Isu Terkini

Poros Baru Calon Presiden 2019: Alternatif Jokowi dan Prabowo?

OlehKiki Esa Perdana

featured image

Melihat perkembangan zaman sekarang, apalagi melihat geliat di sosial media dan berbagai aplikasi pesan untuk smartphone, arus informasi terlihat sangat padat dan pesat. Berbagai macam pesan, termasuk pesan kampanye politik dengan berbagai isu membanjiri ponsel, mulai dari yang masuk akal hingga yang tidak masuk akal.

Salah satu kampanye politik yang hadir menjelang pilpres sekarang adalah muncul nya poros-poros baru yang memunculkan calon-calon presiden. Tentunya, kemunculan poros baru ini semakin menarik karena menambah nama-nama yang memang sebelumnya sudah wara wiri di kancah perpolitikan nasional.  Para calon presiden yang diusung ini muncul dengan berbagai macam latar belakang, baik dari mantan militer, gubernur hingga politisi senior.

Memang buat saya pribadi, poros politik menjelang pilpres 2019 selama ini bisa dikatakan sedikit kurang menarik karena hanya terfokus ke dua calon saja, Joko Widodo sebagai incumbent yang diusung PDIP dan Prabowo Subianto yang diusung oleh partai gerindra. Namun sekarang di berbagai media, dengan arus informasi yang deras dan dinamika politik yang fleksibel, berbagai macam nama baru terlihat dan diajukan sebagai calon presiden. Salah satu yang menarik adalah Koalisi Ummat Madani dengan ketuanya Syarwan Hamid, mendeklarasikan dukung mereka pada Amien Rais dari Partai Amanat Nasional sebagai calon presiden 2019, kemudian  poros terbaru yang muncul di media, adalah dari Partai Demokrat yang mengajukan pada khalayak akan pilihan pasangan Jusuf Kalla dari Golkar dan Agus Harimurti Yudhoyono dari Partai Demokrat. Belum lagi tambahan poros lain yang juga harus diperhitungkan seperti poros Pemuda Nusantara yang mendeklarasikan dukungan mereka tehadap Tuan Guru Bajang (TGB), dan Relawan Selendang Putih Nusantara yang mendukung Gatot Nurmantyo sebagai calon presiden 2019.

Sebetulnya, penambahan berbagai macam koalisi ini saya percaya adalah hal baik, selama sesuai dengan aturan dan tujuannya adalah untuk memperkaya khasanah demokrasi indonesia untuk semakin baik. Munculnya banyak kandidat yang diprakarsai berbagai poros ini semakin membuktikan bahwa untuk menjadi presiden Indonesia bukan sesuatu yang eksklusif dan siapapun yang memiliki dukungan yang sesuai dengan undang-undang, mulai partai pengusung, jumlah perolehan kursi partai pengusung hingga aturan administrasi berkas, dan siap untuk memberikan ide dan solusi yang baik untuk Indonesia, dipersilahkan untuk “bertarung” pada pemilihan umum pemilihan calon presiden.

Fenomena politik seperti ini memang pasti muncul setiap pilihan presiden, munculnya berbagai poros dukungan dari banyak elemen masyarakat lalu mendeklarasikan presiden yang dianggap mampu merepresentasikan suara atau permasalahan mereka adalah suatu hal yang wajar, mengingat kita memiliki peraturan untuk berserikat, berkumpul dan menyampaikan pendapat, seperti yang tertulis di undang-undang pasal 28.

Pada akhirnya pemilihan umum presiden mendatang tahun 2019 buat saya adalah sebuah ajang masyarakat berpesta demokrasi, demokrasi yang mempercayai dan menghargai setiap perbedaan pilihan dan pendapat. Munculnya poros-poros baru dipastikan melalui proses yang tidak sederhana, dengan harapan yang pula tidak sederhana. Mereka hadir dari pilihan rakyat yang didasari oleh rasa percaya. Baik AHY, AR, TGB, JK, GN, dll. Adalah produk dari kepercayaan rakyat yang selama ini setia dan mengusung demokrasi. Karena memang demokrasi sudah seharusnya menjadi alat untuk mendewasakan kita semua sebagai rakyat dan memilih calon yang tepat untuk kita semua sebagai rakyat.

***

Share: Poros Baru Calon Presiden 2019: Alternatif Jokowi dan Prabowo?