General

Pernah Jadi Anggota DPR RI, Ini 4 Artis yang Dinilai Punya ‘Kelebihan’ di Pileg 2019

OlehRamadhan

featured image

Pemilihan Legislatif (Pileg) 2019 dipastikan akan diwarnai sederet artis Indonesia. Sejak pendaftaran ditutup Selasa, 17 Juli kemarin, ada total 54 artis dari 16 partai politik yang sudah terdaftar sebagai Calon Legislatif (Caleg) dan akan bersaing menuju Senayan.

Beragam reaksi pun muncul seiring banyaknya artis yang ramai-ramai maju untuk menjadi wakil rakyat di 2019 nanti. Ada yang menganggap bahwa artis hanya sebagai pendulang suara saja, dinilai kurang kompeten, sampai ada yang menganggap bahwa artis hanya menang popularitas saja.

Sejauh ini, nyaris semua citra negatif dialamatkan kepada para caleg artis yang akan bertarung di Pileg 2019 nanti. Meski begitu, Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) RI Wahyu Setiawan yakin parpol sudah mempertimbangkan betul kapasitas dan track record caleg dari kalangan artis tersebut.

"Kita percaya bahwa parpol tentu sudah mempertimbangkan banyak hal, utamanya terkait kemampuan dan rekam jejaknya (caleg dari kalangan artis)," kata Wahyu di Kantor KPU RI, Jakarta, Kamis, 19 Juli.

"Pada saatnya nanti, masyarakat yang akan menilai, memilih melalui hak politiknya," ujar mantan anggota KPU Jawa Tengah tersebut.

Meski lebih banyak nada sumbang ketimbang citra positif, namun kalau dilihat lagi, ternyata ada beberapa artis yang dinilai memiliki kemampuan berpolitik yang lumayan, terutama karena sebelumnya sudah pernah jadi anggota DPR RI. Siapa saja mereka?

Tantowi Yahya (Golkar)

Siapa yang tak kenal Tantowi Yahya, sosok presenter yang dikenal sebagai pembawa acara kawakan TVRI dan kuis “Who Wants to Be a Millionaire?” yang dulu seliweran di televisi. Tantowi dinilai punya kapasitas sebagai seorang politisi.

Ya, Tantowi pernah menjadi anggota DPR RI dari Partai Golkar selama dua periode yakni sejak 2009-2014, lalu kariernya di parlemen berlanjut hingga ke periode 2014-2019. Di Senayan, sosok kelahiran Indralaya, Sumatera Selatan, 29 Oktober 1960 itu tergabung di Komisi I.

Tak hanya itu saja, Tantowi juga saat ini menjabat sebagai Wakil Ketua Badan Kerjasama Antar Parlemen (BKSAP). Selain itu, Tantowi juga menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Selandia Baru, merangkap Samoa dan Kerajaan Tonga, berkedudukan di KBRI Wellington.

Tantowi sendiri mengenyam pendidikan di bidang pariwisata, seperti Akademi Kepariwisataan Indonesia (AKI) tahun 1979, lalu lanjut di National Hotel Institute (NHI). Namun, popularitas sebagai pembawa acaralah yang membawa Tantowi akhirnya berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan.

Nurul Arifin (Golkar)

Nurul Arifin sudah berkarier di dunia perfilman Indonesia selama puluhan tahun, terutama sejak pertama kali muncul di layar lebar pada 1984 dalam film “Hati yang Perawan”. Setelah itu, Nurul terjun ke dunia aktivis dan kerap membantu korban AIDS, narkoba, dan kekerasan terhadap perempuan.

Nurul sempat menerima sejumlah penghargaan saat menjadi aktivis seperti Artis Peduli AIDS dari Yayasan Pelita serta penghargaan nasional Wira Kencana dari BKKBN Pusat pada 2004.

Selain itu, Nurul juga pernah mendapatkan penghargaan skala internasional dari World Forum-Swiss, sebagai Young Global Leaders pada Januari 2015.

Dunia aktivis tersebutlah yang akhirnya membawa Nurul berkecimpung ke dunia politik. Perempuan kelahiran Bandung, 18 Juli 1966 itu peduli dan kerap menyuarakan isu-isu perempuan.

Akhirnya, Nurul pun meningkatkan pengetahuan dan kemampuannya dengan menempuh pendidikan Ilmu Politik di Universitas Indonesia pada 2004. Nurul juga melanjutkan pendidikan S2 Ilmu Politiknya di UI.

