Isu Terkini

Si Jago Merah, Langganan Hutan Kalimantan

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Badan Meteorologi Klimatologi melansir kualitas udara di Kota Pontianak telah memburuk sejak dua minggu terakhir. Bahkan pada 20 Agustus 2018 kemarin, kualitas udara di sana memasuki level berbahaya, meski kini telah berangsur-angsur membaik.

Asap tebal yang membuat jarak pandang hanya lima meter saja itu terjadi di beberapa wilayah, seperti di kawasan Pontianak Utara hingga Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat. Tujuh penerbangan di Bandara Supadio Pontianak juga harus tertunda.

Kebakaran hutan di Kalimantan pada tahun ini, ternyata tidak lebih baik dari sebelumnya. Musim kering menyebabkan api bakaran tak padam. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Barat menganalisa, bahwa 201 titik api itu berada di lahan korporasi.

“Kami serahkan temuan ini ke Polda Kalbar. Analisa ini seharusnya menjadi alat bukti awal penyidikan kepolisian terhadap korporasi-korporasi pelaku pembakaran,” kata Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Barat, Anton P. Widjaya, dilansir dari Mongabay, pada 22 Agustus 2018.

Kebakaran yang terjadi di pulau terbesar ketiga di dunia itu memang berulang kali terjadi. Setidaknya, dalam lima tahun terakhir ini kebakaran tak pernah absen menimbulkan asap pekat di tanah Borneo.

Tahun 2017 Kebakaran di Kalimantan Tengah dan Utara

Di musim kemarau, kebakaran hutan dan lahan melanda Kalimantan Tengah. Di Kecamatan Sebangau Kuala saja, luas areal yang terbakar mencapai 40 hektare. Kebakaran itu mulai muncul pada hari Kamis, 14 September 2017.

Dari data Badan Pengendalian Rencana dan Pemadam Kebakaran (Kalaksa Kalteng), sedikitnya ada sekitar 263 desa di seluruh Kalteng yang dinyatakan rawan terjadinya kebakaran hutan dan lahan, dan hampir 14 kabupaten/kota memberlakukan siaga darurat kebakaran hutan dan lahan.

Kalimantan Barat juga tak ketinggalan, pada Minggu, 6 Agustus 2017, pantauan satelit Aqua, Terra, SNNP mendeteksi 150 hotspot, dimana 109 hotspot kategori sedang (tingkat kepercayaan 30-79 persen) dan 41 hotspot kategori tinggi (tingkat kepercayaa  tinggi lebih dari 80 persen).

"Jumlah hotspot ini jauh lebih banyak daripada daerah lainnya. Secara nasional terdeteksi ada 282 hotspot," kata Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB dalam keterangan tertulisnya, Minggu, 6 Agustus 2018.

Tahun 2016 Kebakaran di Kalimantan Barat

Kabut asap dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya, Landak, Bengkayang, dan Sanggau juga pernah terjadi pada tahun 2016. Dari pantauan pada 10 Agustus 2016, staf BMKG Supadio Dasmian Sulvian, Kabupaten Sanggau mempunyai titik api terbanyak yakni 17, diikuti oleh Kapuas Hulu 10, Kabupaten Melawi 9, Kabupaten Sintang 8, Kabupaten Landak 7, Kabupaten Ketapang 4, dan Bengkayang 1.

Berdasarkan catatan satelit NOAA, saat itu Kalimantan Barat secara keseluruhan mempunyai 56 titik api atau hotspot pada 10 Agustus.

Tahun 2015 Kebakaran di Kalimantan Barat

Pada 2 Juli 2015, sebidang lahan kosong di Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya terbakar. Kabut asap yang tebal bahkan membuat jarak pandang di lokasi hanya 10 meter. Laporan mengenai lahan yang terbakar itu sempat disampaikan oleh masyarakat ke aparat desa, tak ada tindakan apapun lantaran pemilik lahan adalah mantan pejabat di pemerintahan di Kabupaten Kubu Raya.

Kepolisian Resor Kota Pontianak sempat mengungkapkan bahwa kebakaran terjadi karena faktor kesengajaan. Luasan areal yang dibakar lebih dari dua hektar, dari total luas 20 hektar, dan itu dapat digolongkan pelanggaran UU 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, pasal 69 huruf H.

Tahun 2014 Kebakaran di Kalimantan Timur dan Tengah

Kebakaran hutan di Balikpapan, Kalimantan Timur, juga pernah terjadi pada 11 Oktober 2014. Tak main-main, api melahap 35 hektare hutan yang berada di kawasan Jalur Lintas Kalimantan. Akibatnya, kabut asap tebal pun menutupi jalur Balikpapan menuju Samarinda.

Di tahun yang sama, kebakaran hutan dan lahan juga terjadi di Provinsi Kalimantan. Si jago merah membara di area seluas 629,36 hektare. Akibatnya, kabut asap yang pekat menyelimuti Kota Palangkaraya pada 8 September 2014.

Share: Si Jago Merah, Langganan Hutan Kalimantan