Isu Terkini

Cerita di Balik Foto Seorang Ibu Salat Maghrib di Gereja Ayam Pniel

OlehRamadhan

featured image

Pada siang hari yang terik, Jumat, 1 Juni kemarin, saya mendapatkan tugas peliputan ke Pasar Baru, Jakarta Pusat. Saat itu, editor saya menyampaikan pesan agar saya meliput acara buka puasa bersama dari sebuah komunitas toleransi.

Setelah saya konfirmasi, ternyata komunitas tersebut bernama Komunitas Wisata Kreatif Jakarta, yang pada Hari Pancasila 1 Juni lalu menggelar Wisata Bhinneka, tur kecil dalam rangka mengenal lima rumah ibadah lintas agama yang ada di Pasar Baru.

Satu informasi menarik yang saya dapat dari pihak panitia waktu itu bahwa akan ada buka puasa bersama di gereja. Saat itu saya tak menanyakan lebih detail di gereja mana acara buka puasa itu akan digelar.

Saya pun berangkat meliput ke Pasar Baru menggunakan motor usai menunaikan salat Jumat di Kemang. Dalam tugas peliputan itu, saya membawa sebuah kamera dan alat perekam, sebagai bagian dari perlengkapan seorang jurnalis.

Sesampainya di titik kumpul di KFC, Pasar Baru, saya pun berjumpa dengan Ameliya Rosita, tour guide Wisata Bhinneka, serta 10 orang peserta lainnya yang sudah lebih dulu tiba. Semuanya menggunakan dress code berwarna merah.

Baca Juga: Wisata Bhinneka: Mempelajari Toleransi Antar Umat Beragama di Jakarta Lewat Pariwisata

Para peserta Wisata Bhinneka saat hendak memasuki Masjid Lautze di Pasar Baru, Jakarta, Jumat, 1 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Amel, sapaan akrab Ameliya, menyampaikan instruksi singkat kepada kami soal rute yang akan dilewati dan lima rumah ibadah yang akan dikunjungi. Masjid Lautze, Kuil Sikh, Kuil Tricakti, Kuil Sai Baba, dan Gereja GPIB Pniel adalah rumah ibadah yang bakal kami kunjungi.

Masjid Lautze jadi rumah ibadah pertama yang kami kunjungi. Di masjid yang kental dengan nuansa Tionghoa ini, kami sudah ditunggu oleh sekitar lima peserta lainnya ditambah Minadiana Salam, rekan Amel, sehingga total peserta ada sekitar 15 orang.

Sekadar informasi, para peserta Wisata Bhinneka itu terdiri dari orang-orang dari lintas latar belakang dan agama. Hal ini memang sejalan dengan tujuan Wisata Bhinneka yang ingin merawat toleransi.

Di sana, kami mendapatkan penjelasan soal sejarah Masjid Lautze oleh Eko Tan, salah satu jamaah masjid keturunan Tionghoa. Setelah mendapatkan paparan singkat karena masjid bakal tutup bada Ashar, kami pun segera bergeser.

Sebelum melanjutkan perjalanan, Amel menyampaikan pesan kepada Eko Tan bahwa para jamaah Masjid Lautze dipersilahkan untuk bergabung pada acara buka puasa bersama di Gereja GPIB Pniel. Eko Tan pun mengatakan ia akan datang bersama ibu-ibu jamaah Masjid Lautze lainnya.

Dari Masjid Lautze, kami kemudian berjalan kaki mengunjungi Kuil Sikh, Kuil Tricakti, dan Kuil Sai Baba. Saat jarum jam menunjukkan pukul 17.10 WIB, kami akhirnya sampai di tujuan akhir di Gereja GPIB Pniel.

Dua orang dari tim dari Wisata Bhinneka Ameliya Rosita dan Minadiana Salam bersama Eko Tan saat menyampaikan instruksi singkat di Masjid Lautze, Pasar Baru, Jakarta, Jumat, 1 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co 

Di gereja yang dikenal dengan julukan Gereja Ayam itu, kami disambut sangat ramah oleh para pengurus gereja. Kami pun mendapatkan penjelasan singkat soal sejarah Gereja Pniel di ruang utama ibadah.

Baca Juga: Galeri Foto: Wisata Bhinneka dan Buka Puasa Bersama di Gereja Pniel Jakarta

Adzan Maghrib pun berkumandang, dari dalam gereja, kami segera membatalkan puasa dengan menenggak air mineral yang kami bawa sendiri. Beberapa saat setelah itu, kami diajak pengurus gereja berpindah ke gedung sebelah untuk melanjutkan berbuka puasa.

Nah, di gedung sebelah gereja itulah sudah menunggu Eko Tan bersama ibu-ibu jamaah Masjid Lautze yang ternyata datang membawakan makanan berbuka puasa, minuman, dan nasi serta lauk-pauk yang mereka masak sendiri, untuk dihidangkan kepada para peserta wisata Bhinneka.

Saya dan peserta Wisata Bhinneka pun berbuka puasa bersama di situ, ditemani beberapa ibu pengurus gereja yang tampak akrab berbincang-bincang dengan ibu-ibu jamaah Masjid Lautze. Saat itu, hanya ada senyum dan tawa dari seluruh peserta Wisata Bhinneka, ibu-ibu jamaah Masjid Lautze dan ibu-ibu pengurus gereja.

Suasana saat berbuka puasa di Gereja GPIB Pniel, Pasar Baru, Jakarta, Jumat, 1 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Tak terasa waktu saat itu sudah menunjukkan pukul 18.45 WIB. Di sela-sela saat saya sedang berbincang dengan Amel dan Diana, pandangan saya tiba-tiba tertuju ke  sudut ruangan, di mana seorang ibu bermukena kuning tengah menunaikan salat Maghrib.

