Budaya Pop

Pro Kontra IGTV, Mengapa Masih Sepi Peminat?

Winda Chairunisyah Suryani– Asumsi.co

featured image

Setiap perubahan dan perkembangan akan selalu memunculkan perasaan suka atau tidak suka. Itu sudah menjadi hal yang lumrah, lantaran kita enggak akan bisa maksa agar semua orang bisa suka dengan adanya sebuah perubahan. Begitu juga dengan perubahan-perubahan yang ada di salah satu media sosial, semacam Instagram.

Jika dulunya para pengguna terbiasa menggunakan Instagram untuk mem-posting foto saja, kini para pengguna justru lebih sering mengunggah aktivitasnya di fitur Instagram Stories, sebuah fitur yang memungkinkan para penggunanya membagikan video berdurasi 15 detik dengan berbagai filter. Berangkat dari situ, Instagram meluncurkan fitur baru yang bernama IGTV.

Instagram yang mengaku udah berhasil menggaet sampai 1 miliar pengguna itu memberikan dua pilihan untuk mereka yang ingin menonton video di IGTV, ada aplikasi yang berdiri sendiri, dan bisa juga langsung menonton melalui aplikasi Instagram-nya langsung. Di IGTV, memungkinkan pengguna untuk memposting video dengan durasi lebih dari satu menit, dan maksimal satu jam.

Dalam situs resmi Instagram, mereka mengklaim kalau IGTV punya konsep seperti televisi, di mana video akan mulai dengan sendirinya saat kita ngebuka aplikasi.

Just like turning on the TV, IGTV starts playing as soon as you open the app. You don’t have to search to start watching content from people you already follow on Instagram and others you might like based on your interests,” tulis Instagram.

Pro dan Kontra Kehadiran IGTV

Jika udah pernah nyoba menengok IGTV, tentu kalian udah cukup paham kalau video-video di IGTV dapat ditonton secara full screen dengan layar vertikal, dan beresolusi 4K. Memang, kehadiran IGTV ini diperuntukkan untuk mereka yang ingin melihat ‘stories’ dengan durasi yang lebih lama. Namun, sejak diluncurkan secara resmi pada 20 Juni, IGTV sepertinya hanya cocok buat mereka yang punya banyak kuota internet.

Padahal, katanya IGTV ini bakalan menjadi pesaing YouTube lantaran bisa menggaet uang dengan cara menampilkan iklan. Sayangnya, IGTV belum secanggih YouTube. Situs web berbagi video yang dibuat oleh tiga mantan karyawan PayPal itu menyediakan beberapa pilihan kualitas resolusi. Tak sampai di situ, di YouTube juga bisa menyimpan bebera video dengan fitur offline, jadi para pengguna akan lebih hemat.

Sedangkan, IGTV enggak menyediakan layaknya YouTube tersebut. Hal ini pada akhirnya bisa menyebabkan penggunaan kuota yang boros. Belum lagi kita dihadapkan dengan masalah yang sering dialami oleh penyedia jasa video streaming, di mana pengguna diharuskan punya jaringan yang sangat bagus.

Jadi, kalau internet kurang lancar, kita cuma bisa lihat video IGTV dengan kualitas yang jelek dan terputus-putus. Hal itu menjadikan IGTV sepertinya masih kurang dilirik oleh masyarakat Indonesia. Sebab, negara kita yang hobinya memblokir media sosial iniw punya jaringan 4G yang paling mengenaskan di Asia.

Berbeda dengan fitur ‘Question’ yang langsung ramai-ramai digunakan para pengguna Instagram, IGTV di Indonesia justru masih sepi, karena orang malas buka fitur IGTV.

Perubahan Zaman Dari Video Horizontal Ke Vertical

IGTV hadir untuk video dengan format 9:16 atau vertikal. Jadi, para pengguna enggak usah repot-repot memutar smartphone kalau mau nonton ataupun merekam video. Merekam video dengan format 9:16 itu dilabeli VVS (Vertical Video Syndrome).

Meski enggak bisa dikatakan salah, tapi nyatanya video dengan format VVS ini sempat jadi olok-olokan. Mulai dari video Glooveandboots, YouTuber Dan Brown, bahkan sampai ada yang buat situs khusus untuk menolak kehadiran video dengan format vertikal itu, situ itu bernama Saynotoverticalvideos.

Salah satu alasan terbesar mengapa video dengan format vertikal dikritisi adalah karena akan terlihat sangat aneh ketika dipindahkan ke layar horizontal seperti TV atau layar monitor.

Share: Pro Kontra IGTV, Mengapa Masih Sepi Peminat?