Isu Terkini

The Unmentioned Heroes: Susah Sinyal di Media Center Asian Games 2018 Bukanlah Masalah Karena Mereka

OlehRamadhan

featured

Akses jaringan internet sudah seperti ‘nyawa’ bagi sebagian besar masyarakat di seluruh dunia yang hidup di era serba digital saat ini. Internet pula lah yang berhasil menghidupkan perhelatan Asian Games 2018 yang berujung sukses.

Ada peran orang-orang yang bekerja dalam senyap dan tak tersorot publik dalam memastikan sinyal internet bisa stabil di ruangan Media Press Center (MPC) Asian Games 2018 yang berlokasi di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Jakarta. Di sana lah, ratusan jurnalis dari berbagai negara Asia bekerja.

Adalah Tim Orange, dari Telkom Indonesia, yang memastikan dan menjamin supply jaringan internet di ruangan media tersebut bisa tetap terkoneksi dengan baik dan lancar. Berbagai kendala terkait koneksi internet siap diselesaikan dengan cepat oleh Tim Orange ini.

Mereka memang tak mendapatkan medali seperti para atlet yang berjuang, namun kerja mereka di belakang layar untuk mensukseskan Asian Games 2018 patut diapresiasi setinggi langit. Mereka bekerja dengan determinasi tinggi meski tak banyak yang tau.

Tentu banyak tantangan yang mereka hadapi selama menjalankan tugas menjaga koneksi internet. Apalagi dengan sedikitnya waktu, mereka harus meng-cover banyaknya venue untuk memastikan layanan internet dan komunikasi data terdistribusi dengan baik.

Komposisi Jaringan Internet di Ruangan Media

Dari total 40 venue, sebanyak 26 venue ada di Jakarta, 8 di Jawa Barat dan 6 di Palembang, akses internet tentu harus tetap online. Taukah kalian bahwa kecepatan yang bisa didapatkan di dalam ruangan media tersebut mencapai 900 Mbps lebih, yang bisa digunakan untuk kebutuhan upload maupun download.

Sepanjang gelaran Asian Games 2018, tersedia tak kurang dari 100 PC, 521 Access Point (AP) internet WiFi di lingkungan GBK, 283 AP di venue di luar GBK (Jakarta dan Jawa Barat), dan 137 AP untuk venue di Palembang.

Tak hanya itu saja, ada juga ribuan meter kabel serat optik dan UTP untuk menyalurkan ratusan Gbps Bandwidth internet selama pesta olahraga terbesar se-Asia tersebut berlangsung dari hari pertama penyelenggaraan pada 18 Agustus sampai penutupan pada 2 September.

Akses internet di ruangan media tersebut dimanfaatkan oleh kurang lebih 5000 jurnalis dari dari seluruh negara peserta Asian Games dan negara-negara peninjau. Mereka berkumpul, menulis berita, dan mengabarkannya ke negara masing-masing tentang progres kontingen mereka masing-masing.

Baca Juga: The Unmentioned Heroes: Cerita Dari Balik Dapur Asian Games 2018

Seperti apa sih kerja-kerja di balik layar yang dilakukan Tim Orange untuk memastikan jaringan internet selama gelaran Asian Games 2018 kemarin bisa dimanfaatkan awak media dengan lancar dan stabil? Asumsi.co berbincang dengan salah satu anggota Tim Orange, Aninditya Wahyu Adi.

Sistem Kerja dan Pembagian Jaringan Internet di Ruang Media

Saat event Asian Games 2018 berlangsung, Adi dan rekan-rekannya di Tim Orange selalu stand by. Dalam situasi harap-harap cemas, mereka memastikan agar layanan internet yang menjadi ujung tombak bagi seluruh awak media tidak mengalami gangguan.

Pasalnya, akses internet tersebut menjadi senjata utama yang dibutuhkan jurnalis dari negara-negara Asia untuk mengabarkan kejadian-kejadian penting selama Asian Games ke seluruh belahan dunia dalam hitungan detik.

Tim Orange ini sendiri merupakan LO (Licence Officer) sekaligus helper ketika para jurnalis ini mengalami masalah koneksi internet. Mereka yang tergabung di Tim Orange adalah para Gen-Y di Telkom Indonesia yang bertugas dari pagi sampai malam dalam dua shift.

