Isu Terkini

Air Terjun Bihewa Nabire, Potensi di Tengah Keterbatasan Infrastruktur

OlehRamadhan

featured

Terletak di pulau yang memang terkenal dengan keindahan dan kekayaan alamnya, Nabire juga dianugerahi alam yang menawan. Deretan pegunungan dan pemandangan hijau memanjakan tiap pasang mata di sepanjang perjalanan, dari satu sudut ke sudut lainnya. Mengingat keelokannya, kabupaten kecil di Teluk Cendrawasih, Provinsi Papua, ini tak lepas dari potensi wisata alam yang menawan.

Adalah air terjun Bihewa yang menjadi air terjun paling tinggi dan memesona. Air terjun ini berada di Distrik Makimi, Nabire, Papua. Kabarnya, ketinggian Bihewa mencapai 40 meter dan memiliki beberapa tingkatan.

Pesona ala mini ternyata baru ditemukan dua tahun lalu, tepatnya tahun 2016. Warga lokal sendiri yang menemukan air terjun ini yang kemudian dipantau oleh perwakilan Dinas Pariwisata Nabire selama dua hari. Tepatnya Maret 2016 lalu, air terjun raksasa di hulu Sungai Bihewa berhasil ditemukan dan ditetapkan sebagai salah satu wisata alam di sana, di tengah hutan belantara Nabire yang luas dan lebat.

Dengan harapan adanya peningkatan wisatawan yang mengunjungi Nabire, khususnya air terjun Bihewa, Pemkab setempat terus mengembangkan lokasi ini. Namun, ketika perwakilan Asumsi.co datang ke sana, ditemukan beberapa catatan terkait tujuan wisata ini.

Jauh dari Pusat Kota Nabire dan Terjalnya Jalanan

Trek menuju lokasi air terjun lumayan menantang bagi siapapun yang baru pertama kali ke sana. Jika lancar dan tanpa istirahat berlama-lama, sebenarnya waktu tempuh yang dibutuhkan hanya sekitar dua hingga dua setengah jam dari pusat kota Nabire.

Kru Asumsi.co yang berkesempatan mendatangi Bihawe sendiri sempat mengalami kendala karena hujan yang membasahi seluruh wilayah Nabire pada 1 September kemarin. Titik perjalanan kala itu dimulai dari sebuah penginapan yang sangat dekat Bandara Douw Aturure, Nabire. Karena berangkat dari pusat kota, durasi tempuh benar-benar memakan waktu dua setengah jam disebabkan letak Bihawe yang berada di perbatasan Nabire. Satu hal yang perlu dicatat, sebagian besar jalan yang dilalui sudah diaspal dan cukup lebar, walau ada beberapa daerah yang masih terdiri dari bebatuan.

Papan pemberitahuan yang berisi pesan agar masyarakat bisa menjaga kelestarian alam di air terjun Bihewa, Nabire, Papua, Sabtu, 1 September 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Seperti yang sudah ditulis pada pembukaan artikel ini, pandangan mata sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan hijau dari terdiri dari perbukitan yang masih asri. Tak lupa, juga ada banyak pohon-pohon yang rimbun daunnya.

​Bisa dibilang, mata benar-benar dimanjakan oleh eloknya alam sekitar. Sebab, bangunan rumah warga masih jarang terlihat. Hanyalah beberapa titik jalan yang terdapat rumah penduduk di tengah senyapnya suasana.

Sesekali, di pinggir jalan terdapat pasar tumpah warga yang relative kecil. Pasar-pasar tumpah ini kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari, seperti sayuran dan buah. Dari hasil pandangan sekilas, interaksi warga dalam proses jual beli itu masih mirip dengan suasana pasar tradisional di masa lampau. Buktinya, masih terlihat pembeli-pembeli yang menggunakan karung untuk membawa hasil belian mereka, dan ini masih menjadi kebiasaan keseharian mereka.

Untuk medan perjalanan menuju air terjun ini sendiri memberikan kesan tersendiri. Ekspedisi ini boleh dibilang cukup ekstrem dan terjal. Meski jalanan sebagian besar sudah diaspal, tikungan yang sangat tajam dan cukup menegangkan masih ditemui. Di sisi kiri dan kanan mobil pun masih ditemui hutan-hutan belantara.