Saya pun bergegas beranjak dari kursi, seraya berbicara ke Diana, “Wah Diana, ibu itu salat Maghrib, saya ambil foto dulu ya”. Diana pun menimpali omongan saya, “Iya tuh bagus momennya”.

Sebagai seorang jurnalis, saya perlu dan memang tugasnya mengabadikan momen-momen penting dalam sebuah peristiwa, termasuk acara buka puasa bersama di Gereja Pniel kemarin dan seorang ibu yang salat Maghrib itu. Ada beberapa foto yang saya jepret dari berbagai angle.

Seorang ibu jamaah Masjid Lautze menunaikan salat Maghrib usai berbuka puasa di Gereja GPIB Pniel, Pasar Baru, Jakarta, Jumat, 1 Juni 2018. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Keesokan harinya, 2 Juni, saya posting salah satu dari foto ibu salat di gereja tersebut di akun media sosial Twitter saya @_ramadhanyaya, dengan menandai akun Twitter mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Prof Mahfud MD @mohmahfudmd.

Jumat (01/06/18) kmrn, sy lihat lgsg pemandangan ini, seorg ibu salat maghrib usai buka puasa di Gereja GPIB Pniel (Gereja Ayam), Pasar Baru, Jakarta.

Satu hal yg sy dpt usai mengabadikan momen ini, bhw Indonesia memang sdg baik-baik saja, hny org jahat yg membuatnya tak baik. pic.twitter.com/FRk0ZROgjF— Ramadhan Yahya (@_ramadhanyaya) June 2, 2018

Awalnya biasa saja tak ada yang merespons, namun seketika heboh dan viral lantaran cuitan itu dikomentari Prof Mahfud. Seketika notifikasi Twitter saya pun penuh dengan retweet, like, dan komentar netizen yang menanyakan banyak hal ke Prof Mahfud MD.

“Itu juga yang dilakukan oleh Habibie dlm perjuangan beratnya ketika belajar di Jerman. Dia salat dan berdoa di sebuah gereja sambil menangis dlm munajat dan bertemu Romo Mangunwijaya di gereja tsb. Seluruh bumi ini adalah masjid (tempat bersujud). Islam adl rahmat bg alam,” demikian komentar Prof Mahfud MD terkait postingan saya itu.

Itu juga yang dilakukan oleh Habibie dlm perjuangan beratnya ketika belajar di Jerman. Dia salat dan berdoa di sebuah gereja sambil menangis dlm munajat dan bertemu Romo Mangunwijaya di gereja tsb. Seluruh bumi ini adalah masjid (tempat bersujud). Islam adl rahmat bg alam. https://t.co/2wJOpqkp9F— Mahfud MD (@mohmahfudmd) June 3, 2018

“Ya, ya, Mas Ramadhan. Islam itu indah. “Innallaah jamiil yuhibbul jamaal”. Sungguh merugi orang yg menjadi Islam kalau kerjanya hanya marah2 dan menebar fitnah dgn brutal. Mereka yg spt itu tak merasakan madunya Islam,” lanjut Prof Mahfud MD.

Ya, ya, Mas Ramadhan. Islam itu indah. “Innallaah jamiil yuhibbul jamaal”. Sungguh merugi orang yg menjadi Islam kalau kerjanya hanya marah2 dan menebar fitnah dgn brutal. Mereka yg spt itu tak merasakan madunya Islam. https://t.co/GqEylKjoCB— Mahfud MD (@mohmahfudmd) June 3, 2018

Saya tergelitik dengan salah satu pertanyaan di kolom komentar yang berasal dari sejumlah netizen soal apakah tidak ada masjid di sekitar Gereja Pniel, sehingga si ibu lebih memilih salat di gereja?

Baiklah, saya coba terangkan sedikit soal itu, berdasarkan apa yang saya lihat langsung saat berada di lokasi. Seperti yang saya jelaskan di atas bahwa saat ibu itu menunaikan salat Maghrib, waktu menunjukkan sekitar pukul 18.45 WIB. Itu artinya waktu Maghrib hanya tersisa sedikit.

Sementara masjid terdekat dari Gereja Pniel hanyalah Masjid Lautze, yang berjarak sekitar 1,2 km jika naik motor dan 800 m jika berjalan kaki. Sebagai catatan dan ini penting, karena saya bukan warga Pasar Baru, jadi saya tak mengetahui persis apakah ada masjid atau mushola terdekat dari Gereja Pniel selain Masjid Lautze.

Asumsi saya, si ibu akan menghabiskan waktu cukup lama jika harus pergi ke Masjid Lautze untuk melaksanakan salat maghrib dan bisa saja pas tiba di masjid, malah sudah memasuki waktu Isya lantaran lamanya perjalanan.

Apalagi jika memang ingin pergi ke Masjid Lautze, si ibu harus menyeberang jalan raya Pasar Baru yang saat itu sedang macet-macetnya dan dilalui banyak kendaraan motor dan mobil.

Jadi, (mungkin) daripada menghabiskan banyak waktu, sementara durasi waktu salat Maghrib sangat singkat, si ibu lebih memilih menyegerakan salat di gereja.

Hingga hari ini, Selasa, 5 Juni pukul 13.00 WIB, sudah ada total 2071 retweet, 1811 yang menyukai, dan 128 akun yang mengomentari postingan foto saya tersebut.

Share: Cerita di Balik Foto Seorang Ibu Salat Maghrib di Gereja Ayam Pniel