Budaya Pop

Melihat Jejak Jepang di Pantai Sumur Tujuh Koba Pulau Bangka

OlehRamadhan

featured image

Ada sederet pantai indah dengan pemandangan bebatuan dan air laut yang biru di Pulau Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Namun, ada satu pantai yang menarik perhatian dari sisi historis, yakni Pantai Sumur Tujuh.

Dari namanya saja, pasti sudah banyak yang menduga-duga bahwa Pantai Sumur Tujuh ini memang sarat sejarah. Benar adanya bahwa di pantai yang terdapat di ibu kota Kabupaten Bangka Tengah, Koba, itu terdapat tujuh sumur tua yang berderet rapi.

Awak Asumsi mengunjungi langsung Pantai Sumur Tujuh pada Sabtu, 23 Juni kemarin sore. Pantai ini sendiri sangat dekat dengan pemukiman warga Desa Padang Mulya dan hanya berjarak kurang lebih 3 km dari pusat kota Koba.

Jadi, memang tak butuh waktu terlalu lama untuk bisa sampai di Pantai Sumur Tujuh dan masuknya pun masih gratis sudah sejak lama karena memang akses keluar masuk pantai ini bebas bagi siapa saja. Pantai ini juga berada di samping PT Koba Tin, sebuah perusahaan timah terbesar kedua di Pulau Bangka Belitung setelah PT Timah.

Tujuh sumur berderet rapi di Pantai Sumur Tujuh di Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu, 23 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Saat Asumsi tiba di sana pada sore hari, terlihat banyak masyarakat sekitar Kota Koba yang berkunjung ke Pantai Sumur Tujuh untuk sekitar menikmati pemandangan sore hari. Selain para pengunjung yang datang, ada juga para nelayan yang hendak pergi mencari ikan

Nah, letak tujuh sumur itu sendiri berada tak jauh dari bibir pantai yakni sekitar 10 meter. Tujuh sumur itu juga diposisikan sejajar atau berderet rapi mengikuti garis pantai.

Tujuh sumur tersebut merupakan benda bersejarah peninggalan zaman Jepang. Konon menurut warga sekitar, sudah sejak lama tujuh sumur yang berdiameter sekitar 2 meter itu digunakan untuk memproduksi garam.

Konon, masing-masing di bagian bawah sumur-sumur tua itu dibuatkan saluran lubang besar yang diarahkan langsung ke laut. Lalu, sumur-sumur itu dijadikan tempat untuk menampung air laut melalui lubang itu.

Proses pembuatan garam sendiri dilakukan dengan cara mengalirkan air laut lewat saluran lubang bawah tanah itu ke dalam tujuh sumur di saat air laut pasang. Kemudian, pada saat air laut surut dan cuaca cukup panas maka akan tercipta kristal-kristal garam.

Tujuh sumur peninggalan zaman Jepang berada sekitar 10 meter dari bibir Pantai Sumur Tujuh di Kota Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Sabtu, 23 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Nah, kristal-kristal garam tersebut kemudian diambil dan dijadikan sumber yodium untuk bumbu bahan masakan. Sayangnya, saat ini aktivitas produksi garam di sumur tujuh itu sendiri sudah tidak ada dan memang sudah sejak lama berhenti.

Sekarang, keberadaan tujuh sumur itu sendiri masih utuh namun tak terawat dengan baik. Saat melihat ke dalam sumur, banyak sampah-sampah yang mengapung, bahkan tak jarang juga ada ular di dalamnya.

Saat ini, selain dikunjungi warga untuk bersantai, Pantai Sumur Tujuh lebih sering dimanfaatkan oleh para nelayan sekitar untuk menangkap ikan. Di sana, ada berbagai cara menangkap ikan, beberapa di antaranya adalah dengan cara ‘mukat’ atau menjaring ikan dengan jaring.

Share: Melihat Jejak Jepang di Pantai Sumur Tujuh Koba Pulau Bangka