Isu Terkini

Kofi Annan, Dari MDG Sampai Gender

OlehHafizh Mulia

featured image

Pada tanggal 18 Agustus 2018 kemarin, dunia kehilangan salah satu tokoh penting dalam sejarah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kofi Annan, salah satu mantan Sekjen PBB, meninggal dunia. Sebagai seseorang yang pernah meraih penghargaan Nobel Perdamaian di tahun 2001 ini, Kofi Annan merupakan seseorang yang begitu dicintai oleh banyak orang di dunia. Karirnya ketika menjabat sebagai Sekjen PBB pun banyak yang membekas. Berikut ini adalah tiga capaian besar Kofi Annan selama memegang status sebagai Sekjen PBB dan apa yang dapat dipelajari dari beliau.

Mereformasi Tubuh PBB

Jabatan Sekretasi Jenderal PBB pastilah menjadi salah satu jabatan yang sangat membanggakan dan istimewa. Kofi Annan sendiri menjadi Sekjen PBB pada 1 Januari 1997. Proses terpilihnya beliau pun sebenarnya cukup panjang. Awalnya, Kofi Annan tidak digadang-gadang akan menjadi sekjen PBB. Saat itu, Boutros Boutros-Ghali, yang merupakan petahana, berniat maju untuk periode kedua. Namun, Boutros-Ghali diveto oleh Amerika Serikat dan akhirnya tidak pencalonanya berhenti sampai di situ.

Nama Kofi Annan pun muncul sebagai calon sekjen PBB. Senada dengan Boutros-Ghali, Annan pun menemui jalan terjal, karena Perancis memveto Annan empat kali. Tidak menyerah, Annan pun terus maju dan pada tanggal 1 Januari 1997, dengan Perancis memutuskan untuk abstain. Setelah melalui rintangan berat, Annan tetap terpilih sebagai Sekjen PBB untuk periode 1997-2002.

Pada masa awal jabatanya, langkah pertama yang dilakukan Annan adalah mereformasi tubuh PBB. Dalam agenda reformasi yang berjudul Renewing the United Nations: A Programme for Reform, terdapat gagasan-gagasan baru yang dicetuskan olehnya. Beberapa hal di antaranya seperti manajemen strategis untuk memperkuat kesatuan PBB, mencetuskan posisi wakil sekjen, pengurangan biaya administratif, konsolidasi PBB di tingkat negara, dan membangun kemitraan dengan sektor swasta dan masyarakat sipil.

Selain dalam agenda reformasi tersebut, Annan juga pernah melakukan reformasi pada tubuh PBB dengan menunjuk panel untuk Operasi Perdamaian PBB. Panel ini dibentuk dengan tujuan mengevaluasi sistem yang sudah ada sekaligus untuk menyusun rekomendasi yang spesifik dan realistik dalam operasi perdamaian. Annan sendiri menyatakan bahwa panel-panel ini esensial demi menciptakan PBB yang kredibel sebagai sebuah pasukan perdamaian.

Responsible to Protect (R2P)

Kasus genosida di Rwanda dan bagaimana komunitas internasional gagal untuk mengintervensi tersebut membuat isu intervensi kemanusiaan menjadi perhatian utama untuk Kofi Annan. Ia menekankan pentingnya untuk negara anggota PBB dapat mencegah konflik dan tidak memperparah derita masyarakat sipil yang menjadi korban dari konflik. Berangkat dari pemikiran tersebut, doktrin R2P pun dicetuskan oleh Annan.

Dalam doktrin ini, R2P menekankan bahwa PBB dapat mengintervensi suatu negara jika di negara tersebut terjadi genosida, kriminalitas perang, pembantaian etnis, dan kriminalitas kemanusiaan. Keempat permasalahan ini masuk ke dalam justifikasi dalam doktrin R2P karena empat hal ini dianggap telah melanggar hak asasi manusia. Tidak hanya menjustifikasi sebuah intervensi, R2P juga menjadi kerangka untuk PBB dalam mengukur sejauh mana intervensi perlu dilakukan.

Milennium Development Goals (MDGs)

Kontribusi Annan selama menjadi sekjen PBB lainnya adalah mencetuskan MDGs. Sejarahnya, pada tahun 2000, Annan mengeluarkan laporan dengan judul We the Peoples: the Role of the United Nations in the 21st Century. Dalam laporan ini, Annan menekankan pada pentingnya memanusiakan manusia, yaitu dengan cara menciptakan kehidupan manusia di seluruh dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya. Berangkat dari laporan ini, pada Konferensi Tingkat Tinggi Millenium bulan September 2000, pemimpin negara-negara anggota PBB pun mengadopsi Deklarasi Millienium, yang diimplementasikan dengan nama Millenium Development Goals (MDGs) di tahun 2001.

Nilai-Nilai Kehidupan yang Dijunjung Tinggi Kofi Annan

Tak bisa dipungkiri, ketiga hal di atas merupakan pencapaian yang amat besar. Tapi nampaknya amat kurang jika kita melihat sosoknya dari pencapaian beliau saja.  Dari kepribadiannya, terdapat dua nilai kehidupan yang dapat dipelajari. Pertama, Kofi Annan selalu menekankan pentingnya pendidikan. Menurutnya, pendidikan adalah premis dari pembangunan dan hak asasi manusia. Selain itu, Annan juga merupakan seseorang yang selalu menjunjung tinggi kesetaraan, mulai kesetaraan ekonomi, hingga kesetaraan gender. Bahkan, Kofi Annan menilai bahwa kesetaraan gender merupakan kondisi awal yang dapat berujung pada berkurangnya angka kemiskinan, mempromosikan pembangunan yang berkelanjutan, dan membangun tata kelola yang baik.

Share: Kofi Annan, Dari MDG Sampai Gender