General

Politik Identitas Mengintai Pemilu 2019

OlehChristoforus Ristianto

featured image

Sentimen identitas Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA), serta primordialisme menjadi isu yang diprediksi akan menguat menjelang tahun politik 2019. Kepentingan untuk meraih dukungan massa sebanyak-banyaknya dilakukan dengan berbagai cara, termasuk dengan mengedepankan politik berbasis identitas sebagai strategi untuk memobilisasi massa.

Hal itulah yang mengemuka dalam diskusi bertajuk “Media dalam Dinamika Politik Identitas” yang diselenggarakan oleh Jaringan Indonesia untuk Jurnalisme Investigasi (JARING) dan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, Jumat, 20 Juli 2018 lalu. Pada diskusi itu, hadir Guru Besar Australian National University Ariel Heryanto.

Menurut Ariel, kebencian memang jadi senjata yang digunakan untuk menjatuhkan lawan politik. Ujaran kebencian digunakan untuk menggiring opini publik sehingga salah satu tokoh politik yang sedang bertarung disasar agar reputasinya jatuh di mata publik.

“Ujaran kebencian saat ini begitu hebat dan menjadi kriteria untuk menyerang lawan. Kebencian yang tidak habis-habisnya,” kata Ariel.

Profesor Ariel Heryanto jadi narasumber dalam diskusi bertajuk "Media dalam Dinamika Politik Identitas" di Jakarta, Jumat, 20 Juli 2018.(20/7/2018). Foto: Dok. Asumsi

Menurutnya, kebencian sudah ada dalam sejarah manusia. Sejarah manusia adalah sejarah ketidakadilan. Kendati demikian, ia mengingatkan agar kebencian tidak terjadi pada tingkat elite pejabat. Sebab, dampak yang lebih besar terjadi jika antar elite pejabat partai saling menebar kebencian.

“Kalau ada ketimpangan, pasti ada yang tidak suka. Pemilihan Gubernur DKI Jakarta beberapa waktu lalu menarik karena itu muara dari permasalahan yang berbeda-beda,” ujarnya.

Faktor politik identitas, seperti diungkapkan Ariel, berpotensi menimbulkan segresi sosial yang kuat di tengah masyarakat. Maka dari itu, ia menyayangkan masih adanya individu atau kelompok masyarakat yang membeda-bedakan asli dan palsu.

Tidak hanya suku, agama, dan ras, tetapi kerinduan asli dan palsu juga terjadi pada ideologi hingga seksualitas. Kerinduan asli, kurang asli, dan palsu tersebut juga santer terdengar saat Prabowo Subianto mengaku ilmu Islamnya kurang saat menghadiri acara Itjimak Ulama dan Tokoh Nasional beberapa waktu lalu.

Kemudian, muncul pandangan mengenai asli dan kurang asli terhadap agama seseorang.  “Selama ini masih ada, kita akan terus beperang akan melawan orang yang kurang asli atau kurang asli,” ucapnya.

“Ini adalah penyakit, katakanlah racun. Sebuah angan-angan atau harapan dengan apa yang disebut asli atau murni.”

Ariel Heryanto saat memberikan penjelasan soal bagaimana politik identitas berperan dalam Pemilu 2019. Foto: Dok. Asumsi

Sementara itu, berdasarkan laporan penelitian Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) dalam laporan penelitianya berjudul “Potensi Penggunaan Suku, Agama, RAS, dan Antargolongan dalam Pemilihan Kepala Daerah Serentak Tahun 2018” tahun 2017, ada tiga sumber informasi yang menyebarkan isu SARA dalam ruang politik, yaitu media sosial, media daring, dan media konvensional.

Apalagi penetrasi penggunaan internet di Indonesia beberapa tahun belakangan ini memang fantastis. Menurut laporan yang dirilis oleh Statista, tahun 2015 pengguna internet di Indonesia mencapai 93,4 juta orang atau mencapai 37,8% dari seluruh populasi penduduk Indonesia sudah terkoneksi dengan internet. Pengguna internet Indonesia akan terus bertambah dan diprediksikan tahun 2019 akan mencapai 133,5 juta jiwa.

Sementara itu, Nezar Patria menyatakan, sepanjang media arus utama menjaga kode etik jurnalistik dan profesionalisme wartawan dengan baik, maka sejatinya media memiliki peran yang positif. Baginya, mustahil jika mengharapkan media 100 persen netral.

“Akan tetapi saya setuju jika media memiliki keberpihakan pada sebuah peristiwa, itu namanya demokrasi,” ujarnya.

Sekadar informasi, Pendaftaran calon presiden dan wakil presiden sudah dibuka sejak 4 Agustus sampai 10 Agustus 2018 nanti. Belum ada pasangan capres dan cawapres yang mendaftar, lantaran baik Joko Widodo maupun Prabowo Subianto belum menentukan sosok cawapres pendampingnya.

Share: Politik Identitas Mengintai Pemilu 2019