Isu Terkini

Lika-Liku Paskibraka: Dari Tali Sepatu Sampai ‘Mahalnya’ Seragam PDU

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Setiap tanggal 17 Agustus datang dari tahun ke tahun, satu momen besar yang paling saya tunggu adalah aksi pengibaran bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Tahun ini, seperti biasa, euforia itu kembali hadir.

Pagi sekali sekitar pukul 07.30 WIB, saya pergi ke lapangan upacara Pemerintah Daerah Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saya pun langsung mencari pasukan berseragam putih-putih yang akan mengibarkan bendera.

Sekitar 10 menit melihat sekitar, akhirnya saya menemui kerumunan para anggota Paskibra tepat di halaman belakang gedung Kantor Bupati. Dari kejauhan terlihat wajah-wajah tegang dan harap-harap cemas, menanti waktu pengibaran.

Saya pun langsung melangkah menuju kerumunan pasukan elit tersebut. Beruntung, kedatangan saya langsung disambut hangat oleh tim pelatih (dari tentara dan polisi) serta sejumlah mantan anggota Paskibra tahun-tahun sebelumnya atau yang disebut Purna Paskibraka Indonesia (PPI).

Sambutan hangat yang saya terima itu sebenarnya tak lepas juga dari status saya yang merupakan Purna Paskibraka Indonesia. Ya, saya pernah menjadi anggota Paskibra di kabupaten yang sama pada tahun 2006 silam.

Lelucon di Keluarga Paskibra

Obrolan singkat saya dengan para pelatih jelang detik-detik pengibaran bendera Merah Putih hari itu pun tak jauh-jauh seputar persiapan pengibaran, mental, sampai menanyakan siapa saja anggota Paskibra tahun ini yang “icak-icak gilo” dan membangkang selama karantina di pasukan.

Sekadar informasi, dalam bahasa Melayu Sumatera bagian Selatan dan Pulau Bangka, “icak-icak gilo” itu artinya “pura-pura gila”. Istilah itu merujuk pada anggota Paskibra yang lucu dan kerap jadi bahan lelucon.

Selain itu, biasanya selalu ada tradisi beberapa anggota Paskibra itu mendapatkan julukan tertentu setiap tahunnya. Misalnya saja di angkatan saya, ada yang dijuluki Samson (postur tubuh besar), Hanoman (perawakan sangar), sampai Su Ying (amoy Tionghoa).

Satu lagi adalah soal sosok pembangkang dalam pasukan. Salah satu pelatih Paskibra, Arie Saputra, saat berbincang dengan Asumsi.co mengatakan bahwa sangat mudah mengubah satu orang yang membangkang dalam pasukan.

Pelatih Paskibraka Kabupaten Bangka Tengah, Arie Saputra saat memberikan intruksi kepada anggota Paskibraka. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

“Jadi kalau ada anggota yang mau dibina maka akan kita bina, tapi kalau ada anggota yang tidak mau kita bina, maka harus ‘dibinasakan’. Tapi ternyata mereka semua mau dibina, jadi akhirnya kita bina,” kata Arie Saputra, salah satu pelatih Paskibra Bangka Tengah kepada Asumsi.co, jelang pengibaran bendera, Jumat, 17 Agustus 2018.

Tali Sepatu adalah 'Nyawa'

Sesaat setelah berbincang dengan pelatih Arie, saya pun melipir menghampiri beberapa anggota Paskibra yang hampir sebagian besar wajah mereka terlihat tak tenang karena menunggu detik-detik pengibaran. Hal pertama yang saya lakukan adalah mengikat ulang tali sepatu mereka sekuat mungkin dan ikat mati.

Yap, bagi saya pribadi, tali sepatu seorang anggota Paskibra adalah nyawa saat bertugas di atas lapangan upacara. Remeh dan sepele memang, tapi apa yang terjadi jika tali sepatu PDH anggota Paskibra tiba-tiba kendur dan lepas saat tugas pengibaran?

Bayangkan, di saat yang lain sibuk jalan di tempat, baris berbaris membentuk formasi indah di atas lapangan untuk mengibarkan bendera, lalu ada satu orang yang tali sepatunya kendur dan mulai tidak konsentrasi.