Setelah menempuh waktu kurang lebih satu setengah jam perjalanan melewati jalan aspal, tiba waktunya rombongan kami melewati jalan bebatuan dan belum diaspal. Ini jadi salah satu jalan yang paling menyeramkan. Bukan hanya berbatu, jalanan ini juga dikelilingi jurang yang cukup dalam di tiap sisi kiri dan kanannya. Tanjakan-tanjakan yang mengundang adrenalin juga harus ditemui. Apalagi, saat itu hari sedang hujan dan kondisi jalanan bebatuan tersebut semakin ekstrem lantaran licin dan berpotensi longsor.

Salah satu ruas jalan menuju air terjun Bihewa, Nabire, Papua, Sabtu, 1 September 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Alhasil, momen mengerikan pun sempat dihadapi. Dari lima mobil yang berjalan beriringan, mobil yang ditumpangi kru Ada salah satu momen mengerikan yang langsung dijumpai saat hendak melewati jalanan menanjak bebatuan saat kondisi hujan. Dari lima mobil rombongan yang hendak menanjak, hanya mobil yang ditumpangi kru Asumsi.co yang membutuhkan waktu ekstra untuk menanjak. Pasalnya, roda mobil tersebut tidak menggunakan roda mobil special off-road.

Beruntung, sang supir paham medan jalanan terjal, sehingga mobil kami berhasil naik ke atas jalan bebatuan itu pada percobaan kedua. Namun, jalanan terjal tak serta merta selesai, masih banyak lagi jalan curam dan licin sebelum benar-benar mencapai air terjun Bihewa.

Lelah Terbayar ‘Surga’ di Air Terjun Bihewa

Ternyata tantangan yang dihadapi tak seberapa dibanding indahnya air terjun Bihawe. Air terjun tersebut bagaikan surga di pinggiran suatu kabupaten yang tidak begitu banyak dikunjungi wisatawan. Ditambah lagi, waktu yang mendekati petang hari membuat pengunjung sudah beranjak pergi dari situ.

“Air terjun ini ditemukan sekitar awal 2016 lalu oleh warga sekitar dan pemerintah. Memang sepi dan belum banyak orang yang kesini, tapi air terjunnya memang indah sekali toh,” kata seorang warga yang lewat di sekitar air terjun Bihewa, Nabire, Papua, kepada Asumsi.co, Sabtu, 1 September 2018.

Konon, air terjun ini memiliki tujuh tingkatan yang beragam. Banyak wisatawan yang ingin sampai di puncak air terjun Bihewa, namun tak ada yang bisa mencapainya karena medan yang terjal sehingga membutuhkan keahlian khusus dan tingkat kehati-hatian yang tinggi.

Saat itu, kru Asumsi.co beserta beberapa orang yang pergi bersama hanya berhasil mencapai tingkatan kedua dan ketiga. Konon, tingkatan ini masih termasuk tingkatan terrendah. Padahal untuk sampai tingkatan ini, jalanan yang harus dilalui tidaklah mudah. Bebatuan tak beraturan  dan banyaknya pohon besar menjadi tantangan tersendiri.

Merekam momen jatuhnya air terjun Bihewa Nabire di Papua jadi salah satu hal yang wajib dilakukan, Sabtu, 1 September 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Meski hanya singgah beberapa menit karena matahari yang hampir turun, kepuasan tetap dirasakan. Dalam waktu singkat itu, segarnya udara sekitar dan dinginnya air tetap bisa dirasakan dan sulit dilupakan. Ini menjadi saat-saat yang membuktikan bahwa Papua memang ‘surganya’ pesona alam Indonesia.

Menurut informasi tambahan yang diterima, semakin tinggi kita naik ke air terjun tersebut, makin rendah suhu udara di sana. Padahal di tingkatan kedua dan ketiga saja udaranya sudah cukup dingin dan menusuk tulang.

Sayang, Infrastruktur Masih Kurang

Air terjun Bihewa di Nabire ini benar-benar potensial dan bisa jadi obyek wisata favorit jika bisa mendapatkan sentuhan maksimal. Sayangnya, berdasarkan pantauan di lapangan, infrastruktur yang ada, terutama akses jalan, belum terlalu memadai.

