Budaya Pop

Ini Dia 5 Kisah Inspiratif Pesepakbola Yang Bikin Kamu Semangat Mengejar Impian!

OlehHafizh Mulia

featured image

Piala Dunia 2018 telah memasuki babak perempat final. Sudah banyak negara-negara, tidak terkecuali negara-negara kuat seperti Argentina dan Spanyol, yang harus mengubur asa mendapatkan piala sepak bola paling bergengsi di dunia di tahun 2018 ini. Melihat ke belakang, Piala Dunia 2018 kali ini tidak hanya tentang menang dan kalah. Lebih dari itu, banyak juga cerita inspiratif yang dapat diambil dari pemain dan pelatih yang mengikuti Piala Dunia 2018.

Salah satu yang paling terkenal adalah cerita tentang pemain dan pelatih Islandia yang bekerja secara semi-profesional di sepak bola, karena sebenarnya mereka memiliki pekerjaan tetap lain di luar sepak bola, tetapi tetap dapat lolos ke Piala Dunia kali ini. Selain dari cerita tentang tim nasional Islandia, ASUMSI sudah merangkum lima cerita inspiratif lain yang ga boleh kamu lewatin. Penasaran? Yuk, cari tahu!

Jamie Vardy

sumber foto: twitter @vardy7

Kisah hidup Jamie Vardy ini benar-benar dapat dikatakan sebagai cerita yang luar biasa. Sebagai pesepak bola muda di umur 16 tahun, klub Sheffield Wednesday menolak untuk mengontrak ia secara resmi karena dianggap tidak memiliki kualitas yang sesuai standar. Ia pun mengalami banyak kegagalan percobaan di klub lain. Di umur 23, klub sepak bola Halifax yang kala itu bermain di kasta ketujuh, mengontrak Vardy. Semusim tampil gemilang bersama Halifax, Vardy pun menandatangani kontrak untuk klub yang berada di kasta kelima, Fleetwood Town. Di klub ini, ia bermain hingga akhir musim 2011-2012 dan mencetak 31 gol di liga.

Statistik tersebut cukup untuk meyakinkan Leicester City, yang di musim 2012-2013 akan bermain di kasta kedua, memboyong Vardy dengan rekor pembelian terbesar sepanjang sejarah kasta non-liga, yaitu 1 juta poundsterling. Di musim itu, Vardy tidak begitu gemilang. Di umurnya yang ke 26 tahun, ia pun merasa lebih baik meninggalkan sepak bola. Untungnya, pelatih Leicester City kala itu, Nigel Pearson, dan Craig Shakespeare, berhasil meyakinkan Vardy untuk tetap bertahan.

Benar saja, Vardy pun tidak salah untuk mengurungkan niatnya. Di musim 2014-2015,  Leicester City berhasil promosi sebagai hasil dari performa gemilang Vardy di musim sebelumnya. Performa Vardy pun terus menanjak, hingga di musim 2015-2016, Leicester City secara mengejutkan memenangkan Liga Primer, kasta pertama sepak bola seluruh Inggris. Performa Vardy yang terus gemilang semenjak musim 2013-2014 untuk Leicester City membuat ia dipanggil tim nasional Inggris di tahun 2015. Ia pun bermain di Euro 2016 sebagai striker cadangan. Puncaknya, kini Vardy berhasil dipanggil untuk bermain di Piala Dunia 2018 dan akan bertanding melawan Swedia untuk memperebutkan tiket semifinal. Dengan perjalanannya sebagai pemain yang dipecat karena dianggap tidak berkualitas, bermain di kasta ketujuh di umur 23 tahun, dan akhirnya berhasil menjuarai liga dan dapat mewakilkan Inggris di Piala Dunia, Vardy tentunya dapat menjadi model acuan untuk para pemain sepak bola muda untuk terus mengejar impian setinggi mungkin.

Gabriel Jesus

sumber foto: twitter @gabrieljesus33

Cerita Gabriel Jesus merupakan cerita lain yang juga menginspirasi. Di tahun 2012, Gabriel Jesus muda masih bermain untuk tim akar rumput di Brazil bernama Varzea. Namun, bukan berarti Jesus tidak ingin bermimpi lebih tinggi. Dengan kemampuannya yang mumpuni, ia pun berhasil dikontrak Palmeiras. Di tahun 2014, ia berhasil mencetak 37 gol di 22 permainan untuk Palmeiras U-17.

Di tahun yang sama, Brazil pun sedang mengadakan gelaran Piala Dunia. Di Piala Dunia tersebut, Gabriel Jesus pun tentunya belum menjadi pemain tim nasional Brasil senior. Jangankan bermimpi untuk bermain di tim nasional Brasil, ia justru bekerja untuk mewarnai trotoar menyambut Piala Dunia.

Pintando a rua para a copa de 2014 ????????⚽️???????????? pic.twitter.com/U5tjOATgNY— Gabriel Jesus (@gabrieljesus33) May 30, 2017

Meskipun begitu, ia tak pernah berhenti untuk bermimpi dan mengasah kemampuan. Di tahun 2016, ia pun dikontrak oleh Manchester City. Ia juga telah bermain untuk tim nasional Brasil U-20 kala itu. Kemampuannya yang semakin terasah di Manchester City dan tim nasional Brasil muda membuat ia dipanggil tim nasional Brasil senior. Di gelaran Piala Dunia 2018 kali ini, ia pun didaulat untuk memimpin barisan depan tim nasional Brasil. Dalam empat tahun, Jesus berhasil bertransformasi dari pengecat jalanan demi menyemarakkan Piala Dunia di Brasil menjadi pemimpin lini depan tim nasional Brasil di Piala Dunia.

