Isu Terkini

Lagi, Kebakaran Hutan di Pontianak Sebabkan Buruknya Kualitas Udara

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Kebakan hutan kembali terjadi di Kalimantan. Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi yang paling luas area terbakarnya. Sebanyak 1.084 hektare luas lahan terbakar dengan mayoritas melanda kawasan gambut dan lahan kosong.

"Luasan lahan terbakar lebih dari seribu hektare itu tersebar di sejumlah daerah rawan karhutla (kebakaran hutan dan lahan), dan paling banyak terjadi di Kota Banjarbaru yang mencapai 294 hektare," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kalsel Wahyudin, dilansir dari Antara.com pada Senin 20 Agustus 2018.

Luas lahan yang kebakaran akan bersinggungan langsung dengan salah satu dampak yang sangat mengganggu, yaitu asap. Tak hanya menyebabkan sesak napas  pada manusia, asap yang dihasilkan dari kebakaran hutan itu tentu juga mampu mengganggu proses penerbangan.

"Kami mewaspadai karhutla di luar kawasan bandara karena apabila terjadi kebakaran dan menimbulkan kabut asap maka dampaknya sangat besar bagi penerbangan," kata Wahyudin.

Salah satu kota yang paling parah dampak polusi udaranya adalah Pontianak, Kalimantan Barat. Hingga Senin, 20 Agustus 2018 kemarin malam, kabut asap makin tebal. Ini disebabkan api yang terus membesar dan merembet hingga mendekati pemukiman penduduk di Jalan Purnama II.

Kualitas Udara di Pontianak Masuk Level Berbahaya

Karena terkendala pasokan sumber air, proses pemadaman sempat dilakukan pada Minggu, 19 Agustus 2018 malam itu pun sempat dihentikan. Hingga menyebabkan Titik panas (Hotspot) di Kalimantan terus bertambah menjadi lebih dari 1.000 titik panas. Sementara, kabut asap makin menyelimuti kota Pontianak. Warga pun mulai mengenakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.

Tak heran, kualitas udara di Kota Pontianak semakin memburuk akibat kabut asap yang terjadi sebulan terakhir. Berdasarkan indeks standar pencemaran udara (Ispu) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara di Pontianak masuk dalam level berbahaya pada pukul 08.00 hingga pukul 11.00 WIB. Bahkan, sangkin buruknnya, seluruh sekolah di Pontianak terpaksa diliburkan sejak Senin, 20 Agustus 2018.

"Kegiatan belajar mengajar seperti biasa dilakukan kembali pada hari tanggal 23 Agustus 2018," ujar Kepala Dikbud Provinsi Kalbar, Suprianus Herman.

Wali Kota Pontianak Sutarmidji juga menginstruksikan sekolah mulai tingkat PAUD, TK, SD, dan SMP meliburkan siswanya mulai 20 Agustus 2018. Bagi siswa PAUD, TK dan SD masuk sekolah kembali pada 27 Agustus 2018.

"Sedangkan bagi siswa SMP masuk kembali tanggal 24 Agustus 2018," ujar Sutarmidji.

Kabarmya ini kondisi di Pontianak. Kebakaran hutan lagi. :( pic.twitter.com/xiDdrTrRO9— Zarry Hendrik (@zarryhendrik) August 20, 2018

Kenapa Bisa Terjadi Kebakaran Hutan?

Kebakaran hutan di Kalimantan bukanlah kejadian yang pertama kali terjadi. Seperti yang telah banyak diketahui, Pulau Kalimantan memang menjadi salah satu daerah pengembangan perekebunan kelapa sawit.

Tak heran, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sempat mengatakan bahwa 99% kebakaran hutan dan lahan gambut di Indonesia terjadi karena sengaja dibakar. Sayangnya, kejadian itu terus terjadi karena adanya pembiaran dan pengawasan yang kurang ketat.

Untuk kebakaran yang terjadi baru-baru ini, Pemerintah pusat masih proses melakukan pemetaan terkait kebakaran yang kini menimbulkan asap pekat. Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, pemerintah melakukan pemetaan penyebab Karhutla di Kalimantan Barat.

"Pemerintah daerah meminta, kami akan memberikan perlengkapan yang dibutuhkan oleh mereka," ujar Moeldoko, di Jakarta, pada Senin, 20 Agustus 2018.

‎Karena adanya asap tebal akibat karhutla, pemerintah kota Pontianak bahkan sampai memutuskan untuk meliburkan aktivitas sekolah dari PAUD hingga SMP. Anak sekolah PAUD, TK, dan SD libur hingga 26 Agustus dan siswa SMP libur hingga 23 Agustus.

Upaya Penanganan Pemda

Sebelumnya, heli untuk water boombing hanya 4 saja. Kemudian, BNPB menambah 4 helikopter water boombing untuk menangani kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Barat. Dua di antaranya, sudah tiba di Pontianak.

Kepala BNPB Laksamana Muda TNI (Purn) Willem Rampangilei, Kapolda Kalimantan Barat Irjen Pol Didi Haryono, serta Pangdam XII Tanjung Pura Mayjen TNI Achmad Supriyadi beserta jajarannya, juga telah menggelar rapat evaluasi penanganan Karhutla, di kantor BPBD Kalimantan Barat, sejak Sabtu, 18 Agusutus 2018.

"Untuk itu, seluruh instansi pemerintahan terkait saat ini berupaya menangani permasalahan kabut asap," kata Didi, dalam keterangan tertulis, Sabtu, 18 Agustus 20018.

Didi menerangkan, instansi lintas sektoral, TNI-Polri, Manggala Agni, dan pihak swasta, terus melakukan pemadaman Karhutla secara intens.

"Langkah-langkah lainnya, kami juga melakukan deteksi dini, langkah preemtif, preventif, patroli, pemasangan maklumat, sampai dengan penindakan. Ini semua sudah kita lakukan," tambahnya.

Melihat cuaca yang masih berada di musim kemarau, BNPB juga berencana melakukan operasi teknologi modifikasi cuaca, seperti hujan buatan.

Share: Lagi, Kebakaran Hutan di Pontianak Sebabkan Buruknya Kualitas Udara