Tim Orange sendiri setiap harinya dibagi menjadi dua shift. Shift pertamanya sendiri mulai bekerja dari jam 7 pagi sampai jam 3 sore. Lalu, shift kedua akan mulai bekerja dari jam 3 sore sampai jam 10 malam.

“Jam 10 malam kita stop karena masalahnya kita manusia juga kan, butuh istirahat. Walaupun teman-teman wartawan juga kadang-kadang masih stand by dan ada yang masih bekerja sampai jam 12 malam di ruang Media Press Center itu,” kata Adi kepada Asumsi.co, Kamis, 6 September.

“Saya kan di Telkom Indonesia, sebenarnya kita di Media Press Center Asian Games 2018 itu provide akses internet itu ada tiga paket, pake Wifi, kabel LAN, sama ada PC yang disediakan di situ juga.”

Adi bercerita bahwa mereka sempat menghadapi kendala ringan di hari-hari pertama penyelenggaraan Asian Games 2018. Di samping memang jumlah PC yang terbatas di ruangan tersebut, kendala lainnya adalah soal jaringan.

“Jadi kita juga punya dua frekuensi yakni 2,4 Gigahertz (GHz) dan 5,8 GHz. Nah, frekuensi yang 2,4 GHz itu bermasalah dan ternyata di situ teman-teman wartawan itu transfer datanya pakai Wifi mereka sendiri. Nah jadi efeknya internet kita yang frekuensi 2,4 GHz itu enggak bisa jalan optimal.”

Tentunya Tim Orange ini tak sendiri, mereka ditemani dan dibantu tim teknis yang jumlahnya puluhan. Tim teknis ini juga bertugas menjamin performa internet di lokasi agar broadcast ke seluruh dunia tak ada masalah.

“Akhirnya keputusan dari Tim Engineering-nya juga memutuskan frekuensi yang 2,4 GHz dimatikan saja dan pakai frekuensi yang 5,8 GHz saja. Nah, frekuensi internet 2,4 GHz itu sendiri hanya sempat dipakai dua hari pertama saja,” ujar Adi.

Selama dua hari pertama itu, frekuensi internet 2,4 GHz itu sempat sudah berjalan namun akhirnya dimatikan lantaran kondisinya benar-benar tak stabil di customer device-nya.

Baca Juga: The Unmentioned Heroes: Kisah Mengesankan Dari Dua 'Volunteer' Asian Games 2018

Hal itu tak terlepas juga dari teman-teman wartawan yang rata-rata itu device laptopnya kurang support untuk frekuensi 2,4 GHz. Namun, efeknya adalah jadi banyak yang bertanya-tanya kenapa frekuensi tersebut dimatikan.

“Karena sebelumnya kan ada beberapa wartawan yang pakai frekuensi 2,4 GHz, kok tiba-tiba jadi enggak bisa dipakai nih. Tapi akhirnya tim kita Tim Orange ini, benar-benar harus mengawal agar teman-teman wartawan itu tetap bisa pakai koneksi internet, jadi kita solusikan.”

“Kalau misalkan mereka bawa laptop dan laptopnya ada port LAN-nya, ya sudah kita colokin kabel LAN. Lalu, kalau misalnya kebetulan Wifi-nya enggak support dan LAN-nya juga enggak bisa, nah itu kita pinjamkan USB dengan Wifi yang support 5 GHz.”

Kendala Bahasa Saat Hadapi Jurnalis Asing

Terlibat di event akbar sekelas Asian Games yang melibatkan seluruh negara-negara di Asia tentu akan banyak tantangan yang dihadapi. Salah satu kendala yang dihadapi Tim Orange sendiri adalah soal komunikasi bahasa.

Anggota Tim Orange ini lebih sering kesulitan membangun komunikasi dengan jurnalis-jurnalis asing yang tak terlalu lancar berbicara bahasa Inggris. Maka dari itu, demi mendapatkan solusi terbaik, Tim Orange menggunakan bahasa tubuh.

“Yang paling berat sih soal kendala bahasa ya untuk jurnalis asing luar negeri. Jurnalis luar negeri itu tidak semuanya bisa berbahasa Inggris dengan baik dan lancar, walaupun tim kita juga dipersiapkan bisa berbahasa Inggris, tapi kita kaget juga kan,” kata Adi.

