Isu Terkini

Bantuan Internasional untuk Bencana Alam, Apa Manfaatnya Secara Politis?

OlehHafizh Mulia

featured image

Bantuan internasional terus hadir dari berbagai penjuru dunia untuk bencana gempa bumi dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah. Untuk kondisi domestik, Bawaslu telah melarang penggunaan logo partai saat beri bantuan korban karena politisasi bantuan korban bencana alam memang dilarang dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, tepatnya di Pasal 282 dan 283 Undang-Undang Pemilu.

Lalu, bagaimana dengan bantuan internasional? Di tatanan politik internasional, tentu tidak dapat dibohongi adanya negara yang lebih dekat dengan negara tertentu secara politik dan ada negara yang memiliki hubungan yang tidak baik dengan negara lain. Hal ini membuat bantuan internasional pun dapat bersifat politis. Apa saja manfaat-manfaat politis yang mungkin didapat dari bencana alam?

Latar Belakang Historis Bantuan Internasional

Untuk memahami gagasan tentang bantuan internasional dan bagaimana muncul motif politik di baliknya, tentu perlu terlebih dahulu memahami sejarah lahirnya gagasan tentang bantuan internasional. Berdasarkan artikel karya Hyeon-Jae Seo, yang berjudul Politics of Aid, tren bantuan internasional yang sekarang sering dilakukan oleh negara maju ke negara berkembang dimulai di tahun 1950-an dan 1960-an. Kala itu, agensi bantuan masih berusaha untuk bersifat netral dari tujuan politik dan benar-benar spesifik menargetkan aspek-aspek yang ingin dikembangkan di negara yang dituju, seperti infrastruktur atau kesehatan.

Namun, semenjak perang dingin benar-benar memanas, bantuan internasional yang diberikan Amerika Serikat ke negara-negara lain mulai bertajuk politis: yaitu menghadang persebaran komunisme ke negara-negara yang dituju. Mulai dari era perang dingin ini, bantuan internasional terus bersifat politis hingga saat ini. Kira-kira, apa saja yang menjadi motif bantuan internasional saat ini?

Trust-Building dari Suatu Negara ke Negara Lain

Salah satu manfaat politis dari adanya bantuan negara lain ke negara yang sedang mengalami bencana alam seperti Indonesia saat ini adalah membangun kepercayaan dalam hubungan antar negara. Indonesia menerima tawaran bantuan paling awal dari negara-negara seperti India, Australia, dan Thailand, yang notabene memang negara-negara yang tidak begitu dekat, namun juga bukan negara yang bermusuhan. Dengan adanya bantuan, terutama ketika dalam kondisi benar-benar membutuhkan seperti gempa ini, terlihat bahwa ada suatu upaya untuk membangun kepercayaan dari satu negara ke negara lain. Hal ini tentu saja baik, terutama ketika memang secara umum sedang ada upaya kerja sama ekonomi di sisi lain.

Konsep trust-building ini sebenarnya dekat dengan berbagai macam bentuk kerja sama dan bantuan lainnya. Namun seringkali, sebuah negara menggunakan bantuan bencana alam sebagai salah satu langkah yang paling efektif untuk meningkatkan kepercayaan satu sama lain. Contohnya adalah Australia dan Indonesia, dua negara yang seringkali mengalami hubungan naik turun. Namun, karena Australia seringkali membantu Indonesia ketika mengalami bencana alam, Australia kini menjadi salah satu negara sahabat yang cukup dipercaya oleh Indonesia.

Menjaga Hubungan Persahabatan dengan Negara Lain

Selain membangun kepercayaan itu sendiri, manfaat politis dari membantu negara lain yang sedang terdampak bencana adalah menunjukkan itikad baik tentang hubungan persahabatan yang telah dibangun. Istilah ‘sahabat’ ini pun memang seringkali diperlihatkan ketika bencana alam terjadi. Salah satu buktinya adalah bagaimana negara-negara Asia Tenggara dan ASEAN sebagai institusi membantu dalam bencana alam gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah kemarin.

Begitu pun ketika bencana alam terjadi di negara-negara anggota ASEAN lainnya. Salah satu contohnya adalah di tahun 2013, ketika Indonesia berusaha membantu korban bencana angin topan Haiyan di Filipina dengan memberikan 75 ton logistik dan uang tunai US$1 juta. Hal ini membuktikan bahwa jalinan persahabatan antara negara anggota ASEAN telah dibangun, dan membantu ketika bencana alam terjadi menjadi salah satu buktinya.

Melanggengkan Kepentingan di Negara Penerima

Selain membangun kepercayaan, bantuan internasional, baik bencana alam maupun tidak, cenderung dapat melanggengkan kepentingan di negara penerima. Hal ini berkaitan dengan kepentingan yang perlu dilanggengkan di negara penerima. Tak ayal, negara-negara seperti Amerika Serikat, Australia, Inggris, dan Korea Selatan memberikan bantuan. Bahkan, Uni Eropa pun turut mengumumkan bahwa mereka akan memberikan bantuan untuk Indonesia.

Dalam konteks yang lebih umum, bantuan-bantuan di luar bantuan bencana alam untuk negara berkembang memang seringkali dilakukan. Jepang telah lebih dari 40 tahun memberikan Official Development Assistance (bantuan pembangunan) ke Indonesia. Amerika Serikat pun memiliki badannya sendiri, yaitu United States Agency for International Development (USAID), untuk membantu negara-negara berkembang, yang salah satu targetnya adalah Indonesia. Selain memang untuk membantu pembangunan negara tujuan, bantuan-bantuan internasional ini membawa kepentingan lain, yaitu tetap melanggengkan dominasi dan kepentingan negara pengirim di negara penerima bantuan.

Menciptakan Narasi sebagai Negara yang Peduli
Sehubungan dengan persepsi itu sendiri, manfaat politis dalam bantuan juga adalah dapat menciptakan narasi negara-negara pengirim sebagai negara yang peduli terhadap negara lain, terutama jika negara yang terdampak bencana alam adalah negara sahabat/yang berada di dalam satu kawasan yang sama, seperti ASEAN yang membantu Indonesia dalam bantuannya mengenai genset, pesawat, dan rumah sakit.

Apa fungsi dari adanya narasi kepedulian ini? Salah satu dampaknya adalah perspektif masyarakat terhadap negara pengirim bantuan. Bantuan internasional ini dapat menjadi sebuah soft power yang secara langsung atau tidak memberikan gambaran positif tentang negara penerima. Tentunya, melalui soft power ini, negara pengirim bantuan tidak perlu kesulitan untuk meningkatkan gambaran positif tentang negaranya di negara penerima.

Hafizh Mulia adalah mahasiswa tingkat akhir program sarjana di Departemen Hubungan Internasional Universitas Indonesia. Tertarik dengan isu-isu ekonomi, politik, dan transnasionalisme. Dapat dihubungi melalui Instagram dan Twitter dengan username @kolejlaif.

Share: Bantuan Internasional untuk Bencana Alam, Apa Manfaatnya Secara Politis?