Isu Terkini

Enggak Bisa Balik ke Jakarta Karena Kehabisan Duit Ketika Mudik, Kok Bisa?

OlehRamadhan

featured image

Sebagian besar masyarakat Indonesia kerap menghadapi situasi kehabisan 'bensin' usai libur lebaran. Lebih tepatnya, merana karena kehabisan uang pasca lebaran. Apa penyebabnya dan bagaimana cara mengatasinya?

Situasi itulah yang saat ini dialami sebagian besar masyarakat di Pulau Bangka, salah satunya adalah Tias Sil Romansyah, warga Desa Dalil Kabupaten Bangka, guru sekaligus mahasiswa yang sedang menempuh studi S2 di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Tias, yang akrab disapa Dori itu, saat berbincang dengan Asumsi mengaku mengalami gejala kantong kering, terutama setelah momen lebaran selesai seperti saat ini. Uang pegangan Dori pun menipis, bahkan untuk kembali ke Jakarta pun tak bisa.

Dori mengakui bahwa dirinya sudah menghabiskan uang dengan jumlah yang cukup besar saat merayakan lebaran di kampung halaman. Pria berusia 26 tahun itu menyebut uangnya dialokasikan untuk sejumlah keperluan.

"Yang pertama, uang saya mulai banyak keluar saat mudik H-9 dari Jakarta menuju Pulau Bangka lewat jalur darat menggunakan motor. Saya lewat jalur Pelabuhan Merak menuju Bakaeuhuni, jadi banyak uang habis di situ," kata Dori kepada Asumsi, Kamis, 21 Juni.

Lantaran melakukan perjalanan panjang saat mudik, Dori harus men-service motornya lebih dulu dan itu menghabiskan uang sekitar Rp 500 ribu. Ia mengaku mengganti ban motor, oli mesin, servis karburator, kanvas rem depan belakang, hingga lampu depan belakang.

Biaya itu belum termasuk mengisi bahan bakar bensin selama perjalanan dari Jakarta, Banten, Lampung, Palembang, dan Pulau Bangka yang menghabiskan dana mencapai Rp 200 ribu.

Belum lagi ongkos penyeberangan dari Pelabuhan Merak (Banten) ke Pelabuhan Bakaeuhuni (Lampung) sebesar Rp 50 ribu, dan dari Pelabuhan Tanjung Api-api (Palembang) ke Pelabuhan Tanjung Kalian (Mentok, Pulau Bangka) sebesar Rp 102 ribu.

"Yang kedua, uang mulai keluar mengucur deras saat saya membantu orang tua membeli keperluan lebaran di rumah seperti membeli kue, minuman, dan makanan lainnya. Juga membeli bumbu-bumbu untuk membuat lauk-pauk sebagai pasangan ketupat saat lebaran," ujar Dori.

Lulusan S1 Pendidikan Bahasa Inggris UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut mengakui dirinya harus mengeluarkan uang sekitar Rp 500 ribu untuk memenuhi kebutuhan makanan saat lebaran itu.

"Yang ketiga, uang saya itu juga dialokasikan untuk bagi-bagi THR kepada anak-anak kecil, sanak saudara, dan keluarga. Bagian ini saya menghabiskan uang sekitar Rp 300 ribu," ujar Dori.

Setelah mengeluarkan uang yang cukup besar saat mudik hingga lebaran, kini Dori pun berupaya keras untuk balik modal agar bisa membeli tiket pulang ke Jakarta. Beberapa aktivitas pun dilakukan Dori di kampung halamannya.

"Jadi memang uang pegangan sekarang ini sudah menipis setelah lebaran kemarin. Nah, buat balik modal dan mencari tambahan dana buat balik ke rantauan di Jakarta nanti, saya membantu panen lada (sahang) dan sawit di kebun orang tua," kata Dori.

"Sejauh ini saya sudah dapat panen lada sebanyak satu karung setengah dengan berat dan harga jual Rp 1.050.000. Kalau panen sawit total 2,5 ton dengan harga jual sekitar Rp 2.500.000," ujar Dori.

Kemudian, dari dana hasil panen lada dan sawit bersama orang tuanya itulah, Dori bisa mendapatkan upah yang bisa untuk membeli tiket pesawat rute Pulau Bangka ke Jakarta. Sebagai informasi, tiket pesawat dengan tujuan tersebut mencapai Rp 1.200.000.

Dengan begitu, Dori pun bisa bernapas lega karena bisa gali lobang tutup lobang, terutama untuk mengatasi kantong kering setelah libur lebaran. Kini, Dori pun tinggal berangkat merantau kembali ke ibu kota.

Share: Enggak Bisa Balik ke Jakarta Karena Kehabisan Duit Ketika Mudik, Kok Bisa?