Isu Terkini

Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Ada Paus dan Bayi Hiu Mati Makan Sampah Plastik

OlehRosa Cindy

featured

Seekor paus diberitakan ditemukan mati di Thailand karena menelan 80 kantong plastik, pada Minggu, 3 Juni, kemarin. Di hari yang sama, berita lainnya menunjukkan penemuan banyak sampah plastik di dalam perut seekor bayi hiu yang ditemukan mati. Dua kejadian ini mungkin bukan lagi berita yang baru di telinga kita.

Penyebabnya tidak lain adalah banyaknya sampah plastik hasil gunaan manusia yang berakhir di laut. Direktur Kerja Sama ASEAN Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia Jose Antonio Morato Tavares pada September 2017 menyebutkan bahwa setidaknya ada 12,7 juta metrik ton sampah plastik yang dibuang manusia ke lautan setiap tahunnya. Persentase sampah plastik di lautan sendiri bisa mencapai 60 persen dari total sampah yang ada di lautan dunia.

Ironisnya, menurut laporan Ocean Conservancy pada 2015, Indonesia menyumbang sekitar 3,2 juta ton sampah plastik setiap tahunnya, dan menduduki peringkat kedua sebagai penyumbang sampah plastik terbanyak ke lautan. Artinya, Indonesia berada satu posisi di bawah Tiongkok yang menduduki peringkat pertama dengan 8,8 juta ton, disusul oleh Filipina di peringkat tiga, Thailand di peringkat empat, dan Vietnam di peringkat berikutnya.

Sayangnya, angka ini bukan sesuatu yang patut dibanggakan.

Lantas, Kenapa Bisa?

Menurut penelitian “Plastic waste inputs from the land into the ocean” yang dilakukan Jenna R. Jambeck dan rekan-rekannya, ada korelasi yang erat antara jumlah sampah di lautan dengan kemampuan suatu negara mengelola sungainya. Simpelnya, negara yang mampu mengelola sungainya dengan baik cenderung memiliki perairan laut yang lebih bersih.

Sayangnya, Indonesia sebagai salah satu negara berkembang masih memiliki permasalahan yang umum dimiliki negara berkembang lainnya, yaitu keterbatasan kapital, sumber daya manusia, dan teknologi.

Padahal, plastik memang jadi benda yang cukup akrab dalam kehidupan masyarakat Indonesia, entah untuk alasan kepraktisan maupun ekonomis. Plastik nyatanya mudah sekali ditemui, baik untuk kemasan produk, maupun alat mengantongi barang belanjaan, yang lantas juga menumbuhkan banyaknya sampah plastik.

Hal ini tampak pada bagaimana Indonesia masih kurang mampu mengelola sungainya.

Terbukti, Indonesia punya rekam jejak yang buruk soal sungainya. Tahun 2013, Sungai Citarum dinobatkan oleh Blacksmith Institute, sebuah lembaga non-profit di bidang lingkungan di Amerika Serikat, sebagai sungai paling tercemar didunia. Belum lagi kalau harus menyebut Sungai Ciliwung dan Sungai Cisadane.

Data yang hampir serupa juga dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), yang pada 2014 menyebutkan bahwa 75 persen sungai di Indonesia masuk dalam kategori tercemar berat.

Berdampak Penyakit Hingga Kematian

Dua ikan yang baru-baru ini ditemukan mati karena sampah plastik sudah jelas menjadi salah satu contoh dampak negatifnya. Perihal kenapa mereka sampai memakan sampah plastik sebenarnya bukan karena mereka kekurangan makanan. Namun, karena mereka tertipu.

"Hewan memiliki kemampuan indrawi dan perspektif yang sangat berbeda dari kita. Dalam beberapa kasus, kemampuan mereka lebih baik, dan dalam beberapa kasus, kemampuan mereka lebih buruk. Tetapi, dalam semua kasus mereka berbeda," kata Matthew Savoca di NOAA Southwest Fisheries Science Center di Monterey, California, dilansir Kompas.com.

Di mata biota laut, pelet plastik tampak seperti telur ikan yang biasa mereka makan. Atau, di mata penyu, sebagaimana beberapa waktu terakhir ditemukan penyu mati tersedak sampah plastik, sampah plastik ini terlihat lezat seperti ubur-ubur.

Savoca menegaskan, hewan-hewan ini bukannya bodoh sehingga mau memakan plastik. Tapi kita sebagai manusia cenderung bias pada indra kita sendiri, daripada memahami cara hewan tersebut.

Ikan dan penyu mati karena sampah plastik itu bukanlah satu-satunya dampak negatif dari pembuangan sampah plastik ke laut. Sebagaimana laut juga dihuni oleh banyak makhluk laut, artinya dampak negatif juga dirasakan makhluk laut lainnya.

Jurnal “Plastic waste associated with disease on coral reefs” menunjukkan bahwa limbah plastik ini juga menimbulkan penyakit para terumbu karang. Penelitian ini menunjukkan bahwa karang di perairan Myanmar, Thailand, Australia, dan Indonesia, pada periode 2011 hingga 2014, terserang penyakit white syndrome, alias munculnya bagian pada karang yang memutih.

Selain white syndrome, karang di lokasi-lokasi tersebut juga terserang skeletal eroding band, black band, growth anomalies, brown band, dan atramentous necrosis. Penyakit-penyakit ini sendiri disebabkan oleh bakteri yang datang bersama sampah plastik.

“Plastik cepat memperparah infeksi terumbu karang. Sampah plastik menipiskan serta merobek kulit terumbu karang. Selain itu, sampah plastik bisa menularkan patogen dan menghalangi atau memotong aliran air,” kata profesor ekologi dan biologi evolusioner di Cornell University, Drew Harvell.

Penyakit-penyakit yang disebabkan oleh limbah juga meracuni biota laut lainnya. Padahal, sebagian besar biota laut pada akhirnya dikonsumsi manusia, yang berarti mempertaruhkan kesehatan manusia juga.

Kalau sudah tahu penyebab dan dampak negatifnya, apa iya kita sebagai manusia, yang katanya makhluk cerdas, berakal, dan berbudi ini, masih tega memakai plastik dan menciptakan limbah plastik itu ke mana-mana?

Hari ini, 5 Juni 2018, adalah perayaan ke-44 kalinya Hari Lingkungan Hidup Sedunia, sejak pertama kali di tahun 1974. Ketika kondisi lingkungan justru semakin memburuk setiap tahunnya, masihkah kita layak merayakan hari ini?

Atau bukankah hari ini seharusnya justru menjadi cambuk kita untuk lebih peduli lingkungan, yang sebenarnya bisa dilakukan lebih langkah-langkah sederhana?

Rosa Cindy adalah penyuka isu sosial dan jalan-jalan. Sapa dia melalui akun media sosial Twitter dan Instagram @rosacindys.

Share: Hari Lingkungan Hidup Sedunia: Ada Paus dan Bayi Hiu Mati Makan Sampah Plastik