Budaya Pop

Kroni-Kroni Soeharto, Crazy Rich Asians Ala Orde Baru

OlehHafizh Mulia

featured image

Memipin Indonesia selama lebih dari 30 tahun, Soeharto merupakan seorang presiden yang diketahui memiliki kroni-kroni di sekitarnya. Kroni-kroni ini terdiri dari pebisnis kelas kakap yang tujuan utamanya adalah menjalankan proyek-proyek pembangunan sesuai ‘arahan’ Soeharto. Tak ayal, kroni-kroni ini pun semakin kaya, karena proyek yang seharusnya dibuka ke pasar dengan persaingan yang sehat, diberikan pada kroni-kroni tersebut. Para kroni inilah yang bisa dikatakan sebagai "Crazy Rich Asians ala Orde Baru" dengan total kekayaan yang amat besar. Namun, bagaimana nasib para kroni Soeharto kini? Apakah mereka dan keluarganya tetap berada di puncak perekonomian Indonesia? Atau justru mereka kini menjadi orang-orang biasa saja?

Sudono Salim dan Anthony Salim, Pemilik Merk Dagang Indomie

Ketika berbicara tentang kroni Soeharto, nama yang paling santer terdengar tentu mendiang Sudono Salim dan anaknya, Anthony Salim. Sudono Salim merupakan bagian pertama dari ‘Empat Sekawan’ Soeharto. Ia meninggal di tahun 2012. Di masa lampau, Sudono Salim lah yang memimpin Salim Group. Sebelum turunnya Soeharto dan krisis moneter 1998 terjadi, Sudono Salim pernah menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia. Hutang Salim Group yang mencapai 55 trilyun Rupiah pada zaman Soeharto pun dibayarkan Anthony Salim dengan menjual PT Indocement Tunggal Perkasa, PT BCA, dan PT Indomobil Sukses Internasional.

Meskipun telah menjual ketiga perusahaan tersebut, Anthony Salim, penerus Sudono Salim untuk memimpin Salim Group, tetap memegang kekayaan yang amat besar. Kini, Anthony Salim merupakan pemilik dari PT Indofood Sukses Makmur Tbk dan PT Bogasari Flour Mills. Berdasarkan majalah Forbes tahun 2017, ia masih menempati posisi keempat sebagai orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai 6,9 miliar dollar AS

Bob Hasan, Advokat Gaya Hidup Sehat

Nama Bob Hasan merupakan nama kedua dari bagian ‘empat sekawan’ yang dikenal sebagai kroni Soeharto. Ketika Soeharto menjabat sebagai presiden, Bob Hasan langsung menginisiasikan ekspansi bisnis perkayuan Indonesia, terutama ke wilayah di luar Jawa. Bahkan, di tahun 1970-an, ketika ada perusahaan asing yang ingin masuk ke Indonesia untuk memanen kayu-kayu Indonesia, Bob Hasan lah yang dipilih oleh Soeharto untuk menjadi mitra bisnis perusahaan-perusahaan asing tersebut. Salah satu dari perusahaan tersebut adalah Georgia Pacific. Setelah sukses dengan bisnis perkayuan, Bob Hasan memperluas sektor bisnisnya ke arah keuangan, asuransi, dan otomotif di bawah naungan perusahaan induk Kalimanis. Pada suatu waktu, Kalimanis grup pernah memiliki 2 juta hektar tanah di Kalimantan.

Setelah Soeharto lengser, tuduhan korupsi pun langsung menyelimuti Bob Hasan. Ia didenda 50 miliar Rupiah sebagai ganti rugi yang harus dibayarkan atas tuduhan pembakaran hutan di Sumatera. Di tahun 2001, ia dihukum pidana karena membuat Pemerintah Indonesia rugi sebesar 244 juta Dollar AS. Kerugian ini disebabkan adanya usaha penipuan dalam pemetaan hutan di Jawa pada tahun 1990-an. Dia dipenjara di Cipinang dan Nusa Kambangan dan dibebaskan pada tahun 2004.

Setelah serangkaian hukuman, Bob Hasan yang kini berumur 86 tahun menjadi Ketua Pengurus Besar Pengurus Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI). Sebagai ketua PB PASI, ia juga kini menjadi advokat gaya hidup sehat.  Setiap hari, Bob Hasan berusaha untuk dapat berenang dan bermain golf. Selain itu, ia juga mengurangi asupan nasi dalam gaya hidup sehat yang dilakukannya.

Eka Tjipta Widjaja, Pemilik Sinarmas

Nama ketiga yang juga menjadi bagian dari ‘empat sekawan’ adalah Eka Tjipta Widjaja. Di umur 7 tahun pada tahun 1930, ia merupakan seorang anak kecil yang pindah dari Tiongkok ke Sulawesi. Ia menjadi pemasok kembang ugla dan biskuit di Sulawesi. Dari pengalamannya yang benar-benar merintis dari titik 0, ia pun menjadi pebisnis yang handal di kemudian hari.

Di masa Orde Baru, Eka Tjipta Widjaja telah menjadi pebisnis yang sedang meningkat tajam. Salah satu yang membuat bisnis Eka Tjipta juga terus meroket adalah kedekatannya dengan Soeharto. Ia menyokong bisnis-bisnis yang dilakukan oleh keluarga Soeharto seperti Bimantara Grup. Salah satu gedung yang tercipta sebagai hasil kerja sama antara Eka dan Soeharto adalah Plaza Indonesia.

