Eksklusif

Jalan Sunyi Juliawati, Pernah Rias Jenazah Menangis

Yopi Makdori — Asumsi.co

featured image
Dok Juliawati

Mungkin muskil membayangkan ada seorang dengan suka cita berkeinginan menjadi perias jenazah. Di saat banyak orang ingin berprofesi mentereng, lain dengan Juliawati. Perempuan kelahiran 70-an itu justru memilih untuk mengambil jalan sunyi. 

Jenazah yang bagi banyak orang ditakuti, berbeda dengan Juliawati yang malah menghampiri. Profesinya sebagai perias orang mati menuntutnya untuk selalu menghadiri setiap panggilan. Membuat mereka tampil menawan seakan memberi suntikan serotonin ke tubuh Juliawati sehingga diwarnai gelimang gembira. 

Ketertarikan perempuan yang kini tinggal di Cileungsi, Bogor, Jawa Barat terhadap dunia rias jenazah, bukan tanpa sebab. Semua bermula ketika tante dari pihak ayahnya meninggal dunia. Juliawati melihat, di hari terakhir tantenya dipandang banyak orang justru riasan wajahnya jauh dari kesan elok. 

“Itu hasil riasannya gak membuat tante saya menjadi cantik, tapi di mata saya tante saya jadi menakutkan,” kata Juliawati ketika dihubungi Asumsi.co. 

Dari sana timbul perasaan Juliawati untuk memantapkan diri menjadi perias jenazah. Lewat insiden itulah Juliawati akhirnya berazam untuk membenamkan diri pada dunia tersebut. Ia tak mau perasaan yang menghinggapinya kala melihat jasad tantenya dirasakan oleh orang lain.

Namun tekad yang kuat itu terganjal oleh cita-cita untuk mendampingi sang buah hati. Sebagai seorang ibu, hasrat tersebut jelas tak terbendung. Mengingat anak merupakan segalanya bagi Juliawati.

Juliawati baru berani melangkahkan kaki dalam profesi itu ketika anaknya dirasa sudah cukup mandiri. Pada akhir 2021 lalu, Juliawati mengutarakan niatnya kepada sang anak untuk menekuni profesi yang dicita-citakannya sejak lama. 

“Baru akhir tahun kemarin lah, saya bilang saya minta izin ke anak saya ‘kan kamu sudah dewasa, sudah mami atur sedemikian rupa, sudah bisa mandiri. Boleh lah mami minta izin, mami kejar impian mami dari dahulu yang belum terlaksana’” kata Juliawati ketika berbicara kepada anaknya. 

Beruntung sang anak memahami perasaan ibunya. Juliawati pun diizinkan untuk mengejar cita-citanya sebagai perias jenazah. 

Ketika telah menceburkan diri dalam profesi itu, betul saja Juliawati merasakan perasaan yang selama ini diidam-idamkan. Ibarat seorang yang mendambakan sesuatu, perasaan Juliawati menekuni profesinya layaknya mendapatkan barang yang lama diidam-idamkan. Dia sendiri mengaku sukar untuk menggambarkan perasaan tersebut.

“Bukan karena materinya ya, tapi ada satu hal yang memang aduh bisa membuat jenazah itu rapi cantik atau tampan itu ada kebahagiaan tersendiri. Belum lagi kalau melihat pihak keluarga puas dan senang dengan hasil yang kita kerjakan, itu bahagianya mau secapek apa pun itu gak berasa,” ungkap Juliawati. 

Saking cintanya dengan aktivitas yang ia jalani, Juliawati mengaku sanggup tak tidur untuk menghabiskan waktu merias jenazah. Bahkan setelah itu ia tidak merasakan capek atau pun keluhan lainnya. 

Menjalani profesi yang ia sukai bukan tanpa tantangan. Menurut Juliawati merias jasad yang telah tak bernyawa tidak segampang merias wajah mereka yang masih hidup. Berbeda dengan merias orang hidup, merias jenazah membutuhkan usaha lebih supaya riasan itu bisa melekat dengan sempurna ke wajah mereka. 

