Isu Terkini

Wisata Bhinneka: Mempelajari Toleransi Antar Umat Beragama di Jakarta Lewat Pariwisata

OlehRamadhan

featured

Ternyata masih banyak cara merawat toleransi di tengah-tengah kondisi bangsa Indonesia yang masih kerap dilanda teror. Wisata Bhinneka hadir mengajak masyarakat dari berbagai latar belakang untuk menjaga keberagaman dengan mengenal lebih dekat rumah ibadah lintas agama di Jakarta.

Hari lahir Pancasila pada 1 Juni kemarin dijadikan momentum bagus oleh personel Wisata Kreatif Jakarta untuk menggelar Wisata Bhinneka. Yang lebih menarik lagi, Wisata Bhinneka ke lima rumah ibadah berbagai agama di Pasar Baru itu dilakukan di bulan Ramadan.

Sekitar pukul 15.00 WIB, para peserta sekitar 15 orang dari berbagai latar belakang agama memulai perjalanan dengan berjalan kaki dari Pasar Baru. Perjalanan menuju lima rumah ibadah sejumlah agama itu dipandu oleh Ameliya Rosita.

Asumsi berkesempatan ikut serta dalam rombongan untuk melakukan tur kecil di tempat-tempat yang sebenarnya bisa jadi alternatif lain dalam berwisata di Jakarta. Perjalanan pun dimulai dan tujuan pertama adalah Masjid Lautze.

Masjid Lautze sendiri terbilang unik karena memiliki nama yang tak biasa. Ternyata memang Masjid Lautze yang berada di Jalan Lautze No. 87 Sawah Besar itu memiliki sejarah panjang karena berada di kawasan pecinan di Jakarta.

“Dalam bahasa Tionghoa, kata Lautze itu berarti guru atau orang bijak. Bangunan masjid ini dulunya adalah sebuah ruko,” kata Eko Tan, salah satu jemaah Masjid Lautze yang masih memiliki garis keturunan Tionghoa kepada Asumsi, di dalam Masjid Lautze, Jumat, 1 Juni.

Suasana di ruangan ibadah Masjid Lautze yang penuh dengan ukiran kaligrafi dan nuansa warna merah. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Masjid Lautze memang menjadi pusat kegiatan para mualaf keturunan Tionghoa di Jakarta Barat. Masjid tersebut dikelola oleh Yayasan H. Karim Oei.

Menariknya, nama yayasan itu ternyata diambil dari nama seorang tokoh Muslim Indonesia keturunan Tionghoa yang selama hidupnya terus berjuang menyebarkan Islam di kalangan etnis Tionghoa di Indonesia.

Setelah wafat pada 1988, perjuangan H. Karim Oei terus dilanjutkan dan diwarisi generasi setelahnya.

Bangunan Masjid Lautze sendiri terdiri dari empat lantai. Lantai satu (khusus pria) dan lantai dua (khusus wanita) difungsikan sebagai masjid atau tempat ibadah. Sementara lantai tiga dan empat digunakan sebagai kantor yayasan.

Masjid Lautze sendiri memiliki ruangan ibadah yang tak terlalu luas. Meski begitu, interior di dalam masjid sendiri tampak sederhana dan indah dengan memperlihatkan kaligrafi Islam yang dipadukan dengan huruf kanji, dipadu sedikit unsur ketimuran.

Selain itu, Masjid Lautze juga dominan menggunakan warna merah, sebagaimana warna yang menjadi ciri khas warga Tionghoa. Warna merah terlihat dari pintu masjid yang seperti pintu gerbang, sampai polesan di interior ruangan.

Sebagai masjid yang identitasnya kental dengan warga muslim keturunan Tionghoa, Masjid Lautze juga tak lupa menyertakan sejumlah lampion di beberapa sudut.

