Budaya Pop

Evolusi Instagram Atau Monopoli Semua Aplikasi Sosmed?

OlehRamadhan

featured image

Instagram tumbuh sebagai salah satu sosial media yang digandrungi karena cukup pintar menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Belum selesai euforia dengan kemunculan fitur baru ‘A’, Instagram sudah merilis fitur baru ‘B’ dan seperti itu seterusnya. Pengguna pun dibuat betah.

Bahkan di tengah-tengah aksi Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memblokir aplikasi Tik-Tok, Selasa, 3 Juli kemarin, Instagram masih tenang-tenang saja. Ya kan Instagram enggak alay dan enggak banyak mudaratnya, nah terus Tik-Tok alay dan banyak mudaratnya gitu?

Terlepas dari tepat atau enggaknya Kominfo memblokir Tik-Tok karena berbagai alasan, aplikasi Tik-Tok yang baru booming itu punya status yang sama dengan Instagram, Facebook, hingga Twitter yakni sama-sama spesies sosial media.

Sebagai sesama spesies sosmed, baik buruknya citra Tik-Tok dan sosmed lainnya tentu banyak dipengaruhi oleh tindak tanduk para penggunanya, ada tipe pengguna yang positif, ada yang negatif, dan ada pula yang datar-datar saja. Terus kenapa Tik-Tok diblokir dan Instagram enggak diblokir? Entahlah…

Yang jelas, Instagram terus melaju kencang sebagai salah satu sosial media yang popularitasnya tengah berada di titik atas jagat maya. Platform sosmed berbagi foto itu malah diam-diam ‘memonopoli’ aplikasi-aplikasi sosmed yang lainnya.

Enggak percaya? Coba kita bedah satu per satu kecanggihan Instagram yang pelan-pelan menguasai jagat sosmed.

Ikuti Jejak Snapchat, Askfm, Sampai YouTube

Sejak pertama kali kemunculannya pada Oktober 2010, Instagram sebenarnya hanyalah platform sosmed untuk berbagi foto dan video. Memasuki Mei 2016, revolusi mulai terlihat saat Instagram mengganti logo dari yang awalnya berupa gambar kamera polaroid warna cokelat, berganti jadi logo penuh warna.

Beberapa bulan berselang atau sekitar Agustus 2016, Instagram muncul dengan gebarakan dan merilis fitur stories. Nah, fitur inilah yang disebut-sebut sangat mirip penggunaannya dengan aplikasi Snapchat.

Dengan aplikasi Snapchat sendiri, para pengguna bisa mengambil foto, merekam video, menambahkan teks dan lukisan dengan filter yang ada, dan mengirimkannya ke daftar penerima yang ditentukan pengguna. Begitu pula fitur stories Instagram, nyaris tak ada bedanya.

Bahkan baru-baru ini monopoli Instagram kembali terlihat saat munculnya fitur baru bernama ‘Ask Me A Question’. Pada fitur baru ini, Instagram disebut-sebut membawa duplikasi aplikasi ask.fm yang bisa disematkan di Instagram Stories.

Seperti diketahui, para pengguna Instagram selama ini hanya bisa mengajukan pertanyaan terbuka melalui dua pilihan jawaban yang muncul di opsi sticker. Nah, saat ini, fitur ‘question’ serupa ask.fm pun sudah bisa digunakan.

Saingi YouTube, Bisa?

Bahkan yang paling baru lagi adalah kehebohan netizen dengan munculnya fitur baru Instagram bertajuk IGTV. Aplikasi IGTV memang dibuat terpisah, meski begitu aplikasi ini tetap bisa diakses dari aplikasi utama.

Nah guys, IGTV ini digadang-gadang bakal jadi pesaing utama dari platform berbagi video paling populer saat ini yakni YouTube. Kenapa demikian? Karena keduanya sama-sama menyuguhkan tontonan video dengan durasi panjang.

Meski disebut bakal menyaingi ketenaran YouTube, namun IGTV tetap saja masih memiliki perbedaan dengan YouTube, misalnya saja seperti format video Instagram yang vertikal, penyatuan platform di Instagram dan Facebook, urutan linimasa video dan durasi video maksimal satu jam.

Bahkan, ada lagi fitur video chat yang ‘diembat’ Instagram dari beberapa aplikasi yang sebelumnya sudah ada seperti Line, WhatsApp, Face Time, Facebook dan Snapchat. Fitur video chat sendiri bisa diakses melalui Direct Message.

Revolusi atau Monopoli Instagram?

Dari sederet fitur mentereng Instagram tersebut, para pengguna tentu merasa sangat terhibur dan senang karena wajah baru selalu dihadirkan secara rutin oleh aplikasi dengan panggilan IG itu. Dalam konteks ini, Instagram seperti menghadirkan revolusi teknologi.

Namun, rasanya definisi revolusi Instagram itu sendiri bakal berbanding tipis dengan definisi monopoli Instagram terhadap aplikasi-aplikasi lain sesama spesies sosmed. Di satu sisi, Instagram dianggap kece, tapi di lain sisi, Instagram bisa jadi dianggap ‘brutal’.

Wahai netizen, gimana Instagram enggak ‘brutal’, kehadiran fitur video dan stories saja sudah menguras kuota yang cukup besar, apalagi munculnya IGTV? Siap-siap saja teman-teman sekalian jadi miskin berjamaah karena pembelian paket internet jadi membengkak setiap bulannya.

Instagram ini aplikasi sosmed apa kos-kosan? Bayar per bulannya jadi hampir sama.

Dengan kegilaan Instagram yang terus-terusan memperbaharui dan menghadirkan fitur-fitur baru dan keren, bukan tidak mungkin beberapa bulan ke depan Instagram juga memasang fitur mobile banking buat transfer uang, dan bisa nge-attach file biar kayak email.

Atau setelah ini Instagram bakal munculin fitur buat bayar kebutuhan sehari-hari manusia seperti bayar tagihan listrik, isi pulsa, bayar BPJS, beli tiket pesawat sampai bayar kredit motor.

Gokil enggak nih Instagram?

Share: Evolusi Instagram Atau Monopoli Semua Aplikasi Sosmed?