Isu Terkini

ESports di Asian Games, Beneran Olahraga?

OlehHafizh Mulia

featured

Tepat di hari Senin (27/8) kemarin, saya menyempatkan diri untuk merasakan pengalaman yang belum pernah saya rasakan sebelumnya: menonton salah satu cabang olahraga (cabor) Asian Games terbaru, esports, atau olahraga elektronik. Cabor ini merupakan kategori olahraga yang sedang dikaji oleh Dewan Olimpiade Asia di Asian Games 2018 untuk dapat diperlombakan secara resmi di ajang Asian Games 2022 nanti di Hangzhou, Cina. Pengkajian ini dilakukan oleh Dewan Olimpiade Asia dengan cara mengadakannya dengan format exhibition, yaitu tidak termasuk perlombaan resmi yang kemenangannya dihitung sebagai perolehan medali. Ingin ikut serta sebagai bagian dari sejarah dan penasaran dengan  cabor percobaan ini, saya akhirnya memutuskan untuk menonton salah satu game online yang masuk dalam esports, Clash Royale.

Ridel Sumarandak, Atlet Indonesia Bertalenta Dalam Clash Royale

Sebelum menonton pertandingan di hari Senin kemarin, saya mencoba melakukan riset kecil-kecilan untuk melihat peluang kemenangan Indonesia. Mulai dari Pro Evolution Soccer yang amat digandrungi di Indonesia hingga League of Legends. Dari enam game yang dipertandingkan, saya memutuskan untuk menonton cabang esports Clash Royale yang diwakili Ridel Sumarandak. Berdasarkan berbagai situs yang saya baca, Ridel Sumarandak memiliki peluang besar dalam memenangkan medali emas cabang Clash Royale. Hal ini pun dibuktikan olehnya sesampainya saya di Britama Arena, tempat berlangsungnya perhelatan esports.

Sebelum dibuat terkesima dengan permainan Ridel Sumarandak, saya harus terlebih dahulu melalui perjalanan yang agak rumit. Ketika memasuki komplek Mahaka Square, salah satu bagian dari Britama Arena, saya sedikit mengalami kebingungan. Penyebabnya, minimnya penunjuk jalan bagi penonton. Untungnya ada petugas keamanan yang siap mengarahkan ke mana saya harus melangkah. Setelah masuk melalui pintu utama, saya harus sedikit berputar di dalam gedung hingga mendapatkan eskalator yang tepat. Naiklah saya ke lantai tiga. Setelah diarahkan oleh petugas di lantai tersebut, saya pun masuk ke dalam tempat perlombaan Clash Royale berlangsung.

Jadwal E-Sports Asian Games 2018. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co

Begitu saya masuk, saya pun langsung disuguhkan dengan megahnya panggung tempat esports dilangsungkan. Menurut pengelihatan saya, panggung yang ada sangatlah megah. Bahkan termegah dari yang pernah saya lihat untuk pertandingan esports di Indonesia. Walaupun pengalaman itu saya dapat dari menonton YouTube, sih.

Ketika saya datang, saya merasa kalau saya datang di waktu yang tepat karena Ridel sedang bersiap-siap untuk bertanding. Saya penasaran, banyak dari temuan saya di internet yang menyatakan bahwa Ridel merupakan pemain Clash Royale handal. Benar saja, melawan Aaron dari Hong Kong, Ridel menang 3-1 dengan mudah. Pertandingan tersebut pun menjadi titik awal kekaguman saya dengan Ridel. Bagaimana tidak, untuk seseorang yang berumur 16 tahun, bertanding untuk Indonesia di Asian Games pastinya merupakan sebuah kebanggaan. Terlebih, Ridel begitu tenang menghadapi lawan-lawannya.