Setelah menyelesaikan program S2, Nurul menjadi dosen Ilmu Politik di Universitas Nasional Jakarta.

Lalu, setahun setelah bergabung dengan Golkar, Nurul terpilih menjadi anggota DPR RI dan duduk di Komisi II. Nurul bertugas di parlemen selama dua periode yakni 2004-2009 dan 2009-2014.

Sayangnya, perempuan berusia 52 tahun itu justru gagal terpilih untuk ketiga kalinya sebagai wakil rakyat. Tahun 2018, Nurul juga gagal saat maju di Pilwalkot Bandung bersama kader Partai Demokrat, Chairul Yaqin Hidayat.

Meski begitu, saat ini Nurul menduduki jabatan strategis sebagai Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar. Ia pun kembali akan maju sebagai caleg dari Partai Golkar di Pileg 2019 nanti.

Rieke Diah Pitaloka (PDIP)

Rieke Diah Pitaloka merupakan sosok politisi dari PDI Perjuangan. Perempuan kelahiran Garut, Jawa Barat pada 8 Januari 1974 silam itu tercatat pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014.

Sebelum terjun ke dunia politik, Rieke merupakan seorang penulis buku, pembawa acara dan pemain film di sejumlah sinetron Indonesia. Pemilik nama lengkap Rieke Diah Pitaloka Intan Purnamasari identik dengan peran Oneng di serial bajaj Bajuri.

Rieke sendiri pernah mengenyam pendidikan S1 di Fakultas Sastra Belanda UI dan S1 Filsafat STF Driyakara, Jakarta. Selain itu, Rieke juga sukses menyelesaikan pendidikan S2 di jurusan Filsafat UI.

Bahkan tesisnya yang berjudul "Banalitas Kejahatan: Aku yang tak Mengenal Diriku, Telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan Negara dijadikan buku dengan judul Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat diterbitkan oleh Galang Press.

Rieke pernah menduduki jabatan wakil sekretaris jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) pimpinan Muhaimin Iskandar. Namun, Rieke akhirnya mengundurkan diri dan bergabung dengan PDIP pimpinan Megawati Soekarnoputri.

Rieke tercatat pernah menjadi anggota DPR RI periode 2009-2014 dari PDI-P untuk Daerah Pemilihan Jawa Barat II. Di parlemen, Rieke tergabung di Komisi IX yang konsen di bidang kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

Sebagai anggota Komisi IX , Rieke merupakan salah satu anggota Panitia Khusus RUU BPJS yang merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional.

Pada April 2016 lalu, Rieke dirotasi dari Komisi IX yang menangani bidang kesehatan dan ketenagakerjaan. Kini ia merupakan anggota Komisi VI yang membidangi perdagangan, perindustrian, investasi, koperasi, Usaha Kecil Menengah.

Eko Patrio (PAN)

Eko Patrio dikenal secara luas sebagai komedian bersama Akrie dan Parto dalam grup Patrio. Namun, kemudian dia melebarkan sayapnya di dunia entertainment sebagai presenter.

Tak cukup sampai di situ, Eko pun menjajal peruntungannya di dunia politik dengan menjadi caleg dan berhasil lolos sebagai anggota DPR RI dari Partai Amanat Nasional (PAN) selama dua periode yakni pada 2009-2014 dan 2014-2019.

Pada Pemilu 2009, Eko maju sebagai caleg dari PAN. Saat itu, pria kelahiran Tanjung Anom, Nganjuk, Jawa Timur, 30 Desember 1970 ini mengaku serius maju dengan alasan akan memperjuangkan dunia seni lewat Senayan.

Eko sempat merasakan terjalnya dunia politik di Indonesia. Hal itu terlihat saat pria yang mengenyam pendidikan di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik di Jakarta itu, sempat terjegal lantaran keputusan Mahkamah Agung (MA) yang menganulir hasil Pemilu Legislatif 2009.

Meski begitu, nasib baik masih berpihak padanya, sehingga Eko tetap bisa masuk ke Senayan untuk menjadi anggota DPR dan duduk di Komisi yang membidangi pendidikan dan kesenian. Lalu, Eko kembali terpilih jadi anggota DPR 2014-2019.

Share: Pernah Jadi Anggota DPR RI, Ini 4 Artis yang Dinilai Punya ‘Kelebihan’ di Pileg 2019