Isu Terkini

Cabor Bridge di Asian Games: Anggapan Judi, Ajang Asah Otak, Sampai Atlet 78 Tahun

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Bridge merupakan salah satu cabang olahraga baru di Asian Games, di mana kartu remi menjadi media permainannya. Olahraga ini pertama kali dicetuskan oleh Ely Culbertson pada tahun 1920an di Amerika Serikat. Tapi, dalam ajang Olimpiade, bridge bukanlah cabang olahraga yang diperlombakan.

Bahkan, Olympic Council of Asia (OCA) yang merupakan badan olahraga di Asia sempat tak berkenan untuk memasukkan bridge di Asian Games 2018. Namun, sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki hak untuk memasukkan sejumlah cabang olahraga baru, seperti paralayang, jetski, dan juga bridge.

Sebenarnya, tak mudah memasukkan bridge menjadi cabang olahraga di Asian Games. Buktinya, serangkaian proses lobi sudah dilakukan sejak akhir 2015 lalu.

Presiden OCA Sempat Menganggap Bridge Adalah Judi

Ketua Umum Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) Eka Wahyu Kasih mengungkapkan proses lobi itu bahkan dibuat sampai menjadi dua tim. Tim pertama yang melobi ke OCA Sementara tim lainnya melobi ke para pemangku kepentingan dalam negeri, seperti pemerintah dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

Tim yang bertugas untuk mendapatkan restu dari OCA harus menghadap ke Presiden OCA, Sheikh Ahmed Al-Fahad Al-Ahmed Al-Jaber Al-Sabah. Seperti dilansir dari Beritagar.id, politikus Kuwait dan administrator olahraga itu awalnya enggan mengakui bridge sebagai cabang olahraga karena dianggap sebagai permainan judi.

Namun, tim dari Indonesia menjelaskan bahwa negara muslim seperti Pakistan dan Mesir saja memiliki atlet bridge internasional. Padahal, jika benar bridge adalah permainan judi, tentunya hal itu akan dilarang di kedua negara tersebut. Hingga akhirnya Sheikh Ahmed Al-Fahad mengizinkan bridge menjadi salah satu cabang olahraga di Asian Games 2018.

Masalahnya, bukan hanya di tingkat internasional saja hambatan terjadi. Pun di dalam negeri. Pemerintah dan beberapa pemangku kepentingan lainnya, sempat mempertanyakan usulan Gabsi memasukkan bridge.

Sebagai cabang olahraga non-olimpiade, pemerintah dalam negeri juga sempat meragukan peluang bridge mendapatkan medali. Hingga akhirnya, pemerintah bersama KONI, Komite Olimpiade Indonesia (KOI), dan Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima) melakukan kajian untuk bridge. Hasilnya, bridge menjadi salah satu cabang olahraga yang berpeluang mendapatkan medali untuk Indonesia.

Taktik Olahraga Bridge Membutuhkan Kecekatan Otak

Sebagai permainan pengasah otak, bridge ini dimainkan oleh empat orang pemain, alias dua pasang atlet. Pasangan atau partner masing-masing duduk pada posisi berseberangan pada satu meja yang sesuai arah, utara dengan selatan, atau timur dengan barat. Lalu permainan ini berlangsung dengan menyesuaikan arah dari jarum jam.

Ada 52 kartu yang menjadi media dalam permainan ini. Sehingga masing-masing pemainnya mendapatkan jatah 13 kartu. Setelah kartu dibagikan, para pemain membuat semacam penawaran, dan permainan dimainkan kartu-per-kartu dalam 13 sub-putaran yang dikenal sebagai trik. Sistem skor untuk memenangkan permainan ini berbeda-beda pada setiap variasi bridge dan juga pada setiap kelompok bridge.

Perlu diketahui, bridge pada Asian Games 2018 ini telah ditetapkan enam nomor pertandingan yaitu men team, ladies team, men pairs, mixed team, mixed pairs, dan super mixed team. Indonesia sendiri memiliki target cukup tinggi, dengan mematok dua medali emas untuk bridge.

“Dari nomor mana saja? Semua berpeluang,” ujar Ketua Umum Gabsi Eka Wahyu Kasih.

Keyakinan itu tak lepas dari pengalaman tim bridge Indonesia yang berhasil menjuarai sejumlah turnamen. Seperti atlet Henky Lasut dan Eddy Manoppo yang berhasil meraih gelar juara dunia kategori pasangan senior di Kejuaraan Dunia bridge bertajuk "Red Bull World Bridge Series" ke-14 di Sanya, Cina, 15-25 Oktober 2014 lalu.

Indonesia sendiri menurunkan sebanyak 24 atlet yang berjuang khusus untuk cabang olahraga bridge. Seperti yang tertera di situs resmi Asian Games, di mana jadwal final men’s ream, mixed team, supermixed team, akan berlangsung pada Senin, 27 Agustus 2018. Sedangkan untuk jadwal final men’s pair, mixed pair, women’s pair, dilaksanakan pada Sabtu, 1 September 2018 mendatang.

A post shared by N.t. Yulianti (@ntyulianti) on May 19, 2018 at 2:15am PDT

Olahraga Tanpa Batas Usia

Salah satu hal yang membuat bridge akhir-akhir ini dilirik media adalah karena hadirnya Michael Bambang Hartono, seorang atlet bridge senior yang merupakan orang terkaya di Indonesia. Pria kelahiran Jawa Tengah ini merupakan pemilik perusahaan rokok kretek, Djarum, yang juga menguasai bank swasta terbesar di Indonesia, Bank Central Asia (BCA).

Uniknya lagi, Bambang Hartono yang lahir pada 2 Oktober 1939 saat ini telah berusia 78 tahun. Hal itu menjadikannya atlet tertua di kontingen Indonesia untuk Asian Games 2018. Memang, bagi Bambang, bridge adalah olahraga yang dapat dimainkan oleh generasi tua maupun belia.

"Bridge itu permainan yang tidak menentukan usia. Sejak umur 5 tahun sampai tua pun seseorang tetap bisa bermain bridge. Bukan game yang dibatasi oleh usia seperti atletik," ujar Bambang pada media, di Jakarta, Rabu, 22 Agustus 2018.

Share: Cabor Bridge di Asian Games: Anggapan Judi, Ajang Asah Otak, Sampai Atlet 78 Tahun