Budaya Pop

Skyscraper: Film Aksi di Luar Nalar Logika, Namun Tetap Oke (Spoiler Alert!)

OlehHafizh Mulia

featured image

Salah satu film yang sedang tayang di bioskop Indonesia saat ini adalah Skyscraper (2018). Dari judulnya sendiri, sudah ditebak bahwa film ini akan berurusan dengan gedung pencakar langit.

Film yang dibintangi oleh Dwayne Johnson aka The Rock ini berusaha menyuguhkan film aksi dengan latar belakang utama adalah gedung super tinggi di Hong Kong. Penasaran seperti apa film tersebut? Berikut ulasan mengenai Skyscraper ala Asumsi! *Skyscraper*

Plot Cerita yang di Luar Logika

Dalam film ini, pemeran utama adalah Dwayne Johnson. Screentime dari aktor ini sangatlah banyak, hampir dari awal sampai akhir diisi oleh dirinya. Sayangnya, kualitas akting dari Dwayne Johnson dan beberapa pemeran film lain yang juga mengisi film ini tidak diikuti dengan nalar logika yang bisa diterima.

Oke, memang film aksi memang sulit untuk diterima dalam nalar logika. Namun sayangnya, nalar di luar logika ini justru menjadi bumerang bagi film ini sendiri. Kalau untuk film superhero, plot cerita di luar nalar logika merupakan hal yang bisa diterima. Sedangkan dalam film ini, logika suasana yang bertemakan real life tidak sesuai dengan suguhan aksi yang diberikan oleh The Rock.

Mari mulai dari cerita yang paling di luar logika. Diceritakan dalam film ini, The Rock merupakan mantan tentara yang kini menjadi pengusaha yang menawarkan jasa keamanan gedung. Dalam cerita ini, The Rock yang berperan sebagai Will Sawyer telah kehilangan satu kakinya dan harus menggunakan kaki palsu untuk membantunya beraktivitas.

Namun anehnya, dalam satu adegan, ia dapat memanjat crane setinggi 90-an lantai untuk menyelamatkan keluarganya dari kebakaran gedung! Yang lebih parahnya lagi, ia berlari dan loncat dari ujung crane ke arah gedung yang telah rusak dengan jarak lebih dari 3 meter dan dapat bergelantungan dengan satu tangan!

Kemudian, salah satu plot di luar logika yang sulit diterima lainnya adalah ketika Will Sawyer harus bergelantungan untuk membuka kunci keamanan ruang khusus milik pemimpin perusahaan yang memiliki gedung. Ia harus berjalan menyusuri pinggiran jendela gedung, bergerak ke arah turbin tenaga yang sedang berputar kencang, dan dengan hanya bergelantungan pada seutas tali saja! Meskipun hal ini mungkin, tapi untuk logika kondisi ini sulit diterima.

Terlepas dari logika tersebut, sebenarnya film ini sah-sah saja berkreasi dengan plot yang ingin dibuatnya. Namun hal tersebut juga tentu memberikan penonton ‘rasa’ yang berbeda. Ketika plot tersebut tidak masuk akal tetapi pada porsinya, tentu hal ini akan membuat film tersebut justru menjadi brilian.

Sebut saja seperti Keyser Soze dalam film The Usual Suspect. Ia secara tidak masuk akal berhasil mengelabui semua polisi. Namun, ketidakmasukakalan tersebut dapat diterima, sehingga membuat film tersebut justru menjadi salah satu all time greatest movies.

Kinerja Pemeran Film Skyscraper yang Oke Punya

Terlepas dari plot film yang tidak masuk akal, pemeran film Skyscraper ini patut diacungi jempol. Pembawaan mereka membuat film ini menjadi tidak membosankan, terutama dari Dwayne Johnson itu sendiri.

Selain itu, Neve Campbell juga amat hebat memerankan Sarah Sawyer, istri dari Will Sawyer yang amat baik mengeksekusi peran sebagai perempuan yang dapat mengontrol kondisi mencekam pada anak-anaknya. Kemudian, Roland Møller juga berhasil memerankan Kores Botha, penjahat ulung yang ingin menghancurkan gedung utama yang menjadi latar belakang film ini.

Post-Production dan Pengambilan Video Yang Penuh Kualitas

Salah satu yang membuat film ini dapat dinikmati dan tidak membuat penontonnya tertidur selama hampir 2 jam adalah kualitas post-production dan pengambilan gambar yang sangat baik. Untuk pengambilan video, salah satu yang menunjukkan adanya kualitas adalah ketika beberapa aksi Will Sawyer diambil dengan cara sempurna.

Contohnya ketika Will meloncat dari crane, pengambilan video yang dipilih adalah dengan memperlihatkan secara jelas jarak, ketinggian, dan skala antara Will dan loncatan yang dilakukannya. Jika tidak dieksekusi dengan baik, tentu loncatan ini menjadi scene yang sulit dimengerti konteks dan suasananya.

Untuk kualitas post-production, salah satu yang terlihat nyata hebatnya adalah pada scene yang menunjukkan suasana dari luar saat elevator naik dan turun. Dari gambar tersebut, tidak terlihat sekali kecacatan dan kesalahan. Selain itu, kualitas post-production yang baik juga terlihat pada scene di ruangan penuh kaca. Perlu diketahui bahwa mengambil scene di ruangan penuh kaca merupakan salah satu trik sendiri.

Namun, tidak sama sekali terlihat kesalahan dalam scene tersebut. Entah penggunaan CGI yang benar-benar rapi atau hebatnya pengambilan video sehingga tidak ada kebocoran dalam scene tersebut (dalam kasus penggunaan kaca asli), scene ini patut diapresiasi.

Share: Skyscraper: Film Aksi di Luar Nalar Logika, Namun Tetap Oke (Spoiler Alert!)