Isu Terkini

‘Miskin’ Sinyal Internet di Nabire Papua Bikin Mati Gaya

OlehRamadhan

featured

Jaringan internet jadi sesuatu yang langka hampir di berbagai wilayah Papua. Jangankan sinyal internet, keberadaan jaringan telepon di pulau yang terkenal karena keindahan alamnya itu, masih naik turun, kadang stabil dan kadang hilang.

Kondisi itulah yang langsung dirasakan saya saat berkunjung ke Kabupaten Nabire, Papua, selama beberapa hari, pada Jumat, 31 Agustus 2018 lalu. Di Nabire, sinyal internet seperti barang mewah.

Saat mendarat di Bandara Douw Aturure, Nabire, koneksi sinyal internet pun mulai buruk dan sama sekali tak stabil. Mengirim pesan WhatsApp saja, saya harus menunggu beberapa menit sampai pesan yang tadinya pending lama, jadi benar-benar tercentang dan sampai ke penerima.

Sebagai seorang jurnalis, situasi ini tentu sangat tak nyaman bagi saya yang aktivitas sehari-harinya tak bisa jauh dari akses internet. Baik itu untuk kebutuhan mengirim berita, membuka email, maupun sekedar browsing untuk mencari data sebagai bahan riset.

Di era serba digital seperti sekarang ini, akses internet memang sudah seperti nyawa bagi pekerja-pekerja yang selalu berurusan dengan dunia maya. Tersendatnya jaringan internet tentu membuat koordinasi jadi lamban dan kemungkinan untuk ketinggalan informasi pun jadi besar.

Setibanya di penginapan yang berada di Kabupaten Nabire, kira-kira 10 menit dari Bandara Douw Aturure, harapan akan munculnya sinyal internet yang stabil pun pupus. Meski sudah berada di kawasan pusat kota, tetap saja koneksi internet di smartphone saya benar-benar mati suri.

Baca Juga: BPH Migas dan Upaya Percepatan Penerapan BBM Satu Harga Lewat Sub Penyalur di Papua

Memang, satu-satunya jaringan provider internet yang tersedia di Nabire adalah Telkomsel saja. Bagi para pengguna jaringan-jaringan lainnya seperti Indosat, 3, sampai XL, jangan terlalu berharap akan ada akses internet dari masing-masing provider tersebut.

Jaringan Tri sama sekali tak ada dan blank total. Sementara untuk jaringan internet XL dan Indosat sendiri, katanya ada di beberapa tempat, namun itu juga belum merata. Yang jelas, di luar Telkomsel, jaringan provider lain tak tersedia.

Sekadar informasi, sebenarnya akses internet Telkomsel di Nabire sendiri sudah mencapai jaringan 4G di layar smartphone saya. Hanya saja, saat mencoba untuk browsing, halaman pencarian pun hanya berputar-putar saja dan tak bisa dibuka sama sekali.

Meski akses jaringan internet Telkomsel sangat buruk, sebenarnya saya sempat senang dan sedikit bernapas lega lantaran berpikir akan ada jaringan cepat Wifi di hotel saya menginap. Sayangnya, jaringan Wifi juga tak terlalu membantu dan aksesnya pun lamban.

Jaringan internet Wifi di hotel tersebut hanya mudah diakses di sekitaran area resepsionis saja dan itupun belum tentu stabil. Sementara saat berpindah ke kamar, jaringan Wifi sama sekali hilang. Bagaimana dengan Telkomsel? Habis juga.

“Iya sinyal internet di Nabire ini memang susah sekali, saya selalu kesal kalau mau buka internet tapi tak bisa. Mau baca-baca berita pun jadi susah sekali. Saya pakai Telkomsel, jaringannya ada tapi susah diakses,” kata Gerry, salah satu resepsionis hotel tempat saya menginap di Nabire, Sabtu, 1 September.

Keberadaan Telkomsel sebagai provider internet utama di Nabire pun seolah tak bisa dimaksimalkan oleh masyarakat sekitar. Bahkan, Gerry sendiri mengakui bahwa untuk sekedar mengirim pesan singkat lewat WhatsApp saja masih sulit.

“Mau kirim-kirim pesan lewat WhatsApp saja susahnya minta ampun. Saya kirim pesan jam 8 pagi, nanti baru dibaca jam 9 pagi, lalu dibalasnya jam 10,” ujar Gerry sembari tertawa.