Ketika Soeharto lengser dan krisis moneter 1998 terjadi, Eka Tjipta Widjaja juga merasakan kerugian yang cukup besar. Ia harus melepas BII dan 39 perusahaan lainnya kepada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN). Namun, setelah berhasil menyelesaikan hutang-hutangnya, nama PT Sinarmas kembali bersinar. Kini, PT Sinarmas bergerak di berbagai sektor, seperti dari telekomunikasi dan teknologi, finansial, dan asuransi. Eka Tjipta Widjaja pun masih bertengger di nomor dua orang terkaya di Indonesia.

Prajogo Pangestu, Mantan Supir Angkot yang Sukses Menjadi Pemilik Perusahaan

Nama terakhir dari ‘empat sekawan’ yang menjadi kroni Soeharto adalah Prajogo Pangestu. Memulai karir sebagai supir angkutan umum di Kalimantan, ia berkenalan dengan pengusaha kayu asal Malaysia bernama Burhan Uray. Pada tahun 1969, ia bergabung dengan Burhan Uray Group. Tujuh tahun kemudian, Burhan memberikan jabatan General Manager (GM) Pabrik Plywood Nusantara di Gresik untuk Prajogo.

Setahun menjadi GM, Prajogo pun membeli perusahaan Pacific Lumber Coy. Prajogo pun mengubah nama perusahaan tersebut menjadi PT Barito Pacific. Bisnisnya pun terus menanjak, seiring tercipta kerja sama antara perusahaannya dengan anak-anak Presiden Soeharto di masa Orde Baru. Barito Grup pun terus memperlebar sektor bisnisnya, seperti ke sektor petrokimia, minyak sawit mentah, dan properti.

Saat ini, Prajogo terus aktif menjadi pebisnis dan mengelola PT Barito Pacific. Ia masih memiliki sekitar 77,1 persen saham Barito Pacific. Pada bulan Juli 2018 kemarin, Barito Pacific juga baru saja mengakuisisi 66.67 persen saham Star Energy melalui mekanisme right issue. Perluasan saham Barito Pacific dalam Star Energy menjadi pertanda masih agresifnya Prajogo sebagai pebisnis.

Arifin Panigoro, Pemilik Medco Group Hingga Kini

Nama lain yang juga cukup tenar sebagai kroni Soeharto adalah Arifin Panigoro. Di bawah kepemimpinan Soeharto, Arifin Panigoro mendirikan perusahaan Medco Energi Internasional di tahun 1980. Perusahaan ini awalnya bergerak di bidang pertambangan. Suksesnya perusahaan pertambangan milik Arifin ini membuat ia melejit menjadi orang dengan kekayaan yang cukup besar di Indonesia kala itu.

Ketika mendekati runtuhnya rezim Orde Baru, Arifin Panigoro dituduh melakukan makar. Ia dituduh datang ke diskusi Pusat Pengkaji Strategi dan Kebijakan (PPSK) di Hotel Radisson, 5 Februari 1998 sebagai perwakilan pengusaha yang mendukung penggulingan Soeharto.

Kini, Arifin Panigoro pun tetap menjadi seorang pebisnis super kaya dengan perusahaan yang berbagai macam. Bahkan, Medco Group kini tidak hanya bergerak di bidang pertambangan. Medco Group juga memiliki perusahaan-perusahaan di sektor Agrobisnis, Konstruksi, Keuangan, Perhotelan, dan Properti. Total aset yang dimiliki Medco Energi pada tahun 2016 ditaksir berada pada kisaran 48,59 triliun Rupiah.

Fahmi Idris, Berdamai di Perkebunan

Nama Fahmi Idris juga menjadi sorotan lain dalam kroni Soeharto. Di tahun 1965-1966, ia menjadi Ketua Senat Fakultas Ekonomi UI. Selepas lulus, bersama teman-teman sesama eksponen 1966, membangun PT Kwarta Daya Pratama. Di tahun 1979, ia memimpin Kongsi Delapan (Kodel) Grup yang merupakan perkumpulan konglomerat seperti Aburizal Bakrie, Soegeng Sarjadi, dan Pontjo Sutowo. Kemudian, di tahun 1980, PT Kwarta Daya Pratama dinilai sebagai salah satu perusahaan tersukses di Indonesia.

Salah satu sektor bisnis yang dikuasai Fahmi Idris kala itu adalah perhotelan. Ia begitu berjaya di sektor ini. Tidak hanya di dalam negeri, Fahmi Idris pun berhasil mendirikan hotel di Beverly Hills, Amerika Serikat, dengan nama Regent Beverly Whilshire.

Selepas Soeharto turun jabatan, nama Fahmi Idris terus melambung tinggi. Tidak hanya menjadi pebisnis, ia pun berkecimpung di dunia politik. Di tahun 1998-2004, Fahmi idris menjabat sebagai ketua DPP Golkar. Ia juga menjadi Menteri Tenaga Kerja di masa kepemimpinan Presiden BJ Habibie. Di masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), ia pernah menjabat di dua jabatan yang berbeda, yaitu menjadi Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan Menteri Perindustrian.

Saat ini, kedua anak Fahmi Idris lah yang terus aktif di sektor bisnis dan perpolitikan Indonesia. Fahira Fahmi Idris kini menjabat sebagai Ketua Himpunan Saudagar Muda Minangkabau sekaligus legislator DPD RI 2014-2019. Sedangkan Fahrina Fahmi Idris menjabat sebagai Ketua Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia. Fahmi Idris sendiri lebih sering menghabiskan hari-harinya dengan bercocok tanam di kebun sayur dekat rumahnya, di daerah Cibodas, Jawa Barat.

Share: Kroni-Kroni Soeharto, Crazy Rich Asians Ala Orde Baru