Isu Terkini

20 Daftar Ulama Penyebar Paham Radikalisme Ternyata Hoax, Begini Fakta Sebenarnya

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Setelah ramai-ramai Kementerian Agama (Kemenag) yang mengeluarkan 200 daftar nama muballigh atau penceramah Islam Indonesia, ternyata ada lagi yang lebih heboh. Jadi, akun Facebook dengan nama Generasi Muda NU, menyebarkan 20 nama penebar paham Islam Radikal/Wahhabisme. Nama-nama itu di antaranya;

Saking hebohnya, daftar itu langsung dapat tanggapan dari salah satu nama yang masuk di dalamnya, Salim A Fillah. Pria kelahiran Yogyakarta, 21 Maret 1984 itu mengungkapkan bahwa banyak pihak yang merasa geram dan sedih dengan masuknya nama dirinya di dalam daftar itu.

"Masyaallah, rupanya banyak sekali Shalih(in+at) yang sampai menghubungi secara pribadi untuk menyampaikan sedih dan geramnya karena nama saya masuk sebuah daftar yang juga menyertakan guru kita Habib Rizieq, @ustadzabdulsomad, dan @ustadzadihidayat. Waduh, saya yang hanya remah rengginang apek di kaleng Khong Guan berkarat ini merasa sangat tersanjung," tulis Salim di keterangan foto Instagramnya.

A post shared by Salim A. Fillah (@salimafillah) on May 20, 2018 at 3:51am PDT

Sebagai santri yang pernah dididik di Pondok Pesantren Salafiyah, Salim heran mengapa yang nge-posting daftar 20 penebar radikalisme itu akun yang menamakan dirinya sebagai Generasi Muda NU. Sebab, Salim merasa bagian dari generasi muda NU yang juga belajar mengaji dengan metode khas pesantren seperti sorongan dan bandungan.

Begitu juga dengan Tengku Zulkarnain, ia meng-capture daftar 20 nama penebar radikal itu ke akun Instagramnya, dan ngasih tanggapan yang tampak santai.

"Hehe ketawain aja deh, selamat berbuka puasa dan jangan lupa sholat maghrib," tulis Zulkarnain di akunnya @tengkuzulkarnain.id.

Tapi, jika diperhatikan baik-baik, nama-nama yang dibuat di akun Facebook Generasi Muda NU itu ternyata berasal dari DutaIslam.com. Setelah dilacak sumbernya, nyatanya situs DutaIslam.com justru membuat konteks yang berbeda, judul artikel tersebut justru "20 Ustadz Ngepop Tak Masuk Rekomendasi Kemenag, Ter masuk Ustadz Abdul Shomad dan Ustadz Sunur", dan jika diteliti lebih detail, daftar itu tidaklah genap  20, melainkan 19, karena angka lima (5)-nya enggak ada.

Sayangnya, berita-berita yang ternyata udah diplintir-plintir judulnya itu, udah disebar oleh banyak media online, seperti situs Melek Politik, Bersama Dakwah, Islam News, dan lain sebagainya. Padahal, situs pertama yang menyebar 20 daftar nama ustadz itu punya judul yang sangat berbeda.

Sehingga, bisa disimpulkan bahwa artikel-artikel yang menyebutkan bahwa 20 daftar nama penebar paham radikalisme itu hanya hoax belaka.

Kesaksian Pendengar Ceramah Ustad Salim A. Fillah

Primadita Rahma adalah salah satu pendengar setia ceramah-ceramah dari Ustadz Salim. Perempuan kelahiran Surabaya, 10 Oktober 1988 itu bilang bahwa dirinya sempat mendengarkan ceramah Ustadz Salim secara langsung sebanyak dua kali, pertama ia mendengarkan di Masjid Al Falah Surabaya, sekitar tahun 2014, dan kedua di Universitas Airlangga sekitar 2015-an.

"Aku datang ke kajiannya Ustadz Salim itu dua kali, dua-duanya tuh enggak ada yang bahas radikal-radikal gitu," kata Primadita pada ASUMSI, 21 Mei 2018.

Menurut Primadita, Ustadz Salim justru dikenal dengan tema ceramahnya yang membahas tentang Muamalah, hubungan antara Muslim dan non Muslim, serta pernikahan. Kali pertama ia datang ke kajian, Ustadz Salim membahas tentang perjalanannya ke Palestina, dan yang kedua, membahas tentang buku yang baru dirilisnya, yang berjudul 'Lapis-Lapis Keberkahan'.

"Meskipun daftar ini diplintir, tapi kita yang mendengar, orang Jogja terutama, itu lebih mengenal Ustadz Salim itu sebagai orang yang romantis," ujar Primadita.

Sekedar informasi, Ustadz Salim udah menerbitkan delapan buku, yaitu buku Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan, Agar Bidadari Cemburu Padamu, Saksikan Aku Seorang Muslim, Jalan Cinta Pejuang, Dalam Dekapan Ukhuwah, Menyimak Kicau Merajut Makna, Barakallahu laka Bahagianya Merayakan Cinta, dan Lapis-Lapis Kerbekahan.

Primadita sendiri bercerita, bahwa pertama kali ia mengenal Ustad Salim ketika dirinya masih duduk di bangku SMA sekitar tahun 2007 lalu. Kala itu, ia sedang masa pendekatan dengan seorang pemuda yang ternyata menolak untuk pacaran dan akhirnya merekomendasikan Primadita untuk membaca buku Ustadz Salim.

"Tapi akhirnya aku memahami, kenapa cowok itu enggak mau pacaran, dalam artian memang Ustadz Salim itu kajian dan akhlak-nya bagus banget."

Share: 20 Daftar Ulama Penyebar Paham Radikalisme Ternyata Hoax, Begini Fakta Sebenarnya