Isu Terkini

Esensi Idul Adha dan Keutamaan Menyembelih Hewan Kurban Sendiri

OlehHafizh Mulia

featured image

Idul Adha baru saja dirayakan oleh umat muslim di seluruh dunia. Menyambut Idul Adha, gambaran utama yang terlihat adalah tentunya penyembelihan hewan kurban konvensional yang dilakukan di masjid-masjid. Selain cara konvensional tersebut, kini juga mulai menjamur cara-cara kurban non-konvensional, dengan yang berkurban tinggal membayar ke sebuah lembaga dan lembaga tersebut akan mengurus seluruh proses kurban tanpa yang berkurban berkesempatan melihat hewannya secara langsung. Tim Asumsi.co pun mewawancarai Farhan Abdul Majiid, Kepala Departemen Qur’an Center SALAM Universitas Indonesia, untuk memahami lebih lanjut makna Idul Adha sekaligus mencari tahu posisi cara kurban non-konvensional ini dibanding cara konvensional yang masih lebih dipilih oleh masyarakat.

Makna Idul Adha untuk Umat Muslim

Meskipun Idul Adha merupakan sebuah hari raya umat muslim yang dirayakan secara serentak di seluruh dunia, masih banyak informasi yang belum diketahui mengenai maknya di baliknya. Idul Adha secara harfiah merupakan dua kalimat yang memiliki arti hari raya untuk menapak tilas perjalanan. Idul Adha dirayakan untuk menapak tilas perjalanan umat muslim setahun ke belakang.

“Eid itu hari raya, Adha itu artinya menapak tilas perjalanan. Perjalanan siapa? Yang pertama adalah perjalanan diri kita. (Dzulhijjah) Di bulan Hijriah itu merupakan bulan ke-12, berarti kita menapak tilas perjalanan kita selama setahun ke belakangdan melihat apa saja yang dapat kita perbaiki di tahun yang akan mendatang,” Ujar Farhan untuk Asumsi.co.

Meskipun begitu, Farhan juga menjelaskan bahwa tentu Idul Adha merupakan sebuah perayaan untuk menapak tilas perjalanan Nabi Ibrahim AS, Siti Hajar, dan anaknya, Nabi Ismail AS.

“Yang kedua, kita menapak tilas juga perjalanan tokoh sentral, figur sentral dalam idul adha ini, (yang) adalah Nabi Ibrahim AS,” ungkap Farhan.

Selain untuk menapak tilas perjalanan diri dan Nabi Ibrahim AS sekeluarga, Idul Adha juga menurut Farhan dapat menjadi wadah untuk mendekatkan diri. Sebagai wadah mendekatkan diri, Idul Adha memiliki dua dimensi. Yaitu tidak hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tetapi juga mendekatkan diri kepada sesama manusia.

“Kemudian kan kita diperintahkan untuk melaksanakan kurban, kurban itu sendiri kan secara bahasa artinya mendekatkan diri. Mendekatkan diri kepada siapa? Yang pertama kita mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah kurban itu sendiri. Yang kedua, kita juga mendekatkan diri kepada sesama manusia, kepada orang-orang di sekitar kita yang selama ini hidupnya kekurangan, itu kita berbagi melalui daging kurban itu sendiri. Jadi kurban itu (tidak hanya) punya dimensi rohaniah sebagai ibadah, tetapi juga kurban memiliki dimensi sosial, yang dimana disitu kita diajarkan nilai-nilai berbagi,” lanjut Farhan.

Kurban Semampunya, Semampu Apa?

Pada bagian sebelumnya, telah dijelaskan bahwa salah satu perintah dalam merayakan Idul Adha adalah berkurban. Dalam perintah berkurban, sering kita dengar bahwa ada baiknya kita berkurban semampunya. Sayangnya, berkurban semampunya juga tentu sulit diartikan secara praktik. Farhan pun menjelaskan beberapa pemahaman untuk dapat memahami lebih dalam makna dibalik kata kurban semampunya tersebut.

