Isu Terkini

Sepak Bola Indonesia Terganjal Kepentingan Edy Rahmayadi

OlehChristoforus Ristianto

featured image

Presiden Joko Widodo menjagokan PSSI ketika ditanya wartawan sebelum semifinal Piala Dunia 2018 antara Inggris vs Kroasia. Bagi Jokowi, PSSI adalah pemenang. Akan tetapi, kini Ketua Umum PSSI Edi Rahmayadi malah didesak masyarakat Indonesia untuk melepaskan jabatannya.

Desakan tersebut santer terdengar setelah Edy bersama pasangannya Musa Rajekshah menjadi pemenang dalam pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatera Utara 2018 berdasarkan rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Melalui laman Change.org, pegiat antikorupsi dari Indonesia Corruption Watch (ICW) Emerson Yuntho menggalang tanda tangan petisi yang bertajuk “Edy Harus Mundur Sebagai Ketua Umum PSSI”. Hingga Selasa (17/7/2018) pukul 12.14 WIB, sudah 47.303 yang menandatangani petisi ini.

“Melalui petisi ini dan demi masa depan sepak bola Indonesia kami meminta Bapak Edy Rahmayadi mundur sebagai Ketua Umum PSSI,” tulis Emerson dalam petisi.

Namun, hingga kini status Edy belum berubah yang sudah ditegaskan oleh Sekretaris Jenderal PSSI Tisha Destria.

“Tidak berubah meski jadi Gubernur Sumatera Utara,” katanya awal Juli lalu.

Ketua "Save Our Soccer Indonesia" Akmal Marhali mengungkapkan, keputusan PSSI dengan mempertahankan Edy sebagai Ketua Umum PSSI adalah tidak tepat. Sebab, sepak bola Tanah Air masih membutuhkan perhatian penuh dengan banyaknya kekurangan seperti pelemparan terhadap pemain Malaysia saat semifinal Piala AFF U-19 2018 melawan Indonesia (Kamis 12/7/2018).

“Sebagai seorang ketua, Edy tidak bisa mengemban dua tugas sekaligus sebagai Ketua PSSI dan gubernur,” ucapnya kepada Asumsi, Senin (16/7/2018).

Jika masih mempertahankan Edy, seperti diungkapkan Akmal, hal itu menjadi rentetan contoh butuh manajemen olahraga Indonesia. Apalagi Edy juga melanggar regulasi yang melarang Kepala Daerah rangkat jabatan sebagai pengurus PSSI. Larangan ini diatur dalam Surat Edaran Mendagri Nomor 800/148/sj/2012 tanggal 17 Januari 2012 tentang larangan perangkapan jabatan kepala daerah dan/atau wakil kepala daerah pada kepengurusan KONI, PSSI, klub sepak bola profesional dan amatir, serta jabatan publik dan jabatan struktural.

“Sepak bola kita ini sulit banget berprestasi karena dikelola dengan tidak baik. Ia bisa saja lho menggunakan dana pemerintah untuk klub yang dimilikinya, yaitu PSMS Medan,” geramnya.

Masih Tertinggal

Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi sempat mengomentari penyelenggaran Piala Dunia 2018 yang bisa menjadi inspirasi bagi PSSI guna memajukan sepak bola Indonesia. Namun, sepak bola Tanah Air akan sulit berkembang jika Ketua Umum PSSI memiliki rangkap jabatan.

Jika dibandingkan dengan negara lingkup Asia Tenggara, yakni Vietnam, Indonesia masih berbeda jauh dalam perkembangan sepak bolanya. Salah satunya berkat pemimpin yang kapabel dan penuh dengan kestabilan, yaitu Presiden VFF (federasi sepak bola Vietnam) Le Hung Dung.

Le Hung Dung melakukan beberapa perubahan dalam sepak bola Vietnam, salah satunya melalui tata kelola pembinaan terhadap pemain-pemain muda Vietnam dan kompetisi lokal yang baik.

“Memang telah ada konsentrasi yang sangat besar dari kami untuk pembinaan level muda dalam sepak bola Vietnam yang juga sejalan dengan sistem pendidikan kita, dan saya terus terang berterima kasih banyak terhadap AFC untuk dukungan serta bantuan mereka untuk sepak bola kami sejauh in,” tutur Le Dung Hung.

Tak ayal, Vietnam sukses menjadi finalis Piala Asia U-23 2018 di Tiongkok pada 27 Januari silam. Alhasil, negara yang berjuluk “Vietnam Rose” kini bertengger di peringkat 102 dalam laman FIFA. Adapun Indonesia berada di peringkat 164.

Share: Sepak Bola Indonesia Terganjal Kepentingan Edy Rahmayadi