3 Kriteria Cawapres Pendamping Jokowi di Pemilu 2019 Versi PDIP

Setelah penetapan kembali Presiden RI Joko Widodo sebagai calon presiden di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 nanti, PDIP kini fokus mencari sosok calon wakil presiden. Partai berlambang banteng itu pun membeberkan tiga kriteria cawapres pendamping Jokowi.

Namun, belum sampai ke tahap penentuan nama cawapres pendamping Jokowi tersebut, pihak PDIP sendiri saat ini masih berbicara seputar kriteria dan karakter sosok cawapres yang akan dipasangkan dengan Jokowi di Pemilu 2019 nanti.

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira membeberkan setidaknya tiga kriteria yang harus dimiliki sosok cawapres terbaik yang nantinya akan bersanding dengan Presiden Jokowi di Pemilu 2019. Apa aja sih kriteria tersebut?

Dapat Menaikkan Elektabilitas Jokowi

Andreas menyebut kriteria pertama dari sosok cawapres tersebut adalah harus mampu menaikkan elektabilitas Jokowi. Menurutnya, kriteria itu muncul lantaran elektabilitas Jokowi disebut-sebut mengalami penurunan dalam beberapa hasil survei. 

Maka dari itu, sosok cawapres yang akhirnya diusung nanti diharapkan bisa mendongkrak elektabilitas Jokowi.

"Kalau kita lihat untuk ke depan, Pak Jokowi tentu harus mempertimbangkan aspek-aspek cawapres dengan kriteria untuk mendongkrak elektabilitas dari Pak Jokowi. Kalau dari elektabilitas Pak Jokowi belum terlalu meyakinkan, dibutuhkan cawapres yang mempunyai kemampuan untuk mendongkrak elektabilitas dari Pak Jokowi," kata Andreas seperti dinukil dari Kompas.com, Selasa, 27 Februari.

"Karena apapun alasannya di dalam pencapresan ini target pertama yang harus dilewati adalah memenangkan Pilpres 2019," katanya.

Memiliki Kompetensi

Lalu, kriteria kedua adalah sosok cawapres tersebut harus memiliki kompetensi. Andreas mengatakan jika elektabilitas Jokowi cukup tinggi, maka sosok cawapres yang memiliki kompetensi lah yang dibutuhkan, agar mampu bekerja sama secara lebih profesional dalam menjalankan tugas dan program pemerintah. 

"Kalau misal elektabilitas ini cukup tinggi artinya cukup meyakinkan di atas 60 persen, artinya mungkin cawapres yang dibutuhkan adalah cawapres yang memiliki kompetensi," katanya.

Pemimpin Muda

Lanjut ke kriteria ketiga, Andreas mengatakan bahwa kriteria terakhir yang harus dimiliki sosok cawapres pendamping Jokowi adalah terkait regenerasi kepemimpinan di masa mendatang. Hal itu tak lepas dari kebutuhan bangsa dan negara agar ada sosok-sosok cawapres yang bisa diproyeksikan sebagai pemimpin masa depan Indonesia.

"Perlu tampil orang-orang yang mempunyai proyeksi untuk jadi pemimpin masa depan Indonesia sehingga cawapres itu juga menjadi faktor yang menentukan di dalam pencapresan," ujarnya. 

Muncul Nama AHY

Menariknya, dalam beberapa hari terakhir, sejumlah parpol mulai bergeliat untuk mengajukan kadernya sebagai cawapres pendamping Jokowi di Pemilu 2019. Misalnya saja Partai Hanura yang mengusulkan nama Wiranto, serta PKB yang mengusulkan ketua umumnya, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin.

Tak hanya itu, muncul juga nama-nama seperti Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Indonesia Puan Maharani dan Kepala Staf Kepresidenan Indonesia Moeldoko. Yang terakhir muncul nama Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra pertama dari Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono.

Nah, nama terakhir yakni AHY, yang saat ini menjabat sebagai Ketua Kogasma Pemenangan Pemilu Partai Demokrat, mulai digadang-gadang layak mendampingi Jokowi sebagai cawapres. Kira-kira gimana ya, guys, respon PDIP?

"Saya kira Pak AHY sudah pernah mencoba, seperti Pilgub DKI dan proses ini juga masyarakat sudah melihat siapa AHY," kata Andreas seperti dikutip dari detikcom.

"Tapi, kita lihatlah ke depannya, apakah cukup dalam kapasitas menghadapi pencapresan yang jauh lebih besar? Kita lihat nanti," ujarnya.

Andreas mengakui bahwa saat ini internal PDIP memang sedang membahas nama AHY. Namun, Andreas mengatakan bahwa keputusan belum akan diambil dalam waktu dekat. 

"Kita dialoglah, kita terbuka melakukan komunikasi, tapi semuanya belum ada yang pasti. Kita lihat bagaimana perkembangan proses ini ke depan. Waktunya cukup panjang," ucapnya.

Related Article