Isu Terkini

Heboh Edy Rahmayadi, Seperti Apa Etika Wartawan saat Bertanya?

OlehRamadhan

featured image

Ketua Umum Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI) Edy Rahmayadi jadi sorotan publik saat diwawancarai Kompas TV, Senin, 24 September. Edy tampak kurang nyaman saat ditanyai presenter Aiman Witjaksono lewat satu pertanyaan terkait meninggalnya suporter Persija Jakarta, Haringga Sirila.

Dalam siaran langsung Kompas Petang yang disiarkan Kompas TV kemarin, Edy menjawab sejumlah pertanyaan Aiman terkait tragedi meninggalnya Haringga. Di akhir obrolan, Aiman bertanya soal apakah Edy merasa jabatannya sebagai Gubernur Sumatera Utara mengganggu tugas dan fungsinya sebagai Ketum PSSI.

Lalu, Edy pun menunjukkan wajah kurang nyaman saat menanggapi pertanyaan Aiman. “Apa urusan Anda mempertanyakan itu? Bukan hak Anda bertanya kepada saya. Saya punya hak untuk tak menjawab,” kata Edy kepada Aiman dalam siaran langsung Kompas TV, Senin, 24 September.

Lantas, pernyataan Edy itu pun jadi perbincangan publik, bahkan warganet, terutama di media sosial Twitter, memberikan reaksi beragam. Berdasarkan pantauan Asumsi.co, Senin, 24 September, malam, bahkan muncul tagar #SiapPakEdy yang masuk dalam jajaran trending topic Twitter. Reaksi warganet itu pun bermacam-macam dimulai dari yang serius sampai banyak juga yang menjadikan momen itu sebagai bahan lucu-lucuan.

Lalu, apakah ada yang salah dari pertanyaan Aiman sehingga Edy enggan menjawabnya? Sebenarnya seperti apa sih etika seorang jurnalis atau wartawan saat mengajukan pertanyaan kepada narasumbernya?

Kalian mungkin sudah tak asing lagi melihat atau mendengar seorang jurnalis yang tengah melakukan tugas peliputan terhadap korban bencana, namun justru mengajukan pertanyaan-pertanyaan kurang pantas. Misalnya seperti “Bagaimana perasaan bapak atau ibu terhadap musibah ini?”.

Pertanyaan seperti itu dianggap sangat konyol karena kurangnya simpati terhadap korban. Maka dari itu, jelas seharusnya pertanyaan yang tak layak tersebut tak boleh diajukan kepada narsum. Sayangnya, pertanyaan-pertanyaan serupa masih kerap muncul lantaran demi mendongkrak pemberitaan dan juga demi rating bagus. Fenomena itu terjadi karena seorang jurnalis dinilai kurang menguasai pemahaman mengenai etika dan teknik wawancara atau memang diabaikan.

Sebelum mewawancarai narsum, seorang jurnalis harus melakukan persiapan, terutama harus memahami masalah yang akan ditanyakan. Hal itu sebagai modal jurnalis agar tetap bisa menjaga suasana wawancara tetap fokus dan tidak kehilangan arah. Selain itu juga, hal itu dilakukan agar pendapat, keterangan, dan jawaban yang disampaikan narsum sesuai dengan kebutuhan dan memenuhi rasa ingin tahu dari pembaca/pendengar/pemirsa.

Jurnalis juga harus paham bahwa wawancara yang dilakukannya bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri, editornya, pemimpin redaksi, hingga medianya sekaligus. Lebih dari itu, wawancara tentu untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan para pembaca/pendengar/pemirsa atau masyarakat secara umum. Kemudian, seorang jurnalis juga perlu mengetahui latar belakang atau sifat orang yang akan diwawancarai agar mudah menyesuaikan diri saat berinteraksi. Selain itu penting juga melakukan riset kecil-kecilan mengenai topik yang akan menjadi materi wawancara dan orang yang akan menjadi narasumber.

Selain itu hal-hal teknis lainnya yang harus disiapkan terkait proses wawancara adalah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang terkait dengan masalah yang akan digali dan diajukan. Meski begitu, pertanyaan lain juga bisa dikembangkan saat proses wawancara sedang berlangsung.

Nah, setidaknya terdapat sejumlah etika wawancara yang perlu diperhatikan seorang jurnalis saat berhadapan dengan narsum. Hal-hal mendasar seperti datang tepat waktu, berpenampilan rapi dan sopan, memperkenalkan diri terlebih dulu, sampai obrolan ringan sebelum memulai wawancara, memang harus dikuasai.

Beberapa hal mendasar itu dan banyak lagi hal-hal mendasar lainnya, dilakukan agar saat wawancara dimulai sang jurnalis akan lebih mudah berinteraksi dengan narsum, serta bisa mendapatkan hasil wawancara sesuai target dan harapan. Jangan bertanya dengan gaya bicara, bahasa tubuh dan poin pertanyaan yang bersifat interogatif atau terkesan memojokkan narsum, sehingga membuatnya menjadi tak nyaman. Sekiranya pertanyaan yang diajukan masih dalam konteks wajar, ringan, serta masih bisa dijawab narsum.

Jurnalis juga harus menghindari pertanyaan yang sifatnya menggurui. Dalam konteks ini, jangan pernah menganggap level narsum ada di bawah Anda, begitu juga sebaliknya, tak perlu juga menjadi rendah diri atau merasa lebih bodoh dari narsum

Posisikanlah narsum setara, sehingga proses wawancara pun bisa mengalir dengan baik. Hal itu pun akan berdampak baik sehingga bisa menggali informasi-informasi yang diperlukan.

