Isu Terkini

Seminggu Setelah Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah, Apa Saja yang Telah Dilakukan Pemerintah?

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Tepat seminggu setelah tsunami menerjang Kota Palu dan Kabupaten Donggola, Sulawesi Tengah pada Jumat, 28 September 2018 lalu. Pencarian korban pun terus dikerahkan, hingga pada Kamis, 4 Oktober 2018 pukul 17:00 kemarin, jumlah korban meninggal akibat gempa dan tsunami sudah mencapai 1558 orang, ada pula113 orang yang hilang, dan 2549 orang luka-luka.

Bencana alam yang kerap terjadi di Indonesia membuat berbagai negara di dunia bersimpati. Setidaknya ada 29 negara asing yang sudah menawarkan bantuan kemanusiaan. Namun pemerintah Indonesia sendiri memilah-milah, negara mana yang ingin menyalurkan bantuannya sesuai dengan prioritas. Sehingga, dari 29 negara hanya 17 negara yang dipilih, yaitu AS, Perancis, Ceko, Swiss, Norwegia, Hungaria, Turki, Uni Eropa, Australia, Korea Selatan, Arab Saudi, Qatar, Selandia Baru, Singapura, Thailand, Jepang, India, dan Tiongkok.

"Beberapa negara yang menawarkan tim SAR dan tenaga medis sudah diputus untuk tidak difasilitasi. Jadi mereka menawarkan tenaga-tenaga SAR untuk mencari korban, tapi tidak sesuai dengan kebutuhan pemerintah Indonesia. Sehingga, tidak difasilitasi. Kita pilah apa yang ditawarkan oleh mereka," ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers yang digelar Rabu, 3 Oktober 2018.

Sutopo mengatakan bahwa bantuan internasional difokuskan hanya untuk transportasi, pengolahan air (water treatment), genset untuk kebutuhan listrik, dan tenda. Untuk masalah anggaran dana, Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan bahwa pihaknya sudah mencairkan sebesar Rp 560 miliar sejak Senin, 1 Oktober 2018 kemarin. Jumlah itu sesuai dengan permintaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). "Yang itu yang saya proses weekend kemarin begitu terjadi, hari Sabtu permintaan kita sudah approve dan proses penganggarannya sedang berjalan sehingga itu kita setujui pada hari sabtu yang lalu," kata Menkeu Sri Mulyani.

Lalu, apa saja yang telah dilakukan pemerintah untuk menanggulangi bencana gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah itu?

Transportasi

Kementerian Perhubungan menyatakan bahwa jalur transportasi dari dan menuju Palu pascagempa mulai terbuka, baik di darat laut maupun udara. Ketua Harian Posko Quick Response Team (QRT) Kemenhub Sugeng Wibowo memastikan bahwa untuk jalur transportasi darat sudah tidak ada kendala. Hal itu sesuai juga dengan hasil laporan dari Dishub Kota Palu.

Jadi, untuk menuju Palu, masyarakat bisa melewati Kota Mamuju ke Donggola, atau dari arah Gorontalo, Poso, dan Pantoloan, sebab daerah itu sudah bisa dilewati. Untuk transportasi udaha, Bandara Mutiara Sis Al-Jufri Palu, Sulawesi Tengah pun sudah mulai beroperasi komersial secara terbatas, sejak 30 September 2018 pukul 08.57 WITA. Namun, operasional bandara masih dibatasi dari pagi sampai sore karena penerbangan masih dilakukan secara visual dan banyak alat-alat di bandara yang rusak terkena gempa.

“Pesawat komersial yang masuk hanya bisa yang baling-baling belum bisa yang jet. Karena ada kerusakan di runway sepanjang 500 meter dari panjang 2.500 meter. Artinya hanya 2000 meter yang aman,” kata Sugeng.

Pengolahan Air

Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) sudah mengirimkan peralatan air bersih dan sanitasi serta tambahan alat berat untuk membantu penanganan tanggap darurat bencana di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah.  Demi menindaki pentingnya ketersediaan air bersih, tim Kementerian PUPR yang terjun ke lapangan telah melakukan survei ke lokasi-lokasi yang berpotensi sebagai sumber air baku untuk para pengungsi.

Sepekan setelah terjadinya tsunami, sudah ada enam lokasi yang akan dibuat sumur bor, serta dua lokasi menggunakan solar cell atau tenaga surya. Selain itu, sumber air permukaan seperti Sungai Palu juga akan digunakan sebagai sumber air baku menggunakan pipa intake di Jembatan Palu 2 dan Jembatan Kasubi.

Di samping peralatan air bersih dari tiga Gudang PUPR di Makassar, Surabaya dan Bekasi juga dikirimkan ke Palu dan Donggala. Peralatan yang dikirimkan antara lain mobil tangki air, mobil intalasi pengolahan air, mobil tinja dan mobil lapangan total sebanyak 35 unit, tenda darurat 34 unit, WC knockdown 49 unit, hidran umum 25 unit, genset 3 unit serta banyak peralatan lainnya.

Kebutuhan Listrik

Pemerintah mengklaim kebutuhan Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik di beberapa wilayah terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah, mulai dipenuhi. Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Ego Syahrial mengatakan, beberapa mobil tangki PT Pertamina mulai tiba di Palu dan Kabupaten Donggala. Adapun soal pasokan listrik, menurutnya PLN telah mengirimkan beberapa genset berkapasitas 0,5 megawatt untuk wilayah terdampak bencana.

Koordinasi dengan PLN dan Pertamina, kata Ego pun berjalan baik, antrean Panjang pembeli BBM di berbagai SPBU pun mulai berkurang. Sejak Senin, 1 Oktober 2018 saja pertamina mulai mendistribusikan 16.000 liter BBM ke Kota Palu dan Kabupaten Donggala yang didatangkan dari Tarakan, Toli-toli, dan Poso.

Kebutuhan Tenda

Kementerian Sosial RI pun juga tak mau ketinggalan memberikan bantuan logistik ke Palu, Sulawesi Tengah. Terbang dengan menggunakan pesawat Hercules pada Jumat, Oktober 2018 pukul 06:00 WIB, pihak Kementerian Sosial membawa bantuan yang dikirimkan berupa tenda gulung atau terpal, tenda serba guna, dan peralatan dapur.

“Yang dibawa prioritas adalah tenda gulung atau terpal, tenda serba guna, peralatan dapur. Bantuan yang dikirim kapasitas 14,5 ton, ” ujar Sekretaris Jenderal Kemensos Hartono Laras dilansir dari Kompas.com pada Jumat, 5 Oktober 2018.

Kemensos sendiri, kata Hartono, masih terus mendata kebutuhan yang diperlukan oleh korban terdampak gempa dan tsunami itu. Makanan, tenda velbed, matras, selimut, dan Kasur menjadi barang yang paling diperlukan dan masih kurang jumlahnya.

“Nanti akan dikirim di titik yang kurang akan bantuan logistik. Kita tetap terus all out sama dengan tim kita yang ada di Palu, Donggala untuk terus memantau barang-barang yang diperlukan.”

Share: Seminggu Setelah Gempa dan Tsunami di Sulawesi Tengah, Apa Saja yang Telah Dilakukan Pemerintah?