Pada akhirnya memang untuk mendapatkan sinyal, baik itu sinyal telepon ataupun internet untuk berkomunikasi di sana benar-benar tak semudah membalikkan telapak tangan. Meski Telkomsel sudah menyajikan koneksi internet dengan jaringan 4G, namun hal itu tidak bekerja maksimal.

Menurut penuturan Gerry, memang sinyal internet Telkomsel sendiri hanya akan stabil di area tertentu saja. Jadi, jika memang ingin mendapatkan akses internet yang lumayan, maka harus berjalan jauh dulu ke beberapa tempat yang memiliki sinyal bagus.

Memang kebutuhan akan sinyal internet ini sebenarnya bisa sedikit diakali dengan mengubah akses jaringan. Saya sendiri mencoba mengubah jenis jaringan yang dianjurkan dari all broadband menjadi salah satu jaringan yakni 3G dan 2G.

Baca Juga: Air Terjun Bihewa Nabire, Potensi di Tengah Keterbatasan Infrastruktur

Namun, lagi-lagi hal itu juga tak terlalu membantu saya yang butuh jaringan cepat untuk kebutuhan penulisan berita. Hanya akses telepon dan pesan singkat SMS saja yang sejauh itu bisa saja maksimalkan untuk berkomunikasi.

Beruntungnya, saya masih sempat mendapatkan jaringan internet Telkomsel yang stabil di beberapa kesempatan. Setelah menunggu beberapa waktu untuk memposting naskah tulisan ke web dan email, akhirnya saya bisa menyelesaikan tugas dengan rasa was-was.

Terkait sinyal internet yang benar-benar buruk di Nabire ini, saya coba berbincang dengan Pengamat Teknologi Informasi dari Indonesia Information and Communication Technology (ICT) Heru Sutadi, saat saya sudah tiba di Jakarta pada Senin, 3 September kemarin.

Heri mengatakan memang jaringan telekomunikasi di daerah terpencil seperti di Papua masih belum stabil dan kurang perhatian. Walaupun pemerintah sering mengatakan akan membangun jaringan yang kuat, namun hal itu masih jauh dari harapan.

“Memang soal jaringan telekomunikasi masih jadi persoalan. Pemerintah kan selalu mengatakan sudah dibangun tapi memang ternyata indah kabar dari rupa,” kata Heru.

Soal kurangnya perhatian terhadap akses jaringan internet di Papua, terutama Nabire, lanjut Heru, memang masih dianggap sebagai masalah kecil. Sayangnya, masalah kecil tersebut justru genting bagi sebagai masyarakat yang menggantungkan pekerjaannya dengan akses internet.

“Ini karena kita anggap semua ini masalah biasa sehingga diselesaikan dengan cara biasa. Padahal harus ada percepatan (penerapan jaringan internet cepat),” ucap Heru.

Heru pun memberikan saran agar daerah-daerah terpencil seperti Papua memang harus mendapatkan perhatian yang lebih besar perihal akses jaringan internet ini. Apalagi, Papua kerap dianggap sebagai daerah tertinggal lantaran jauh dari Pulau Jawa, yang dinilai sebagai pusat dari segala informasi.

“Memang harus ada rencana terstruktur, dicek ke lapangan, bangun dengan akses memadai dan kecepatan sesuai kebutuhan,” ujarnya.

Sebetulnya, akses jaringan internet yang masih terbatas di Papua, khususnya Nabire ini, masih bisa dimaklumi. Apalagi jika melihat posisi Papua yang memiliki letak geografis dan medan yang terjal seperti pegunungan, laut, dan hutan belantara.

Hal itu tentu menyulitkan banyak pihak untuk mempercepat pembangunan dan pemerataan jaringan. Namun, itu justru jadi tantangan tersendiri bagi pemerintah jika ingin memaksimalkan potensi besar Papua terutama dari sektor pariwisata.

Dengan akses jaringan internet yang cepat, tentu stakeholder dan banyak pekerja di sektor digital akan lebih mudah untuk berinteraksi dengan dunia luar. Segala macam bentuk promosi pariwisata Papua yang terkenal surga itu pun akan mudah dilakukan.

Share: ‘Miskin’ Sinyal Internet di Nabire Papua Bikin Mati Gaya