Isu Terkini

Melihat Kampanye Asian Games 2018

OlehKiki Esa Perdana

featured image

Kampanye merupakan produk ilmu komunikasi, sebuah kegiatan memasarkan pesan tertentu kepada khalayak. Sayangnya, kata “kampanye” sekarang ini identik dengan kegiatan  politik, di mana para calon wakil rakyat melakukan pemasaran mengenai visi, misi, dan program mereka serta berupaya "mencuri" hari rakyat untuk memilih mereka di hari pemilihan. Padahal arti yang sebenarnya dari kampanye itu sendiri bisa dijabarkan sebagai sebuah tindakan dan usaha yang bertujuan mendapatkan pencapaian dukungan, itu saja.

Jika kita mempertanyakan nilai keberhasilan suatu kampanye, salah satu penilaiannya bisa dilihat dari apakah kampanye tersebut bisa menarik perhatian khalayak ramai. Menurut saya, faktor kuat untuk menjawab pertanyaan tersebut bisa dilihat dari positioning kuat dari kampanye tersebut. Misal, bisa dilihat dari desain yang layak, sesuai tema, dan memiliki ciri khas tertentu. Tentu ini hanyalah satu dari banyak faktor untuk menilai kesuksesan suatu kempanye itu sendiri.

Sehubungan dengan diadakannya Asian Games 2018 di Indonesia, pemerintah dan pihak Inasgoc sebagai panitia penyelenggaran sudah melakukan beragam kampanye sebagai bentuk sosialisasi mengenai ajang olahraga terbesar se-Asia ini. Seperti definisi di atas, kampanye ini dilakukan dengan tujuan mendapatkan dukungann dari masyarakat untuk menyukseskan perhelatan akbar ini. Mengusung tema besar "Energy of Asia", kita pasti bisa melihat berbagai jenis kampanye yang sudah dilakukan untuk menarik perhatian masyarakat luas.

Semangat dari "Energy of Asia" itu sendiri bisa diartikan bahwa Asia terbentuk dari keberagaman budaya, bahasa dan peninggalan sejarah, dimana pada saat semua elemen ini bersatu, otomatis akan menjadi kekuatan utama yang diperhitungkan dunia. Ditambah dengan maskot Bhin Bhin, Atung dan Kaka yang merepresentasikan fauna yang ada di Indonesia. Berbagai hal ini juga seakan melambangkan kekhasan Indonesia tersendiri; keberagaman etnis dengan bahasa yang berbeda satu dan lainnya yang kita kenal dengan Bhineka Tunggal Ika.

Dasar yang kuat dan berfilosofi penting tersebut sudah menjadi materi dan petunjuk bagaimana membentuk kampanye yang berkarakter dan memiliki positioning kuat. Mulai dari kata-kata penyemangat hingga ke desain yang tepat dalam berkampanye. Semuanya harus mampu diadaptasi dengan semangat yang sama oleh masyarakat.

Namun kenyataannya, tidak bisa dipungkiri masih banyak kampanye Asian Games 2018 yang kurang mengambil semangat dari "Energy of Asia" itu sendiri. Spanduk yang muncul di jalanan malahan  banyak yang terlihat hanya mandatory atau hanya bagian dari kewajiban. Bukannya membangun semangat sebagai tuan rumah atau dengan mereka yang juga bertanding. Tidak sedikit juga konten kampanye Asian Games 2018 kemudian tersisihkan, karena lebih fokus oleh pejabat setempat atau calon legislatif yang juga sedang berkampanye dalam spanduk yang sama. Ini membuat seakan-akan terjadi "ada kampanye dalam kampanye". Atlet yang seharusnya menjadi aktor utama, malah terisihkan. Spanduk di pinggiran jalanan penuh dengan foto para politikus yang juga menunjukan dukungan mereka.

Lalu siapa yang kemudian mendapatkan porsi banyak membahas si aktor utama? Untungnya, dari ratusan media di Indonesia, kita haruslah berterima kasih pada media-media tertentu yang konsisten membahas si atlit dari jauh hari-hari sebelumnya dan tidak hanya membahas sebatas euforia Asian Games 2018.

Garis besarnya, tidak hanya peran atau kesadaran masyarakat sendiri dalam memasang spanduk yang bagaimana untuk dukungan Asian Games 2018, tetapi juga peran media untuk mampu melihat sisi lain yang tak terlihat oleh masyarakat. Masyarakat kita sudah cukup melihat politikus, di berbagai media dan sangat percaya bahwa dukungan mereka tak perlu diragukan lagi. Namun kali ini kami hanya ingin melihat para atlet yang bertanding membawa harum nama bangsa, mereka pun harus mendapatkan porsi banyak, bukan kah begitu?

Kiki Esa Perdana adalah dosen Ilmu Komunikasi. Ia sangat antusias dengan isu komunikasi politik dan budaya.

Share: Melihat Kampanye Asian Games 2018