Salah satu hal yang mungkin harus segera direalisasi adalah akses jalan aspal yang belum sepenuhnya ada di jalanan menuju air terjun.

Seperti yang sudah dijelaskan di atas, jalanan menuju air terjun Bihewa dari pusat kota Nabire sendiri memang ada yang sudah diaspal dan masih merupakan jalanan bebatuan. Nah, jalanan bebatuan inilah yang tentu sangat beresiko untuk dilalui lantaran terjal, curam, dan kiri kanan jalan terdapat jurang.

Jalanan bebatuan ini sendiri merupakan akses jalan terakhir sebelum benar-benar tiba di air terjun Bihewa. Dengan rentang jarak yang lumayan panjang dan terjal, tentu orang-orang akan berpikir dua kali untuk mencapai air terjun Bihewa dengan kondisi berbatu seperti saat ini.

Namun, seandainya jalanan bebatuan tersebut sudah diaspal, kemungkinan besar orang-orang luar akan banyak berdatangan. Tentu tanpa rasa khawatir dan was-was saat melewati jalanan menanjak dan dipenuhi jurang itu.

Rasanya perlu diadakan pembenahan secara intensif dan tertata antara lain jalan masuk dari jalan utama menuju ke lokasi air terjun Bihewa, juga tangga-tangga naik untuk menuju di setiap tingkat air terjun bisa dibuat lebih rapi dan keamanan.

Keindahan air terjun Bihewa tingkat paling rendah di Nabire, Papua, Sabtu, 1 September 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Bahkan, dari obrolan singkat dari sang supir, katanya di wilayah air terjun Bihewa itu, parkir mobil bisa mencapai Rp 60-100 ribu. Beruntungnya, saat kami datang, suasana sedang sepi dan tidak ada penjaga yang meminta biaya parkir.

Selain itu, memang permasalahan klasik dari hampir semua daerah pegunungan di Indonesia adalah sulitnya akses jaringan atau sinyal alat komunikasi seperti handphone. Jangankan di lokasi air terjun Bihewa, di sepanjang jalan menuju lokasi saja, sinyal mati total dan kalaupun ada itu tak akan berfungsi normal.

Mungkin, pemerintah lokal juga mulai harus memikirkan agar akses jaringan provider bisa masuk di lokasi air terjun Bihewa. Tentu dengan adanya akses tersebut, akan membuat banyak kemudahan dalam berkomunikasi dengan dunia luar, terlebih dalam kondisi darurat dan untuk mempromosikan air terjun Bihewa.

Air Terjun Bihewa Masih Kurang Promosi

Di samping akses jalan yang masih bebatuan di titik sebelum mencapai lokasi, air terjun Bihewa sendiri sepertinya masih kurang promosi. Meski di awal penemuan sudah mendapatkan perhatian pemerintah Kabupaten Nabire, tapi hal itu belum maksimal sampai hari ini.

Berdasarkan pantauan Asumsi.co di sekitar area sebelum memasuki air terjun Bihewa, tak banyak papan-papan petunjuk yang menandakan bahwa ada air terjun di situ. Memang ada sebuah papan yang berisi pesan untuk menjaga lingkungan.

Selayaknya tempat wisata lain yang ada di sejumlah wilayah Indonesia, promosi air terjun Bihewa mungkin bisa lebih gencar lagi. Entah itu didirikan sebuah monumen khas Nabire atau sekedar papan petunjuk dengan ukuran besar sebelum menuju air terjun Bihewa.

Tak hanya itu saja, jika pemerintah lokal jeli, maka sumber daya air terjun Bihewa tersebut bisa dimanfaatkan sebagai sumber daya listrik. Kabarnya, air terjun Bihewa ini dapat menghasilkan potensi sumber daya listrik sebesar 1000 lebih kw yang bisa digunakan untuk ratusan rumah penduduk sekitar.

Dalam hal ini, tentu harus ada peran pemerintah yang punya wewenang besar untuk menata kawasan air terjun Bihewa agar bisa dimaksimalkan sebagai tempat tujuan wisata. Jika sudah dimaksimalkan, tentu masyarakat Nabire sendiri yang akan mendapatkan berkah ekonomi dari sektor wisata.

Share: Air Terjun Bihewa Nabire, Potensi di Tengah Keterbatasan Infrastruktur