Pintu masuk Masjid Lautze dengan nuansa warna merah dan berbentuk seperti pintu gerbang. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Fakta-fakta menarik lainnya dari Masjid Lautze adalah soal waktu buka masjid. Jika umumnya masjid dibuka di setiap waktu shalat untuk jamaahnya, Masjid Lautze hanya buka pada waktu-waktu tertentu saja.

Dari Minggu sampai Jumat, Masjid Lautze hanya buka dari jam sembilan pagi hingga jam empat sore. Jadi pada hari-hari tersebut, Masjid Lautze hanya menggelar dua waktu salat yakni zuhur dan ashar.

Di hari Sabtu, Masjid Lautze benar-benar tutup. Lalu di hari Minggu, Yayasan H. Karim Oei mengadakan pengajian rutin (mingguan) untuk para jamaahnya yang sebagian besar merupakan mualaf keturunan Tiongkok.

Setelah mengeksplor Masjid Lautze dalam waktu yang cukup singkat lantaran masjid akan tutup setelah ashar, rombongan pun melanjutkan jalan kaki ke Kuil Sikh Gurdwara. Keberadaan Kuil Sikh sendiri tak jauh dari Masjid Lautze.

Kuil tersebut menjadi tempat beribadah penganut Sikh yang ada di Pasar Baru, Jakarta. Setelah itu, rombongan bergeser ke Kuil India Tricakti, yang keberadaannya juga tak jauh dari Kuil Sikh.

Selesai singgah di Kuil India Tricakti yang di dalam ruang ibadahnya terdapat banyak patung dewa, rombongan bergeser ke Kuil Sai Baba. Kuil ini memiliki ruangan ibadah yang cukup besar dengan dihiasi banyak foto-foto Sathya Sai Baba, sosok yang dianggap guru besar atau orang suci.

Lalu rombongan sampailah di tujuan terakhir yakni Gereja Pniel. Gereja yang disebut juga Gereja Ayam ini merupakan sebuah gereja peninggalan zaman kolonial di Indonesia, yang diarsiteki oleh Ed Cuypers dan Hulswit.

Gereja GPIB Pniel di Pasar Baru, Jakarta. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Gereja Pniel sendiri dibangun antara 1913 dan 1915 dan awalnya diberi nama Gereja Baru. Julukan Gereja Ayam diberikan karena di atap gereja ini diletakkan sebuah petunjuk arah angin yang dibuat berbentuk ayam.

Setelah mendengar banyak penjelasan dari pengurus gereja, adzan maghrib pun berkumandang sebagai waktu berbuka puasa. Sebagian rombongan yang beragama Islam, termasuk kru Asumsi, dilayani para pengurus gereja untuk berbuka puasa bersama.

“Tujuan Wisata Bhinneka ini sendiri adalah untuk merawat toleransi dengan mengunjungi beberapa rumah ibadah lintas agama. Juga untuk mendorong interaksi positif dan memberikan gestur perdamaian bagi umat beragama,” kata Amelia Rosita, tour guide dari Wisata Kreatif Jakarta kepada Asumsi, 1 Juni di Gereja Pniel, Jakarta.

“Apalagi baru-baru ini negara kita dilanda peristiwa bom Surabaya, sehingga tragedi itu menunjukan bahwa bangsa Indonesia masih perlu merangkul toleransi. Dalam bulan yang penuh berkah, mari jaga keberagaman dengan mempromosikan toleransi antar agama, suku, dan ras yang ada di Indonesia.”

“Dengan mengenal keanekaragaman budaya dan agama, harapannya agar kita bisa saling menghargai antar sesama, teman, dan keluarga.”

Suasana saat rombongan tur Wisata Bhinneka saat berbuka puasa di sebuah ruangan di Gereja GPIB Pniel, Pasar Baru, Jakarta. Foto: Ramadhan/Asumsi.co

Share: Wisata Bhinneka: Mempelajari Toleransi Antar Umat Beragama di Jakarta Lewat Pariwisata