas tersebut.

Namun, apa sebenarnya yang menjadikan bulan Juni sebagai Pride Month bagi kelompok LGBT?

Kerusuhan Stonewall di Kota New York Memberi Momentum Bagi Gerakan LGBT

Pada dekade 1950-an dan 1960-an, Amerika Serikat bukanlah tempat yang nyaman bagi komunitas LGBT. Mereka mendapat tekanan secara hukum dan sosial. Komunitas LGBT, yang dahulu dikenal dengan istilah kelompok homofilia, benar-benar tidak memiliki ruang gerak. Beberapa organisasi seperti Daughters of Bilitis dan Mattachine Society menjadi kelompok-kelompok pertama yang memotori pergerakan komunitas LGBT di Amerika Serikat era modern.

Perjuangan yang panjang ini pun semakin menguat pada akhir tahun 1960-an. Komunitas LGBT semakin memperjuangkan haknya seiring berbagai usaha dari negara menutup tempat-tempat tempat berkumpulnya komunitas LGBT, salah satunya bar khusus komunitas gay.

Titik klimaks perjuangan di dekade 1960-an terjadi pada 28 Juni 1969 dini hari di Stonewall Inn, Desa Greenwich, Manhattan, New York. Semenjak tahun 1966, Stonewall Inn merupakan bar khusus gay. Tempat ini menjadi satu-satunya bar gay di New York kala itu yang mengizinkan tamunya untuk berdansa. Bar ini secara berkala diinspeksi polisi untuk memastikan ketertiban.

Salah satu inspeksi tersebut terjadi pada pukul 1.20 pagi, tanggal 28 Juni 1969. Delapan polisi menghampiri Stonewall Inn. Empat di antaranya berpakaian polos, dua di antaranya menggunakan seragam patroli, dan dua lainnya adalah Detektif Charles Smythe dan Deputi Inspektor Seymour Pine. Mereka mendatangi tempat tersebut sembari berteriak, “Polisi! Kami mengambil alih tempat ini!”

Teriakan tersebut menghentikan seluruh aktivitas di dalam ruangan yang berisikan 205 orang tersebut. Sesuai dengan standar prosedur yang biasa dilakukan, polisi mengidentifikasi seluruh tamu yang hadir malam itu. Tamu yang berpakaian perempuan akan dicek oleh polisi perempuan. Jika ternyata dia laki-laki, tamu tersebut akan ditangkap.

Namun, proses identifikasi malam itu tidak berjalan sesuai prosedur. Para pria yang memakai baju perempuan menolak untuk ikut bersama polisi. Begitu pun dengan para pria yang menolak diidentifikasi. Hal ini membuat polisi memutuskan untuk membawa seluruh tamu ke kantor polisi.

Ketika para tamu tersebut berbaris sembari menunggu mobil yang akan mengantar mereka ke kantor polisi, tak disangka-sangka jumlah keramaian bertambah drastis. Keramaian ini, yang mayoritas diduga adalah bagian dari komunitas gay, memadati Stonewall tanpa bersuara sedikit pun. Meski massa di sekitar Stonewall Inn sudah bertambah sekitar sepuluh kali lipat, suara di sekitar tempat tersebut sangat hening.

Saat para tamu yang tertangkap dimasukkan ke mobil polisi, banyak dari mereka meneriakkan kata-kata penyemangat seperti “Gay Power!”. Hal ini membakar rasa semangat sekaligus meningkatkan suasana mencekam di sekitar Stonewall Inn. Beredar juga rumor bahwa polisi menyiksa para tamu yang masih tertahan di dalam bar. Uang receh dan botol bir pun mulai dilemparkan ke arah mobil polisi.

Kondisi yang semula hening kian ramai. Seorang perempuan terborgol menolak untuk masuk ke dalam mobil polisi. Perempuan ini merasa bahwa dirinya disiksa dan tidak selayaknya diperlakukan seperti itu. Ketika perempuan tersebut memutuskan untuk masuk ke dalam mobil polisi, ia berkata kepada keramaian yang berada di sekitar Stonewall Inn, “Mengapa kalian tidak melakukan sesuatu?”

Kerusuhan pun pecah. Ketika itu, kondisi di Stonewall Inn sudah benar-benar berantakan. Polisi dan para tamu yang ditangkap berjibaku satu sama lain. Beberapa tamu yang sudah masuk ke dalam mobil polisi berhasil melarikan diri. Polisi, yang jumlahnya kalah dari massa, tidak banyak berkutik.

Keesokan harinya, ribuan massa hadir di depan Stonewall Inn. Seolah ingin membakar semangat massa yang hadir, banyak dari pria-pria gay melakukan tindakan afeksi secara publik. Seiring hadirnya Tactical Patrol Force (TPF) New York, kerusuhan di depan Stonewall pun kembali pecah. Butuh dua jam, yakni dari jam 2 pagi hingga jam 4 pagi, untuk polisi meredakan situasi di depan Stonewall.

Setelah kerusuhan dua hari ini, pergerakkan komunitas LGBT di seluruh Amerika Serikat langsung meningkat drastis. Berbagai organisasi dan gerakan sosial semakin banyak dilakukan. Diskursus mengenai LGBT pun semakin umum di masyarakat. Kerusuhan Stonewall juga menjadi alasan utama mengapa bulan Juni dipilih menjadi Pride Month komunitas LGBT.

Share: Kenapa Bulan Juni Menjadi Pride Month Bagi Kelompok LGBT?