Kemudian, jurnalis juga harus mendengarkan dengan baik jawaban yang disampaikan narsum. Jangan sampai mengajukan pertanyaan berulang kali yang intinya sama, meski dalam bentuk kalimat yang berbeda. Jika itu terjadi, tentu akan membuat narsum jadi kurang nyaman, sehingga hasil wawancaranya pun jauh dari harapan.

Sang jurnalis boleh saja menyela apabila narsum keluar dari topik yang sedang dibicarakan. Namun, saat menyela pun harus dilakukan dengan sopan, atau disela dengan pertanyaan yang mengarahkan kembali ke topik utama, sehingga Anda pun terkesan pintar dan menguasai masalah. Setelah seluruh pertanyaan selesai diajukan, jangan lupa memberikan kesempatan kepada narsum untuk menjelaskan hal-hal yang mungkin belum ditanyakan. Lalu, usai wawancara, sampaikan ucapan terima kasih kepada narsum.

Hormati permintaan narsum agar tidak mempublikasikan poin jawaban-jawaban yang disampaikannya (off the record) dan hormati juga bila nama, jabatan, atau identitasnya tidak ingin disebut. Dalam konteks ini, yang dilakukan Aiman adalah proses wawancara atau interview, yang merupakan suatu cara mengumpulkan data dengan mengajukan pertanyaan langsung kepada narsum. Dalam hal ini, Aiman berusaha menggali informasi seputar topik meninggalnya suporter Persija sebelum laga Persib vs Persija, dari Edy selaku Ketum PSSI.

Sebagai seorang jurnalis, memang tak ada salahnya Aiman mempertanyakan apa saja kepada Edy selama konteksnya masih seputaran sepakbola dan korban jiwa di baliknya. Apalagi jika merujuk pada poin bahwa setiap pemberitaan media itu bukan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, editor, bos, atau medianya sekalipun, melainkan untuk memenuhi kebutuhan dan keingintahuan masyarakat secara luas. Maka dari itu, pertanyaan Aiman itu justru sangat mewakili keresahan masyarakat atau secara khusus publik sepakbola itu sendiri.

Aiman sebagai seorang jurnalis mengajukan pertanyaan kritis itu berdasarkan apa yang publik butuh yakni informasi yang akurat dan transparan, bukan karena kehendak dan keinginannya sendiri. Lalu, kenapa kemudian pertanyaan itu membuat Edy menjadi tak nyaman dan geram?

Jadi hal yang wajar pula jika Edy sedikit geram dengan pertanyaan Aiman tersebut. Dari sisi Edy sebagai Ketum PSSI, ia tentu kesal jika disinggung soal kapasitasnya yang lain di luar sepakbola, dalam hal ini sebagai Gubernur Sumatera Utara yang juga dibawa-bawa. Namun, melihat kapasitasnya sebagai penyelenggara negara, Edy semestinya bisa sedikit menahan nada bicara, meski di sisi lain Edy juga tentu punya hal untuk menjawab atau pun tidak menjawab sama sekali.

Sekali lagi, karena wartawan berhak menanyakan apapun dalam konteks topik yang masih dalam koridor pembahasan dan yang ditanya (nara sumber) pun berhak menjawab apapun, bahkan tak menjawab sekalipun. Jika dilihat lebih dalam lagi, maksud pertanyaan Aiman pun sudah jelas bahwa ia ingin mengetahui seberapa jauh kesiapan seorang Edy, yang harus membagi fokusnya, baik itu sebagai Ketum PSSI ataupun Gubernur Sumut.

Bagaimanapun juga pertanyaan Aiman itu tentu akan memberikan gambaran seperti apa Edy bisa memimpin PSSI dan Sumut sekaligus dalam waktu yang bersamaan. Suara Aiman, yang tentu juga mewakili suara rakyat yang resah dan penasaran selama ini, ingin memastikan bahwa apakah dengan rangkap jabatan, PSSI bisa dikelola dengan baik? Sesederhana itu.

Lho, apa maksud Aiman menanyakan kapasitas Edy sebagai Gubernur Sumut juga, bukannya itu di luar konteks ya dalam kasus ini? Mungkin akan banyak pula yang bertanya seperti itu.

Tapi, bukankah Aiman justru kritis dan tepat jika melihat sisi lain seperti itu? Publik sepakbola Indonesia kan berharap induk sepakbolanya (PSSI) dan liga sepakbolanya bisa berjalan dengan baik, fokus, aman, maju, dan profesional, betul kan? Lalu, salahkah Aiman memastikan langsung dari ketua PSSI-nya bahwa organisasi yang ia pimpin berjalan baik? Aiman hanya ingin memastikan kok bahwa tugas Pak Edy sebagai Gubernur Sumut sama sekali tak mengganggu tugasnya yang lain dan juga sama pentingnya yakni sebagai Ketum PSSI.

Selebihnya, biar publik yang bisa menilai sendiri, karena Aiman sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang jurnalis dengan baik dan Edy pun sudah menjalankan tugasnya sebagai seorang narsum sebagaimana mestinya.

Sekadar informasi, beberapa etika jurnalis dalam proses wawancara di atas hanya hal-hal penting saja. Untuk detail kode etik jurnalistik secara komprehensif, silahkan klik tautan di bawah ini:

Kode Etik Jurnalistik Aliansi Jurnalis Independen (AJI)

UU Pers Persatuan Wartawan Indonesia

Ramadhan Yahya adalah penulis tetap Asumsi.co.

Share: Heboh Edy Rahmayadi, Seperti Apa Etika Wartawan saat Bertanya?