Akhirnya sepatunya bisa mudah lepas dari kaki, dan formasi pasukan pun otomatis jadi berantakan. Jadi, lebih baik saya pastikan lagi dan meminta sejumlah anggota Paskibra untuk mengecek ulang tali sepatunya dan diikat mati.

“Siap kak, laksanakan. Siap kak, siap!,” kata sejumlah anggota Paskibra menjawab permintaan saya untuk mengikat mati tali sepatu PDH mereka.

Perlu diketahui, sepatu PDH anggota Paskibra sendiri memang serupa pantofel. Berbahan kulit, licin, keras, sehingga jika tali sepatu tak diikat mati maka akan mudah terlepas karena gesekan dengan permukaan kulit yang licin.

Selain membetulkan ikatan tali sepatu, para anggota Paskibra juga memeriksa atribut lain seperti tata letak peci hitam, logo bendera Merah Putih dan Garuda di bagian dada. Selesai berbincang, Danton (Komandan Peleton) pun langsung mengambil alih pasukan.

Paskibraka Kabupaten Bangka Tengah saat hendak mengibarkan bendera Merah Putih di Lapangan Upara Pemda Bangka Tengah, Jumat, 17 Agustus 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

“Siap gerak! Lencang depan gerak, luruskan. Langkah tegap majuuuuuuuu, jalan!,” kata Danton pasukan yang merupakan anggota TNI AD berteriak lantang memberikan aba-aba agar pasukan mulai bergerak dengan keindahan derap langkah baris-berbaris.

Akhirnya, Paskibra pun mulai memasuki lapangan upacara untuk mengibarkan bendera Merah Putih.

Tugas Berat Membentangkan Bendera Merah Putih

Begitu merinding melihat derap langkah kaki seluruh anggota Paskibra ini. Pandangan fokus total ke depan, gerakan patah-patah, dan tak ada sedikitpun kesalahan dibuat, termasuk dalam hal kekompakan saat melangkah.

Sembari menunggu Paskibra menunaikan tugasnya, saya sempat bertanya singkat kepada pelatih Arie soal kesulitan mengajarkan teknik pengibaran bendera. Arie beserta pelatih lain mempercayakan penuh perihal pengibaran bendera kepada anak-anak Paskibra.

“Kami dari tim pelatih percaya sepenuhnya, karena apa yang mereka butuhkan telah kami berikan baik itu mental, fisik, dan juga ilmu-ilmu tentang pengibaran dan penurunan bendera,” kata Arie.

“Kami hanya memfasilitasi. Semua kerja keras ini jadi milik mereka Paskibra Bangka Tengah 2018.”

Sekadar informasi, anggota Paskibra ini berlatih selama kurang lebih 14 hari, sementara beberapa hari lainnya itu untuk istirahat. Setelah gladi bersih tidak ada lagi penggembelangan pasukan, sehingga tinggal menyempurnakan formasi sampai pengibaran tiba tanggal 17 Agustus.

Pengibaran bendera Merah Putih pun dijalankan dengan lancar dan sukses. Tangis haru terlihat jelas dari raut wajah para anggota Paskibra sesaat setelah berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di tiang tertinggi.

Tak menunggu waktu lama, saya pun langsung menghampiri sang pengibar bendera Merah Putih yakni Okta Firmansyah. Sosok kelahiran Koba pada 29 Oktober 2001 silam ini mengaku lega sudah menunaikan tugas dengan baik.

Bendera Merah Putih berhasil dikibarkan oleh Paskibraka Kabupaten Bangka Tengah. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

“Rasanya gembira penuh dengan kebanggaan. Waktu mengibarkan bendera itu rasanya pengen nangis, tapi malah enggak nangis,” kata Okta kepada Asumsi.co setelah selesai mengibarkan bendera Merah Putih.

“Waktu bendera sudah terbentang rasanya deg-degan, grogi tapi bercampur dengan semangat juga, terharu,” ucap siswa SMKN 1 Koba tersebut.

