General

Kenapa Caleg Enggak Harus Foto Ngepal Tangan Melulu?

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Di masa-masa kampanye jelang Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 saat ini, calon legislatif (caleg) disibukkan dengan aktivitas promosi diri, salah satunya menyebarkan baliho berukuran raksasa dengan foto paling keren. Tapi, sadar kah kalian kalau ada beberapa caleg yang memasang foto mengepalkan tangan di balihonya?

Ya, enggak jadi masalah sih kalau memang caleg mau menampilkan foto ngepal tangan tinju dengan raut wajah semangat berapi-api karena mungkin foto itulah yang dianggap paling menjual, lagi pula itu juga sudah jadi pilihan masing-masing. Tapi, percayalah ternyata masih banyak gaya berfoto yang lebih keren dan sarat makna.

Bicara soal gaya berfoto keren di ruang publik, coba saja tengok baliho raksasa Ketua Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) beberapa bulan lalu yang tersebar di sejumlah titik strategis. Foto dan desain baliho AHY itu dinilai cukup keren, meski foto itu bukan kapasitasnya sebagai caleg, melainkan usaha promosi untuk menjadi bakal cawapres Prabowo Subianto.

Tentu baliho AHY yang luar biasa brillian itu diluncurkan dengan berbagai macam pertimbangan matang, dimulai pemilihan warna latar belakang putih, penempatan nama dan singkatan nama, serta pemilihan kata-kata singkat yang menjadi jargon di dalamnya.

Dalam baliho yang tersebar tersebut, AHY terlihat mengenakan busana yang menyerupai pakaian khas Abang Jakarta, namun tanpa kain yang mengikat di pinggang. Selain itu putra dari Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut memakai peci hitam menutupi kepalanya.

Baliho raksasa Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) yang banyak tersebar di beberapa titik di Jakarta dan kota-kota lain. Foto: Detik

Di jas hitam yang digunakan AHY, terpasang sejumlah lencana militer yang menandakan bahwa dirinya memiliki latar belakang seorang prajurit militer. Lalu, ada pula sebuah medali yang melingkar di lehernya. Ada dua pose AHY dalam baliho tersebut, pertama AHY melakukan sikap hormat dan pose kedua ia memperlihatkan seolah-olah sedang berjalan dengan tatapan mata tajam.

Tak lupa juga dalam baliho tersebut terdapat nama lengkapnya serta singkatan namanya yang simpel. Selain itu, ada kata-kata yang tertulis di baliho tersebut yakni "Siap" dan "Sekarang dan Masa Depan". Yang jelas, penampilan AHY dalam foto tersebut tampak rapi, mengesankan, dan eye catching.

Baliho raksasa AHY tersebut benar-benar mencolok karena diletakkan di jalan-jalan utama yang sangat strategis dari Jakarta, hingga kota-kota lain seperti Bandung, Pontianak, Karawang, Jambi, Banjarmasin, Surabaya, Denpasar, Palembang, Cirebon, Samarinda, dan Banda Aceh. Secara keseluruhan, baliho AHY ini simpel, jelas, dan muda terbaca semua pengguna jalan.

Oh iya, baliho AHY itu kabarnya tersebar di 63 titik dan biayayang dikeluarkan oleh suami Anissa Pohan untuk kampanye politik lewat media iklan baliho tersebut mencapai sekitar Rp78,75 miliar per satu bulan. Hmm, lumayan ya.

Foto AHY di baliho raksasa tersebut menjadi salah satu contoh pose keren politisi yang hendak ‘menjual’ dirinya ke masyarakat. Lalu, kenapa caleg-caleg seharusnya bisa meniru kekerenan pose AHY dan enggak melulu harus berpose mengepalkan tangan?

Lazimnya foto mengepalkan tangan memang kerap digunakan politisi sebagai tanda untuk memacu semangat dan pantang menyerah. Namun, karena pose tersebut sering digunakan, jadi terkesan membosankan, padahal masih banyak pose gaya lain yang lebih bergairah dan bahkan dengan gaya baru.