Alireza Beiranvand

Beiranvand merupakan pemain yang bermain untuk Iran di Piala Dunia 2018 kali ini. Meskipun Iran telah tersingkir, bukan berarti tim ini tidak memiliki kisah yang dapat dijadikan inspirasi. Sebagai kiper Iran di Piala Dunia 2018 kali ini, Beiranvand harus mengarungi perjalanan yang tak mudah. Lahir untuk keluarga yang tinggal di daerah terpencil di Iran, Beiranvand menjadi penggembala sejak muda. Ketika ada waktu kosong, ia menyempatkan diri untuk berlatih sepak bola di klub lokal desa Sarab-e Yas. Meskipun memiliki keinginan yang kuat, orang tuanya tidak menyetujui untuk ia bermain sepak bola.

Tetap berusaha untuk mencari peluang bermain sepak bola secara profesional, Beiranvand pun meminjam uang dari kerabat dan kabur ke ibu kota Iran, Teheran. Untuk menghemat uang, ia mendirikan tenda di depan kamp latihan sepak bola. Kegigihannya pun berujung pada keberhasilannya mendapatkan kesempatan berlatih secara penuh. Demi mendapatkan tempat tinggal yang lebih layak, ia bekerja paruh waktu di berbagai tempat.

Di tahun 2011, Beiranvand berhasil menembus tim utama Naft Tehran. Sebagai pemain yang sedang menanjak performanya, tim nasional Iran pun meliriknya sebagai kiper pelapis.  Di tahun 2013, Beiranvand dikontrak Persepolis FC, menjadikannya pemain dengan nilai di atas $1 juta. Bermain semakin baik, ia menjadi pemain utama di tim nasional Iran. Di Piala Dunia 2018, ia pun didapuk menjadi penjaga gawang utama Iran. Meskipun gagal lolos ke babak selanjutnya, momen menepis tendangan penalti Cristiano Ronaldo tentu menjadi momen yang akan diingat selamanya oleh publik sepak bola dunia.

Essam El-hadary

Kisah inspiratif keempat datang dari kiper tim nasional Mesir. El-Hadary merupakan kiper cadangan tim nasional Mesir. Meskipun begitu, bukan berarti El-Hadary memiliki kapabilitas yang biasa-biasa saja. El-Hadary merupakan pemain tertua Mesir dengan umur 45 tahun! Ia telah bermain semenjak tahun 1993, bergabung dengan klub sepak bola Damietta di Mesir. Kemampuannya yang amat baik membuatnya mendapatkan tempat di klub Al-Ahly, salah satu klub terbaik Afrika. Di klub tersebut, ia telah mendapatkan 8 gelar liga dan empat gelar Liga Champions Afrika.

Di tim nasional, ia telah bermain sebanyak 157 kali sejak tahun 1996. Semenjak ia bermain sepak bola, Mesir belum pernah masuk ke Piala Dunia. Maka dari itu, ketika Mesir berhasil lolos ke Piala Dunia 2018 kali ini, El-Hadary yang telah berumur 45 tahun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatannya. Meski hanya sebagai kiper cadangan, El-Hadary diberikan kesempatan bermain di pertandingan ketiga melawan Arab Saudi. Di pertandingan tersebut, El-Hadary mencetak rekor sebagai pemain tertua yang pernah menepis tendangan penalti selama Piala Dunia pernah dilaksanakan.

Gareth Southgate

Kisah inspiratif terakhir datang dari pelatih tim nasional Inggris di Piala Dunia 2018. Kisah inspiratif ini ditarik mundur hingga tahun 1996, yaitu gelaran Euro 1996. Kala itu, Southgate gagal mencetak penalti pamungkas untuk Inggris, sehingga menggagalkan mimpi Inggris untuk memenangi kejuaraan tersebut. Kegagalan penalti ini membekas tidak hanya di hati Southgate, tetapi seluruh masyarakat Inggris.

Singkat cerita, di tahun 2016, Sam Allardyce yang baru saja memimpin Inggris satu pertandingan mundur karena alasan mendesak. Southgate, yang kala itu melatih U-21, didapuk secara temporer memimpin skuad Inggris senior untuk kualifikasi Piala Dunia 2018. Di bawah asuhan Southgate, Inggris justru tampil gemilang. Performa yang baik ini membuat Southgate dikontrak oleh Inggris 4 tahun sebagai manajer tim nasional Inggris.

Lolos ke Piala Dunia 2018, Southgate pun kini berhasil membuat Inggris lolos hingga babak perempat final, dengan Swedia masih menunggu sebagai lawan. Salah satu momen terbaik Southgate adalah ketika di babak 16 besar, Inggris harus melakukan adu penalti melawan Kolombia. Inggris, yang notabene tidak pernah memenangi penalti selama Piala Dunia, akhirnya berhasil memenangkan penalti untuk pertama kali sepanjang sejarah. Southgate pun seolah menebus kesalahan yang ia buat 22 tahun yang lalu. Seusai pertandingan, ia menyatakan kelegaannya karena beban 22 tahun yang tidak pernah lepas dari dirinya cukup terangkat atas capaian baru tim nasional Inggris ini.

Begitulah lima kisah inspiratif dari Piala Dunia 2018. Dari sini, dapat dipahami bahwa mimpi, hanya akan menjadi mimpi, tanpa usaha keras dan konsistensi. Lima orang di atas telah membuktikan kalimat tersebut.

Share: Ini Dia 5 Kisah Inspiratif Pesepakbola Yang Bikin Kamu Semangat Mengejar Impian!