“Berkurban semampunya itu artinya adalah kita pertama harus punya niatan untuk bisa berkurban di hari raya Idul Adha. Kemudian, berkurban semampunya itu dalam makna, kita tidak memaksakan diri, tetapi bukan berarti kita enggak sama sekali punya niatan, kita harus punya niat, tetapi yang kedua kita juga harus punya persiapan, misalnya menabung setiap bulannya, tapi kalaupun memang misalnya tidak mampu, ya tidak perlu dipaksakan,” tutur Farhan.

Selain memiliki niatan dan persiapan, berkurban semampunya juga perlu diartikan dalam konteks kemampuan yang dimiliki oleh sekeluarga. Jika kekayaan suatu keluarga tersebut mampu untuk memberikan satu kambing untuk satu anggota keluarga, itu tentu hal yang baik. Namun, jika memang hal tersebut dianggap sulit, dapat diwakilkan oleh kepala keluarga, misalnya seorang Ayah yang berkurban satu kambing atas namanya. Ia dapat mendoakan kambing tersebut untuk keluarga-nya dan pahala pun akan diganjar untuk satu keluarga. Jika hal tersebut juga belum mampu untuk dilakukan, Farhan menganjurkan untuk setidaknya berpartisipasi dalam pelaksanaan Idul Adha, dengan menjadi panitia kurban, misalnya.

“Nah kemudian, kita bisa liat juga, kalau orang yang benar-benar mampu, ini penjelasannya dari para ulama adalah ketika orang itu benar-benar mampu, orang yang kaya, duitnya enggak berseri lagi gitu, itu ya dia punya kewajiban lah untuk berkurban sekeluarga besarnya, kalau misalnya satu orang satu kambing mampu, ya itu enggak masalah. Tapi kalau misal pun enggak mampu, menurut pendapatnya ulama adalah cukup satu orang berkurban saja, misalnya bapaknya, itu sudah mewakili kurban satu keluarganya. Misalnya bapaknya berkurban, itu dia niatkan, pahalanya bisa dibagi ke seluruh keluarganya, itu boleh. Tetapi kalaupun belum mampu sama sekali, setidaknya kita turut berpartisipasi jadi panitia kurban, jadi panitia sholat Ied-nya,” ujar Farhan.

Berkurban Non-Konvensional, Bagaimana Keutamaan Dibaliknya?

Dalam konteks berkurban, kini sedang bermunculan berkurban cara baru, yaitu berkurban dengan cara hanya memberikan donasi ke sebuah lembaga, dan proses kurban akan diurus oleh lembaga tersebut secara tertutup. Bahkan seringkali, yang berkurban tidak akan pernah melihat hewan kurbannya secara langsung. Tentu ini sedikit berbeda dengan cara konvensional yang menyatakan bahwa penting untuk yang berkurban untuk setidaknya melihat hewan kurbannya secara langsung. Menanggapi hal ini, Farhan merasa bahwa itu tidak masalah. Hanya saja, terdapat keutamaan dalam berkurban untuk dapat melihat, atau bahkan memotong sendiri, hewan kurban yang kita kurbankan.

“Berkurban itu yang terbaiknya kita beli sendiri, kita potong sendiri. Tapi kalau enggak mampu, enggak masalah, kita serahkan pada yang ahli tukang potongnya, kita saksikan kalau itu tidak menyusahkan. Tetapi kalau tidak bisa juga, misalnya kita ada dinas luar kota, atau mungkin kurbannya diserahkan ke daerah yang jauh untuk korban bencana, itu enggak masalah. Yang penting hewan kurban itu yang sampai. Karena (memotong dan menyaksikan sendiri) itu hanya sebuah keutamaan, dan jika kita tidak melakukannya, it’s okay,” tutup Farhan.

Share: Esensi Idul Adha dan Keutamaan Menyembelih Hewan Kurban Sendiri