Pose keren AHY di baliho raksasa yang tersebar di beberapa kota. Foto: Istimewa

Menariknya, ternyata gaya mengepal tangan sendiri memiliki berbagai makna dilihat dari gaya kepalannya sendiri. Ternyata bagimana seseorang melakukannya menunjukkan banyak hal tentang kepribadiannya, bahkan hal itu bisa menunjukkan temperamen masing-masing pribadi atau politisi.

Coba saja tengok gaya mengepal tangan pada gambar di atas, kalau enggak sengaja bertemu baliho caleg di jalan, sesuaikan gaya mengepalkan tangan politisi dengan kepribadiannya. Ya...Siapa tau bisa menjadi pertimbangan kalian dalam memilih caleg di Pemilu 2019 nanti.

Tipe 1, biasanya dianggap perfeksionis populer. Selain itu juga, orang yang mengepalkan tangan dengan cara begitu adalah sosok inventif, intuitif, dan kreatif. Selain itu, sosok ini juga bisa menjadi seorang ahli strategi yang baik, suka membuat beberapa goal dalam waktu yang bersamaan.

Menariknya lagi, politisi yang masuk dalam kategori kepalan tangan ini merupakan seorang pemikir cepat, berpengetahuan luas dengan intuisi yang tidak pernah mengecewakan, ahli strategi dan improvisasi, kesuksesannya hampir selalu terjamin karena kualitas-kualitas ini. Di mana pun tempatnya, sosok ini selalu berhasil menjalin hubungan baik dengan mereka semua.

Ketika bekerja, sosok ini juga mencoba strategi yang berbeda sampai ia menemukan cara yang lebih baik. Ia juga lebih suka sendiri dalam melakukan banyak hal dan pekerjaan. Dengan menjadi perfeksionis, sosok ini tahu bahwa akan menyelesaikan segala sesuatunya sendiri seperti yang diinginkan.

Ilustrasi macam-macam kepal tangan. Foto: Istimewa

Namun, karena melakukan banyak hal sekaligus dan mencoba mencapai beberapa tujuan secara bersamaan, sosok ini sering merasa kewalahan, bahkan jadi tidak sabar ketika segala sesuatu serta rencana tidak berjalan sesuai dengan yang diinginkan dan itu membuat frustrasi.

Sarannya untuk orang-orang tipe ini adalah, lebih baik untuk menangani satu hal saja ketika sudah mulai merasa kewalahan; mundur, rileks dan coba lagi. Lebih baik tidak mengendalikan semuanya sekaligus, sangat penting untuk mengambil napas dan mencoba lagi.

Tipe 2, biasanya sosok yang masuk tipe ini merupakan spesialis yang peka. Jika ada politisi atau caleg yang pose di balihonya dengan gaya kepalan tangan seperti ini, maka ia bisa disebut tipe orang yang lebih suka langsung melakukan sesuatu. Ia bisa dan akan mewujudkannya.

Salah satu pose mengepal tangan dari serang caleg di daerah Kemang, Jakarta Selatan, Rabu, 10 Oktober 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Lalu, jika ada teman yang membutuhkan sesuatu, sosok ini jadi orang yang dapat  dipercaya untuk menyelesaikan sesuatu. Sosok ini juga termotivasi, fokus, dan gigih. Pekerja yang sangat keras dan pemimpin alami, tidak ada yang dapat menghentikannya dan keinginannya.

Sosok ini juga bisa sangat hebat dalam berkerja sama dan memimpin seluruh tim di area kerja, hebat dalam mencapai tujuan dan tugas, namun ketika bersosialisasi, ia harus berusaha lebih keras. Apalagi sosok ini mungkin tidak suka keramaian serta sosialisasi berlebihan.

Selain itu, saat berada di sekitar orang, tipe orang dengan kepalan tangan seperti ini terkadang meremehkan orang-orang yang dirasakannya seolah-olah tidak memiliki apa pun untuk dipelajari atau hal bermanfaat lainnya. Setidaknya itu yang menjadi kelemahan sosok ini.