Ridel Memenangkan Pertandingan Melawan Hong Kong. Sumber foto: Dok. Pribadi/Asumsi.co

Selain Ridel, saya menonton beberapa pertandingan lainnya, mulai dari Vietnam yang menang melawan India, Laos yang dikalahkan oleh Tiongkok, dan Uzbekistan yang kalah dari Arab Saudi. Sayangnya, waktu yang sudah semakin malam saat itu membatasi saya untuk terus menonton pertandingan. Sehingga ketika Indonesia melawan Vietnam, di babak selanjutnya, saya tidak sempat menonton langsung. Meskipun begitu, saya tetap memantau perkembangan Ridel melalui media sosial dan situs resmi untuk menonton Asian Games. Lolos ke final, Ridel pun bertemu dengan perwakilan Tiongkok. Di pertandingan final ini, Ridel keluar sebagai pemenang setelah mengalahkan Tiongkok 0-3. Indonesia Raya pun berkumandang di Britama Arena.

Esports, Layak dan Perlu untuk Dikukuhkan Sebagai Olahraga Resmi di Asian Games 2022!

Selain menjadi bagian sejarah, menonton esports di Asian Games 2018 ini juga menjawab rasa penasaran dan kegundahan hati saya. Sejak dulu, saya selalu memiliki dilema ketika ditanya, memangnya esports itu olahraga beneran? Tidak sedikit dari orang yang memandang sinis karena katanya esports tidak memiliki unsur mengolah raga sama sekali. I beg to differ.

Esports layak untuk dikategorikan sebagai olahraga dan saya amat mendukung supaya esports dikukuhkan sebagai cabang olahraga resmi di Asian Games 2022. Bahkan secara konvensional, esports memiliki semua unsur yang sesuai untuk dapat dikatakan sebagai olahraga. Esports tidak berkurang unsur keolahragaannya hanya karena dimainkan secara virtual.

Esports, Olahraga, dan Bisnis di Dalamnya

Mari kita telaah lebih dalam mengapa esports merupakan sebuah olahraga layaknya olahraga lain. BBC Inggris Raya menemukan fakta bahwa terdapat tiga unsur dalam sebuah olahraga konvensional. Strategi, kecepatan waktu reaksi, dan kebugaran. Ketiga hal ini, secara tidak mengejutkan, juga terdapat di dalam sebuah pemain esports.

Pertama, dalam esports, strategi berkaitan dengan cara memenangi pertandingan secara virtual, baik secara tim maupun personal. Kedua, kecepatan waktu reaksi berkaitan dengan bagaimana pemain yang bertanding memikirkan reaksi dalam permainan. Permainan virtual membutuhkan reaksi begitu cepat, bahkan seringkali lebih cepat dari olahraga konvensional. Ketiga, kebugaran. Ini yang seringkali dianggap remeh oleh sebagian orang. Banyak yang menilai bahwa bermain e-sports tidak membutuhkan kebugaran sama sekali. Jangan salah, justru bermain permainan virtual membutuhkan kebugaran yang amat tinggi.

Dalam satu permainan DotA, misalnya. Permainan ini dilakukan dengan virtual dengan kurun waktu yang begitu variatif. Biasanya, paling cepat satu permainan DotA dilangsungkan selama 30 menit. Paling lama? Bisa lebih dari satu jam! Bahkan, pernah ada satu pertandingan DotA yang berlangsung sampai lima jam! Kalo tidak memiliki kebugaran untuk duduk dan memandangi layar, tentu pemain esports tersebut akan kehilangan konsentrasi. Dari sini, terlihat bahwa argumentasi esports tidak memiliki aspek kebugaran merupakan hal yang tidak benar adanya.

Dari segi pendukung, pemain-pemain esports pun kini memiliki pendukung fanatiknya masing-masing. Sama seperti pertandingan olahraga konvensional, ribuan orang menonton langsung ketika ada satu nama besar dalam esports bertanding. Tidak hanya itu, penonton layar kaca dengan cara streaming pun juga semakin meningkat. Esports merupakan bisnis yang besar.

Sebagai bisnis yang besar, tentu menjadi pemain esports memilki prospek yang baik dalam konteks pendapatan yang ditawarkan. Pemain esports kelas dunia kini juga mendapatkan penghasilan yang tidak kalah dengan olahragawan konvensional kelas dunia. Carlos ‘Ocelote’ Rodriguez, seorang pemain League of Legends, mendapatkan bayaran hingga $1 miliar per tahunnya. Dari sisi ini juga, terlihat bahwa esports tidak dapat dikesampingkan keberadaannya sebagai sebuah olahraga.

Share: ESports di Asian Games, Beneran Olahraga?