Isu Terkini

Bagaimana Kabar Korban Gempa Lombok Setelah Status Tanggap Darurat Dicabut?

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Status tanggap darurat penanganan gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat resmi dicabut dan tidak diperpanjang sejak Jumat, 24 Agustus 2018 lalu. Hal itu sesuai dengan keputusan rapat koordinasi di Posko Tanggap Darurat Penanganan Gempa Lombok di Tanjung, Kabupaten Lombok Utara.

Lombok sendiri memang dilanda gempa beratus-ratus kali sejak 29 Juli 2018 kemarin. Bahkan hingga bulan berganti, tepatnya sampai Senin, 10 September 2018, gempa susulan masih terus singgah di pulau seribu masjid itu. Sejak dicabutnya status tanggat darurat penanganan gempa itu, bantuan berupa sembako kini berganti menjadi bahan-bahan bangunan.

Namun, sudah tepatkah status tanggap darurat dicabut? Gratia, salah satu relawan IndonesiaAid yang sempat mengunjungi Lombok pada 2 September 2018 kemarin, membagikan kisahnya pada Asumsi.co.

Asumsi.co: Halo Gratia, gimana sih ceritanya bisa jadi relawan gempa Lombok?

Gratia: Aku dateng bareng organisasi yang namanya Indonesiaiaid.org. Mereka waktu itu sempat nyari volunteer, terus aku sign up aja. Waktu itu aku cuman sampai empat hari ya. Jadi kita berangkat dari Bali, itu jam empat pagi itu di Pelabuhan Padang Bai, tanggal 31 Agustus 2018. Di sana disedian tempat di panti asuhan di Mataram sampai siang, abis itu istirahat dua jam, kemudian kita ke Lombok Timur dan Utara.

Asumsi.co: Gratia sendiri bantu dibagian tim apa?

Gratia: Keseluruhan sih, soalnya kita tenaganya juga terbatas. Kita cuma empat orang (dari Indonesia Aid), dengan dua mobil donasi. Jadi ya ngangkat-ngangkat juga, trus jadi asisten dokter juga, karena emang pendiri organisasinya kan dokter, jadi aku bantu-bantu record medical exam-nya gitu, trus juga yang nyatet report, jadi misalkan kita kunjungan ke camp mana, aku yang nulis nama terus keluhannya apa, terus mereka butuh apa, terus aku yang listing semuanya gitu setiap hari, jadi aku report ke dokternya, jadi setiap kita kunjungan gitu kita akan selalu nanya, ‘kita minggu depan akan dateng lagi, kalian kebutuhannya apa?’. Jadi kita (Indonesia Aid) setiap minggu itu kebutuhannya kebanyakan selalu berubah, jadi kita listing itu sih kebutuhan minggu depan bawanya apa, contohnya sekarang kan lagi masa transisi jadi banyak dari mereka yang minta sembako, saluran airnya dibenerin, kayak gitu-gitu sih, jadi kebutuhannya tuh berubah.

Asumsi.co: ​​​​​​Gimana keadaan Lombok saat kamu ke sana?

Gratia: Di sana kira-kira camp-nya itu ada 500 sampai seribu orang sih. Di sana kita medical exam, jadi ditanyain yang sakit, butuh obat apa, ditensi darahnya, terus kita kasih obat, kalo kita enggak punya obat misal untuk yang darah tinggi, rematik, penyakit-penyakit yang emang obatnya tidak terjual bebas gitu, jadi kita imbau ke mereka untuk cepet-cepet ke rumah sakit, namun karena mereka belum bisa kembali kerja, jadi mereka engga punya duit, jadi kebanyakan dari mereka tuh enggak bisa ke rumah sakit.

Asumsi.co: ​​​​​Tapi di sana rumah sakit masih ada yang kokoh?

Gratia: Masih, di Mataram itu bisa dibilang hampir tidak ada kerusakan. Kalau pun ada, itu retak-retak, setau aku ya, karena kebetulan salah satu tim kita juga sempet pingsan pas lagi bantu-bantu terus kita langsung bawa ke rumah sakit, itu rumah sakitnya aman sih enggak retak enggak apa gitu, kayak normal aja. Jadi di Mataram tuh kayak normal, kayak enggak ada rusaknya. Tapi kalau kita udah ke timur tuh rusak, kalo ke utara itu lebih parah. Di Lombok Utara tuh sekitar dua jam dari Mataram, itu ke atas itu tuh ancur, yang rata gitu, jadi kalo kita jalan pinggir jalan itu kanan kirinya rata, tanah. Jadi bangunannya rata gitu.

Asumsi.co: ​​​​​Benar enggak sih, kalau pengambilan barang bantuan di Pos Indonesia itu rumit?

Gratia: Ini yang kita denger dari berita dan dari penduduk setempat ya, jadi kalau kata mereka bantuan itu numpuk dari kantor pos Mataram, kalau engga salah, yang aku denger terakhir itu ada 25 ton apa berapa ya, banyak dan itu diaksesnya susah, tapi bukan salah kantor posnya juga, bantuan itu kan disortir, nah mereka mungkin karena sangking banyaknya, waktu untuk sortirnya tuh susah, udah gitu bantuan yang ada alamat tujuannya enggak bisa diambil sama siapapun kecuali si penerima resi. Aku pun enggak liat sendiri ke kantor posnya.