Hal ini terjadi lantaran pori-pori kulit orang yang telah meninggal sudah kehilangan kemampuan untuk mengikat zat. Kulit orang meninggal juga sudah tak mampu menyerap riasan yang diaplikasikan. 

Kesulitan ini meningkat manakala wajah jenazah mengalami kerusakan karena sakit maupun kecelakaan. Juliawati pernah berpengalaman merias wajah jenazah yang telah rusak karena sakit. Di sanalah kemampuannya ditantang untuk bisa mempercantik sang mendiang. 

Kendati kerap menghadapi kesulitan dalam mengaplikasikan riasan pada jenazah, kata menyerah tidak ada dalam kamus Juliawati dalam menjalankan pekerjaannya. Pernah suatu ketika Juliawati merias seorang jenazah yang riasannya sama sekali tidak mau menempel. 

Dilakukan dengan berbagai upaya tetap saja Juliawati tidak mampu mengaplikasikan riasan itu. Akhirnya ia melakukan ritual sederhana seakan berbicara dari hati ke hati dengan jenazah. 

Juliawati memohon izin agar sang jenazah mengizinkan dan membantu dirinya untuk mempercantik orang mati itu. Hal itu dilakukan Juliawati dengan menggenggam dengan perasaan tulus tangan sang jenazah sambil merapal kalimat permohonan izin. Setelah itu terkesan mistis tapi nyata, menurut Juliawati riasannya jadi bisa diaplikasikan. 

“Iya, percaya gak percaya kayak begitu,” katanya. 

Kebersamaan Juliawati dengan orang tak bernyawa layaknya berkumpul dengan manusia biasa. Dia tak merasa takut sedikit pun berdekatan dengan mereka. Malahan rasa kasih sayang yang menonjol ketika Juliawati berada di samping jenazah.

Juliawati tak mengerti entah mengapa perasaan itu muncul. Padahal acap kali dia diundang untuk merias orang mati yang tidak dikenalnya. Akan tetapi rasa kasih itu tetap ada. 

Menekuni profesi yang menuntut untuk bergumul dengan orang mati membuat Juliawati sempat mengecap pengalaman mistis. Dalam sebuah kesempatan saat tengah merias seorang jenazah, Juliawati melihat mata jenazah itu mengeluarkan air mata. 

“Awalnya saya pegang gak nangis, begitu sudah di tengah-tengah. Waktu itu saya rapikan bagian mata, baru kelihatan itu ada genangan air di ujung mata sebelah kiri,” beber dia. 

Juliawati enggan menafsirkan apa pun atas insiden itu, namun ia mencoba berbicara dengan sang jenazah bahwa mendiang sudah senang, sudah terlepas dari rasa sakit. 

Juliawati menekankan, dirinya menggeluti profesi ini bukan semata demi uang. Lebih jauh hal itu dilakukan di bawah fondasi sebuah pelayanan. Ia mematok harga setiap sekali merias jenazah berkisar di angka satu sampai dua juta rupiah. Namun jika pun tidak dibayar Juliawati tetap bersedia, asalkan orang yang mengundangnya benar-benar tidak mampu.

Bagi Juliawati, bergelut dengan profesi ini lebih banyak sebagai jalan untuk melayani daripada mencari materi. Untuk itu, dia berpesan bagi siapa pun yang ingin mengikuti jejaknya, maka dia harus lebih dahulu meluruskan niat. 

“Saya sejak awal melabeli dari saya sebagai perias jenazah profesional yang berbayar, tetapi kalau saya menemukan keluarga yang tidak mampu berbayar atau dia mampunya bayar berapa pun juga, tetap akan saya layani,” ujarnya. 

Baca Juga:

Saat China Lakukan Tes PCR ke Ikan-Kepiting 

Studi: Kebanyakan Konsumsi Berita Picu Masalah Mental 

Pasien Suspek Cacar Monyet di Sulsel Sempat ke Jakarta

Share: Jalan Sunyi Juliawati, Pernah Rias Jenazah Menangis