Isu Terkini

Diantar Serombongan Sampai Dapat Gelar Baru, Ini 4 Hal Unik Tradisi Haji di Indonesia

Winda Chairunisyah Suryani– Asumsi.co

featured image

Sebagai salah satu rukun Islam, Haji merupakan ibadah yang dinanti-nantikan umat Muslim seluruh dunia. Begitu juga dengan di Indonesia, semua berlomba-lomba menabung untuk bisa punya kesempatan ziarah ke Mekkah, kota suci umat Islam.

Tahun ini aja, kata Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, kuota haji yang diberikan pemerintah Kerajaan Arab Saudi mencapai 221.000 jemaah. Jumlah ini mengalami penambahan sebanyak 10 ribu dari kuota haji pada tahun 2017 yaitu sebesar 211.000 jemaah.

"Kuota haji Indonesia tahun 2018 dari pemerintah Kerajaan Arab Saudi sebesar 221.000 jemaah," ujar Lukman dalam rapat kerja dengan Komisi VIII DPR di gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin, 22 Januari 2018 lalu.

Gelombang pertama pemberangkatan jemaah haji asal Indonesia juga udah mulai sampai di tempat tujuan.

"Alhamdulillah sampai terakhir kloter PLM-09, berjalan dengan lancar tidak ada kendala satupun," ujar Sekretaris Daker Bandara, Abdillah di Bandara AMA, Senin, 30 Juli 2018.

Tentu, pemberangkatan itu udah melewati serangkaian persyaratan dari Kementerian Agama. Tapi, ada beberapa hal unik yang biasanya dilakukan masyarakat Indonesia sebelum dan sesudah berangkat ke tanah suci, apa aja?

1. Buat Hajatan Berhari-Hari

Umumnya nih, rumah para calon jemaah haji bakalan terus ramai didatangi saudara, kerabat, hingga tetangga sekitar rumah. Sebelum keberangkatan, biasanya juga akan ada pengajian-pengajian yang dilakuan enggak cuma sekali doang.

Momen itu hampir sama kayak orang yang punya hajat pernikahan atau khitanan, enggak cuma sekedar pengajian biasa yang dilakukan ibu-ibu di siang hari, tapi akan ada kue-kue untuk suguhan, bahkan juga makanan berat seperti nasi dan lauk pauknya yang bisa dibawa pulang oleh orang-orang yang bertandang ke rumah calon jemaah haji.

Tapi, ada juga tradisi di mana orang-orang yang datang akan menghormati tuan rumah dengan ngebawa bingkisan, semacam beras, gula, dan kebutuhan dapur lainnya. Atau buat yang enggak mau repot, para tamu juga bisa bawa amplop berisi uang.

Bahkan ada juga tradisi di beberpa daerah, saat sebelum berangkat, terlebih dahulu diadakan upacara pemberangkatan dengan mendatangkan tokoh masyarakat dan juga tokoh agama bertempat di rumah ataupun di Masjid. Dalam acara itu, calon haji bakal berpamitan kepada seluruh yang hadir, memohon maaf, memohon restu, dan memohon doa agar ibadah mereka di tanah suci berjalan lancar, tentunya memohon doa agar diberikan kesehatan dan keselematan hingga bisa sampai ke tanar air.

2. Diantar Satu Rombongan

Kebiasaan lain yang terjadi di daerah-daerah tertentu di Indonesia yaitu saat prosesi pengantaran calon jemaah haji. Jadi, enggak perlu nunggu ada karnaval atau festival, saat ada yang mau naik haji, biasanya pihak keluarga, kerabat dekat, atau tetangga sekitar bakalan ikut nganter calon jemaah haji sampai ke pendopo kabupaten atau kotamadya, yang selanjutnya akan dibawa ke embarkasi.

Jangan heran, di agenda penghantaran calon haji itu biasanya diiringi isak tangis oleh para keluarga saat doa pelepasan . Jadi kayak tradisi saat Idul Fitri, satu persatu mereka bersalaman dan saling berangkulan saling memaafkan, tapi juga sebagai tanda pelepasan.