Asumsi.co: Gimana dengan makanan para korban, apa benar cerita tentang korban gempa yang cuman makan mie instan dan akhirnya sakit?

Gratia: Memang waktu awal-awal bencana orang itu otomatisnya kepikiran ‘oh Indomie aja’, gitu, gampang jadi memang stok Indomie tuh banyak banget. Waktu itu ada relawan yang ngasih report ke kita tapi kita enggak ke desa itu. Jadi dia bilang, kalau di sana itu ada yang makan indomie setiap hari sampe akhirnya diare. Itu menurut orang yang relawan tadi, itu pun kita kan enggak liat lokasinya ya jadi kita enggak tahu itu bener apa enggak.

Asumsi.co: Apa enggak ada yang ngasih makanan selain mie instan?

Gratia: Bantuan kan banyak dari personal, terus dari pemerintah. Itu aku lihat kok. Maksudnya, mereka enggak bawa Indomie aja, kayak sayur itu ada. Kita sendiri beli sayur di pasar di Mataram, malah pas pengurusnya itu ke pasar sama relawan, terus di sana pas lagi di pasar kita beli, entah memang murah atau memang dimurahkan, contohnya wortel satu tas plastik besar itu cuman 10 ribu apa 20 ribu gitu, terus pas kita lagi beli-beli gitu, pedagangnya tau kalau itu untuk pengungsi, ‘Ya udah nih ambil aja sekarung buncis’, terus dikasih gratis.

Asumsi.co: Di sana proses jual beli berarti masih berjalan, ya?

Gratia: Di Mataram masih lancar. Di Mataram toko-toko buka, rumah sakit buka, kantor buka, masih kayak seperti normal. Jadi waktu itu kita berangkat dari Bali, bawa bantuan terus di drop-in ke timur, abis itu karena mobilnya masih ada space lagi nih. Kita masukin lagi sayur, trus kita ke utara, terus di utara dikosongin semua mobilnya.

Asumsi.co: Bagaiamana sih kehadiran pemerintah dari kacamata kamu sebagai relawan yang sudah pernah ke sana?

Gratia: Menurut aku pemerintah cukup peduli kok. Memang, waktu di Mataram itu ada salah satu relawan yang sempet bilang, ‘Oh iya pemerintah enggak mau bantuin’, pokokonya kayak jelek banget gitu pemerintah. Tapi kalau kita ke utara, ke daerah-daerah timur itu banyak kok camp yang dari BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Nasional), kan warna (tendanya) orange gitu ya jadi keliatan aja, setiap kita jalan pasti ada gitu. Terus mobil-mobil polisi, truk-truk polisi dan TNI itu bolak balik, maksudnya kita selalu pas-pasan. Jadi menurut aku pemerintah udah standby di sana, cuman mungkin namanya bencana jadi kayak enggak bisa sekaligus dibenerin gitu.

Asumsi.co: Kehadiran pemerintah emangnya ada di berbagai daerah di Lombok?

Gratia: Yang paling banyak aku liat sih di bagian utara. Di utara paling kan emang paling parah. Kedua terparah itu timur, terus Mataram. Di Mataram emang aku enggak liat sama sekali (kehadiran pemerintah) karena memang enggak ada yang hancur sih selama aku yang lewat-lewat situ.

Asumsi.co: Sekarang kan sudah masa transisi, di sana apa memang udah mulai bangun-bangun rumah gitu, ya?

Gratia: Udah sih, waktu kunjungan terakhir itu ke rumah orang, bukan ke posko, di situ dia udah bangun rumah sementara, rumah sementaranya udah jadi, terus kayak saluran airnya kita udah ngasih uang untuk bangun. Tapi, dilemanya itu karena tanggap darurat sudah dicabut. Jadi banyak organisasi atau perorangan itu bantuannya udah enggak dikirim lagi, karena merasa ‘Oh Lombok udah enggak tanggap darurat nih,’ jadi mereka enggak kirim sembako lagi. Sedangkan mereka itu masih butuh, karena mereka lagi sibuk bangun rumah kan, jadi enggak sempet kerja. Jadi butuh sumber makanan itu sih.

Asumsi.co: Lalu, apa nih kesan kamu setelah dari Lombok?

Gratia: Hmm, apa ya, yang jelas mereka (para korban gempa Lombok) masih butuh bantuan tenaga. Jadi aku encourage yang lain untuk dateng sih. Maksudnya ganti-gantian lah, aku kan kerja, aku enggak bisa tiap weekend ke sana. Jadi, kalau misalkan ada orang yang emang ada waktunya menurut aku lebih baik ngasih bantuan tenaga dan uang sih, karena memang lebih jauh berguna.

Share: Bagaimana Kabar Korban Gempa Lombok Setelah Status Tanggap Darurat Dicabut?