Okta pun mengaku sangat bangga bisa menjadi salah satu anggota Paskibra dari sekian banyak orang yang ikut seleksi. “Orang tua juga ikut bangga. Baru pertama kali ini saya membuat ayah saya menangis sejak masuk Paskibra ini,” ujarnya.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada pelatih dan pembimbing di sini karena telah melatih dan mendidik kami sehingga kami bisa jadi seperti ini, dari nol sampai jadi seperti sekarang ini.”

Suka Duka Si Pembawa Baki

Tak hanya itu saja, setelah berbincang dengan Okta, saya pun langsung menghampiri sosok perempuan yang paling sering menebar senyum di dalam pasukan selama proses pengibaran yakni sang pembawa baki. Ia adalah Nadiya Kaltsum Ulaya.

Memang sudah jadi tugas Nadiya untuk tetap tersenyum selama membawa baki di atas lapangan upacara, di saat teman-temannya yang lainnya memang diperintahkan memasang muka serius dan fokus. Apalagi, Nadiya harus menyemput bendera Merah Putih secara langsung dari Bapak Bupati.

Nadiya merasa lega bisa membawa baki dan bendera Merah Putih dengan baik dan akhirnya sampai ke tangan pengibar bendera. Siswi MAN Insan Cendeki Bangka Tengah itu hanya bisa bangga.

“Rasanya terharu bisa jadi pembawa baki karena enggak semua orang bisa bertatapan langsung dengan bapak Bupati dan saya diberikan kesempatan untuk itu, saya sangat bangga,” kata Nadiya.

Pembawa baki Paskibraka Bangka Tengah, Nadiya Kaltsum saat menerima bendera Merah Putih dari Bupati Bangka Tengah, Ibnu Saleh. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

“Waktu mengambil bendera dari bapak Bupati, itu ada rasa terharu, deg-degan, dan semangat, gembira, semuanya campur aduk jadi satu. Pas Indonesia Raya berkumandang saya nangis,” ucap Nadiya sambil terharu.

Tak hanya itu saja, Nadiya pun sempat bercerita soal suka dukanya selama menjalani pelatihan ‘semi’ militer di Paskibra. Apalagi soal momen tak terlupakannya saat harus berjuang untuk mendapatkan seragam PDU.

“Semua kegiatan enggak akan dilupain. Momen tak terlupakan pastinya waktu pengambilan baju PDU di malam hari. Itu butuh perjuangan banget karena baju PDU itu benar-benar berharga dan bersejarah,” kata perempuan yang bercita-cita ingin jadi akuntan dan berharap bisa kuliah di STAN Jakarta.

Bagi Nadiya, seragam PDU yang dikenakannya saat pengibaran bendera Merah Putih memang sangat ‘mahal’. Butuh perjuangan berat untuk mendapatkannya di mana para anggota Paskibra dibangunkan tengah malam dan harus melewati beberapa ujian.

Senada dengan Okta dan Nadiya, salah satu anggota ‘Pasukan 17’ Paskibra, Julian Jaya Putra, mengaku sangat bangga bisa menjadi bagian dari Paskibra tahun ini. “Rasanya senang, terharu, dan campur aduk pas momen pengibaran bendera,” kata Julian.

“Menjadi Paskibra bisa menambah banyak teman baru dari berbagai latar belakang. Nantinya, cita-cita saya ingin jadi tentara.”

Julian Jaya Putra, Nadiya Kaltsum, dan Okta Firmansyah sesaat setelah selesai menunaikan tugas mengibarkan bendera Merah Putih. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Julian pun sedikit bercerita soal momen tak terlupakan yang ia rasakan selama masa karantina yakni saat diberikan hukuman berguling botol di atas lapangan. Selain itu, momen pengambilan seragam PDU yang penuh tantangan itu juga tak akan ia lupakan.

Ngambil baju PDU pas malam tanggal 13 Agustus adalah momen tak terlupakan. Butuh perjuangan untuk bisa mengambil baju itu,” ucap Julian.

Share: Lika-Liku Paskibraka: Dari Tali Sepatu Sampai ‘Mahalnya’ Seragam PDU