“Kayak teman-teman wartawan dari pecahan negara-negara Uni Soviet. Nah mereka itu bahasa Inggris-nya agak sulit gitu, mungkin kalau baca itu bisa, tapi kalau kita ajak ngobrol itu mereka enggak bisa dan seringkali bilang “I don’t understanding”. Solusinya ya udah kita pakai bahasa tubuh atau isyarat aja".

Tak hanya itu saja, lanjut Adi, jika memang akhirnya mereka kesulitan menemukan kesimpulan saat berkomunikasi dengan jurnalis asing itu, maka satu-satunya jalan terakhir adalah menggunakan bantuan google translate.

Selain kendala bahasa dari jurnalis asing, ternyata kendala bahasa lain yang dihadapi Tim Orange adalah bahasa asing di gadget. Ada sebagian jurnalis yang tak menggunakan bahasa Inggris di menu gadgetnya sehingga sempat bikin sulit.

“Masalah kedua itu bahasa yang digunakan di perangkat gadget hape atau laptopnya. Itu kan tulisannya juga belum tentu tulisan latin ya, nah itu juga kadang-kadang bikin kita sedikit bingung menyelesaikan masalahnya seperti apa.”

View this post on Instagram

A post shared by Aninditya Adi (@anindityaadi) on Aug 30, 2018 at 6:37am PDT

Untuk kendala satu ini, memang agak rumit namun tetap ada jalan keluar yang berhasil ditemukan Tim Orange. Adi mengatakan bahwa mereka tetap akan berusaha mencari solusi terbaik.

“Kita coba dulu sebisa mungkin karena biasanya kan kalau menu di hape itu kan kita sudah familiar apalagi soal koneksinya, kadang-kadang juga kalau enggak bisa diselesaikan ya kita juga minta maaf.”

“Menurut kita kalau masalah kendala bahasa itu sudah paling berat lah.”

Selain kendala bahasa, Tim Orange juga menghadapi kendala-kendala lain yang sifatnya lebih teknis. Misalnya saja terkait laptop milik jurnalis yang ternyata tak bisa terkoneksi dengan jaringan internet.

“Ada case cukup unik juga sih kemarin itu kita nemuin itu waktu ada yang punya laptop tapi bukan pake windows atau mac gitu. Nah itu memang di luar dugaan kita ya, kalau enggak salah ada dua orang yang seperti itu.”

Namun akhirnya, Adi menjelaskan bahwa mereka dibantu sama teman-teman dari tim teknis yang meng-handle IP statis lantaran perbedaan jaringan dan koneksi jaringannya itu sendiri.

“Saya pernah nemuin ada satu orang yang pake Chrome OS kalau enggak salah, dia connect ke Wifi tapi tidak bisa browsing.”

“Terus ada lagi kalau enggak salah itu yang pake OS lama ya beberapa kali jadi dia pakai Wifi enggak bisa, pakai LAN bisa tapi mati terus, ya sudah akhirnya sama teman-teman teknis akhirnya dibikinkan IP yang statik gitu, jadi khusus buat yang case kayak gitu.”

Bekerja Media Press Center Seperti Keliling Dunia

Adi sendiri merasa sangat bangga dengan perannya yang ikut serta menyukseskan perhelatan Asian Games 2018 kemarin. Menurut Adi, ia baru pertama kali berhadapan langsung dengan para jurnalis yang bekerja sangat on time.

“Sebenarnya saya sendiri sih sudah biasa handle dan berkomunikasi dengan orang luar tapi baru kali ini kita bertemu dengan wartawan yang kerjanya tuh benar-benar on time, deadliner,” kata Adi.

Bisa berhadapan dan berkomunikasi secara langsung dengan jurnalis-jurnalis dari negara lain tentu jadi pengalaman berharga bagi Adi. Ia pun mengakui timnya benar-benar harus bekerja rapi dan teliti karena tak ingin mengganggu kerja para jurnalis di ruangan tersebut.

“Kita juga sering hati-hati kalau mau komunikasi dengan wartawan, sambil kita lihat-lihat dulu kira-kira terganggu enggak nih wartawannya kalau kita betulkan dulu (jaringannya).”

“Terakhir sih, saya baru merasa kali ini benar-benar seperti Media Press Center itu kayak dunia gitu, ya kayak keliling dunia aja. Di sudut tertentu bertemu dengan wartawan dari mana dan di sudut yang lain bertemu orang yang berbeda negara lagi.”

Share: The Unmentioned Heroes: Susah Sinyal di Media Center Asian Games 2018 Bukanlah Masalah Karena Mereka