Budaya Pop

Sebelum Iblis Menjemput: Serem yang Bikin 'Depresi'

OlehAvanty Khansa

featured image

Akhir pekan kemarin, saya menguji nyali saya dengan menonton Film 'Sebelum Iblis Menjemput', salah satu film nasional yang lagi ramai dibicarakan. Apalagi film-film horor Indonesia belakangan ini mengalami kemajuan. Adegan-adegan ‘dewasa’ sudah mulai berkurang, dan kembali menekankan pada cerita yang ‘mengerikan’.

Makanya saya memberanikan diri menonton film arahan Timo Tjahyanto yang sudah memasuki pekan ketiga penayangannya di layar nasional. Ditambah lagi, film ini juga masuk dalam nominasi 20 film terpilih untuk kategori Feature Length Competition dalam L’Etrange Festival 2018 yang akan diadakan di Paris pada September nanti. Sebelum Iblis Menjemput ini berkompetisi untuk memenangkan Nouveaux Genre/New Breed Award.

Berangkat dari prestasi itu, saya jadi makin mantap nonton film ini. Makanya saya pengen banget buat review film ini.

*SPOILER ALERT*

Cerita Teror Satu Keluarga di Rumah Tua

Ide cerita Film 'Sebelum Iblis Menjemput' sebenarnya mungkin ada di kehidupan sehari-hari, yaitu niatan pesugihan yang ujung-ujungnya bersekongkol dengan setan. Berawal dari sang bapak yaitu Lesmana (Ray Sahetapy) yang ingin menjadi kaya dalam sekejap. Akhirnya, ia meminta bantuan kepada seorang dukun perempuan. Akan tetapi, tentunya kalau berurusan dengan iblis atau setan akan selalu ada janji yang harus dibuat jika keinginan telah terpenuhi.

Selanjutnya film ini mengisahkan Alfie (Chelsea Islan), anak pertama Lesmana dari istri pertamanya, yang dihantui masa lalunya yang kelam. Ibunya telah wafat dengan misterius, sementara ayahnya meninggalkannya untuk menikah kembali dengan Laksmi (Karina Suwandi) dan akhirnya memiliki anak bernama Maya (Pevita Pearce), Ruben (Samo Rafael), dan Nara (Hadijah Shahab). Setelah cukup lama terpisah, mereka dipertemukan kembali ketika ayahnya sakit dan tiba-tiba meninggal secara misterius. Bahkan mereka juga datang ke rumah tua yang dulu ditinggali oleh Lesmana.

Misteri mulai muncul saat Ruben membuka sebuah pintu ruangan yang gelap dan mencekam dan meneror orang-orang yang berada di dalam rumah satu per satu. Konflik mulai memanas ketika Maya mendapati bukti jika Alfie membenci keluarganya dan terus menyalahkan saudari tirinya tersebut. Di saat Maya kabur ke hutan, Ia pun harus berhadapan dengan sosok ibunya sendiri yang kerasukan. Lalu, tingkah lakunya berubah seakan ada yang merasa merasuki dirinya dan mulai mencoba membunuh adik-adiknya sendiri.

Ketakutan yang Enggak Ada Ujungnya

Nah, film ini cocok banget buat penikmat film horor dengan tingkat keseraman dan kengerian yang gak ada habisnya. Kenapa? Karena, di sepanjang film ini disuguhkan dengan “kejutan-kejutan” yang bikin penontonnya teriak histeris. Mungkin bisa dibilang setiap menitnya film ini bakal buat penonton deg-degan dan enggak diizinkan bernapas dengan tenang. Terkadang, hantunya alias si setan keluar di waktu-waktu yang kita pikir enggak bakal ada yang ngagetin. Bahkan di studio tempat saya nonton, ada orang yang teriak-teriak kayak lagi 'depresi' atau gelisah sendiri, dan temen di samping saya sampai menolak untuk membuka mata saking takutnya. Film ini memang jenis horror thriller, tapi enggak se-sadis film Chucky, kok. Cocoklah buat yang enggak terlalu suka dengan sadisme atau ngerasa mual kalau nonton yang berbau darah. Kalian juga akan dimanjakan dengan sosok hantu yang memangsa orang kayak zombie di sini, bahkan ada juga boneka santetnya, loh!

Editing dan Pengambilan Gambar yang Pas

Kalau ngomongin soal film yang bagus, pastinya ada yang bekerja keras untuk menempatkan dan menyatukan adegan-adegan di setiap scene agar semua terlihat pas. Mulai dari backsound yang mencekam, penempatan setiap scene yang mengejutkan, effect yang dramatis, hingga pengambilan gambar layaknya film luar negeri terasa sangat pas, sesuai porsi dan tidak terlihat berlebihan. Sayangnya, untuk makeup masih sangat terlihat seperti dibuat-buat dan tidak nampak natural.

Secara keseluruhan, film ini patut diacungi jempol. Secara pribadi, saya merasa poin 8.5/10 layak diberikan untuk film Sebelum Iblis Menjemput. Tentunya karena penampilan para artis-artisnya yang ciamik dalam memainkan peran, sampai penyatuan setiap adegan yang menegangkan membuat gue sangat puas sebagai penonton dan penikmat film bergenre horor.  Meski demikian, ada yang mengganjal dari film ini yaitu di akhir cerita yang bisa dibilang “Yaudah gitu aja ending-nya?” dan terasa antiklimaks. Beberapa misteri yang ditunjukkan di awal belum bisa dijawab secara jelas di akhir film. Salah satunya meninggalkan pertanyaan, “Kenapa tiba-tiba Pevita mencium Ben adiknya sendiri?”.  Apa mungkin karena kerasukan? Terus, iblisnya suka sama Ben? Atau mungkin dia kerasukan pacarnya Ben? Entahlah, itu hanya pertanyaan random. Yang jelas, film ini harus banget ditonton dan jangan sendirian ya nontonnya! Serem!

Share: Sebelum Iblis Menjemput: Serem yang Bikin 'Depresi'