Satu calon haji biasanya membawa rombongan lebih dari satu atau dua mobil yang terisi penuh dengan penumpang. Sesampainya di pendopo kabupaten hanya mobil calon haji yang bisa memasuki halaman pendopo yang selanjutnya menurunkan calon haji saja. Para pengantar itupun hanya bisa melihat calon haji dari kejauhan di luar pagar pendopo kabupaten, mereka menunggu sampai calon haji berangkat ke tanah suci.

3. Bawa Oleh-Oleh Khas Mekkah

Buah tangan menjadi suatu hal yang juga enggak bisa dipisahkan dari perjalanan suci ke Mekkah. Meskipun enggak ada di rukun haji, tapi sepertinya bawa oleh-oleh udah menjadi salah satu hal yang wajib para jemaah haji yang baru pulang ke tanah air.

Oleh-oleh yang khas banget itu di antaranya, air zamzam, kurma, kacang-kacangan, coklat Arab, buku-buku hadiah dari pemerintah Arab Saudi, dan baju muslim. Tapi, sebenarnya, para ulama melarang agar pengikutnya tidak menerima pemberian dari orang yang bawa oleh-oleh dengan terpaksa karena khawatir dapat celaan.

"Seandainya seseorang meminta suatu harta untuk dihibahkan ke dirinya di depan umum, lalu ia malu untuk tidak memberinya, sedangkan jika ia berharap andai saja ia di tempat sepi sehingga ia bisa menolaknya, maka ia pun memberinya, maka tidak halal baginya... Demikian pula untuk setiap pemberian yang disebabkan takut akan keburukannya atau kejelekan komentarnya," Al Fatawa Al Fiqhiyah Al Kubra jilid 3 hal 363-364.

4. Gelar ‘Haji’ Atau ‘Hajah’ yang Disematkan Di Depan Nama

Sebenarnya, arti kata Haji sendiri secara kebahasaan berarti menziarahi, mengunjungi. Jadi tepatnya istilah ini digunakan untuk orang yang mau beribadah haji, bukan untuk mereka yang udah selesai melaksanakannya.

Tapi, tentu kalian udah enggak asing lagi jika ada masyarakat Indonesia yang menyematkan gelar tambahan di depan namanya dengan sebutan haji (untuk laki-laki) dan hajjah (untuk perempuan). Perlu kalian tahu, penambahan gelar itu cuman terjadi pada orang-orang Indonesia dan Malaysia aja.

Dilansir dari situs resmi Kantor Kementerian Agama Kabupaten Kerinci, sejarah penyematan nama itu berasal sejak zaman penjajahan Belanda. Dulu, Belanda sangat membatasi gerak-gerik umat muslim dalam berdakwah, karena takut akan adanya pemberontakan.

Contohnya adalah Muhammad Darwis yang pergi haji dan ketika pulang mendirikan Muhammadiyah, Hasyim Asyari yang pergi haji dan kemudian mendirikan Nadhlatul Ulama, Samanhudi yang pergi haji dan kemudian mendirikan Sarekat Dagang Islam, Cokroaminoto yang juga berhaji dan mendirikan Sarekat Islam.

Hal-hal seperti itulah yang akhirnya merisaukan pihak Belanda. Sehingga, berdasarkan ketentuan Peraturan Pemerintahan Belanda Staatsblad tahun 1903, para ulama harus ngasih penambahan gelar haji di depan nama mereka. Hal itu dilakukan untuk memudahkan pengawasan para jemaah haji, agar mereka enggak bikin pemberontakan atau melakukan makar.

Tapi, meskipun Indonesia udah merdeka, penyematan gelar Haji dan Hajah tetap bisa kita temukan hingga saat ini.

Share: Diantar Serombongan Sampai Dapat Gelar Baru, Ini 4 Hal Unik Tradisi Haji di Indonesia