Untuk itu, ia disarankan agar lebih rileks pada waktu tertentu, bukan hanya fokus pada pekerjaan. Keluar dari zona nyaman mungkin sulit, tetapi sosok ini juga sangat melakukannya sesekali.

Sosok ini boleh saja disebut ahli dalam beberapa hal, namun jika tidak segera keluar dari zona nyaman dan terbuka untuk bertemu orang baru yang mengubah pandangan hidup, mungkin bisa belajar beberapa hal lagi dan sedikit bersenang-senang. Meskipun tidak ingin melakukannya, tetapi ia akan menikmatinya.

Tipe 3, sosok yang kerap mengepalkan tangan dengan tipe ini kerap dianggap sebagai sosok yang intelektual introspektif. Sehingga, setiap pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki justru menjadikankan sebagai sosok pemikir out of the box.

Selain itu, sosok ini juga berorientasi pada detail dan perseptif, serta jarang kehilangan argumen. Sosok ini selalu ramah, meski ia dianggap adalah seorang introvert, berbeda dan tidak biasa.

Tipe politisi atau caleg dengan tangan mengepal seperti ini juga sangat analitis, sadar diri dan selalu memperbaiki diri. Ia selalu ada untuk keluarga serta teman-teman, pendengar yang baik dan pemberi nasihat yang ulung.

Sayangnya, kekurangan lain dari sosok ini adalah kurang berambisi. Dengan selalu berusaha menemukan dan mengejar kebenaran hidup yang lebih besar, sosok ini tidak suka memilih satu tujuan hidup atau satu karier saja.

Nah, terlepas dari tipe-tipe pose dengan gaya kepalan tangan di atas beserta kepribadian yang mengikutinya, tetap saja pose dengan gaya kepalan tangan atau tinju jadi membosankan. Enggak cuma politisi atau caleg aja kok, semua orang bahkan sering berpose dengan gaya seperti itu.

Sebut saja aktivis mahasiswa yang sedang aksi turun ke jalan, atlet-atlet olahraga di dunia sebagai bentuk selebrasi, orang-orang yang nonton bola di warkop saat timnya mencetak gol, emak-emak yang lagi pose sama petinju, dan banyak lagi yang lainnya, semuanya pakai gaya kepal tangan.

Lalu, kenapa caleg juga ikutan pose kepal tangan? Biar kayak aktivis? Atau biar terlihat berapi-api seperti selebrasi atlet?

Agar caleg enggak terlihat monoton, mungkin ada baiknya mereka mengganti pose yang awalnya mengepal tangan menjadi pose-pose yang tak terduga. Atau kalau mau pose standar bisa dipoles dengan nuansa yang luar biasa.

Selain gaya keren seperti AHY, mungkin politisi atau caleg bisa juga bergaya atau berpose seperti melayani masyarakat. Layaknya seorang pembantu yang melayani majikannya, begitu pula harusnya seorang wakil rakyat memposisikan dirinya yang harus selalu ada untuk mengakomodir kepentingan rakyatnya.

Mungkin caleg juga bisa memodifikasi balihonya dengan memasang foto dirinya menggunakan cosplay superhero dunia seperti superman misalnya, yang sebelumnya juga sudah pernah dilakukan. Hal itu dilakukan agar bisa disorot masyarakat.

Atau mencetak kalimat mutiara lima paragraf di samping foto dalam baliho untuk meyakinkan masyarakat, atau boleh juga memakai singkatan-singkatan atau keterangan gemes seperti KFC (Karno for Country), Papanya Artis Cynthia Lamusu, Papanya Aurel Hermansyah, atau memasang foto David Beckham sekalian yang identik dengan nomor 7 yang sekaligus nomor calegnya.

Boleh-boleh saja memasang pose unik di baliho demi meraup suara. Yang jelas jangan sampai ya balihonya salah cetak. Ya masak bikin baliho besar tapi tulisan ‘Asian Games 2018’ jadi ‘SEA Games 2018’, sih? Jangan sampai, ya!

Ramadhan Yahya adalah penulis tetap Asumsi.co.

Share: Kenapa Caleg Enggak Harus Foto Ngepal Tangan Melulu?