Isu Terkini

Sri Mulyani Ngomongin Kenapa Rupiah Melemah Hingga Enggak Pernah Mimpi Jadi Menteri

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati adalah sosok "Kartini zaman now" yang cukup menarik perhatian banyak rakyat Indonesia. Kiprahnya di pemerintahan negara ini memang menarik untuk diikuti. Apalagi dirinya sempat menjadi Menteri Keuangan terbaik di Asia Pasifik pada 2018 versi majalah keuangan FinanceAsia. Ia bahkan  juga mendapat penghargaan menteri terbaik di dunia dalam World Government Summit pada tahun ini.

Beragam prestasinya itu tentu membuat kita penasaran, mengapa rupiah tetap dan terus melemah di hadapan dolar. Dalam beberapa hari terakhir, nilai tukar rupiah telah menembus Rp14 ribu.

Pada kesempatan ngobrol bareng millennial di acara ‘Youth x Public Figure’ yang digelar We The Youth yang bekerjasama dengan Campaign.com, pada Sabtu, 12 Mei, Sri Mulyani menjelaskan banyak hal, mulai dari cita-citanya dulu sampai kenapa rupiah melemah.

Sri Mulyani Dulunya Tidak Bercita-Cita Jadi Menteri

Siapa yang mengira bahwa Mantan Direktur Bank Dunia yang satu ini dulunya enggak punya cita-cita jadi menteri. Ia pertama kali menjadi Menteri Keuangan pada Kabinet Indonesia Bersatu di bawah kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Lalu, apa sih cita-cita Sri Mulyani dulunya?

"Pengin jadi guru TK. I love children. Menyanyi, lihat wajah mereka, bagaimana mereka gembira, bagaimana mereka berekspresi, takut saat berinteraksi. Adrenalin itu muncul," ujar Sri menjawab pertanyaan dari pembawa acara.

Saat duduk di bangku SMP, cita-citanya pun berubah. Hal itu terjadi karena ada satu guru yang dia damba-dambakan.

"Saya SMP punya guru Bahasa Inggris yang sangat menarik. Gurunya perempuan, Bu Hari. Ia bajunya rapi, dan cara jelasin bagus, gestur tubuh menyenangkan. Ini role model, mungkin jadi guru Bahasa Inggris," tutur Sri.

Naik tingkat ke SMA dan memilih jurusan IPA, ternyata enggak membuatnya terjun ke ilmu-ilmu pasti, sebab anak ketujuh dari 10 bersaudara ini ingin berbeda dari keluarganya yang sebagian besar menjadi dokter dan insinyur.

Sri Mulyani akhirnya memilih jurusan ekonomi ketika kuliah, dengan alasan dirinya suka meneliti data. Saat berkuliah pun, ia hanya berpikiran untuk menjadi dosen ekonomi nantinya. Tapi tak disangka, berkat keuletannya, ia pun berhasil menjadi menteri ekonomi yang paling berpengaruh.

Millenial Jangan 'Negative Thinking' Dengan Pajak

Dalam kesempatan yang sama, Sri Mulyani pun berbicara sedikit tentang pajak yang ia kampanyekan dengan tagar UangKita itu. Ia bilang, wajib pajak bagi para pengusaha hanya diperuntukan buat mereka yang udah menerima keuntungan.

"Ada yang bilang, 'Bu bagaimana saya baru usaha belum untung sudah harus bayar pajak?' Lho, pajak itu dari keuntungan, kok. Kadang kadang-kadang persepsi itu membuat Anda sudah jugdement, suudzon, ya kalau orang bilang, sudah berprasangka buruk lebih dulu," kata Sri.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam sebuah diskusi bareng anak muda di acara Youth x Public Figure di XXI Epicentrum, pada 12 Mei 2018. Foto: Winda/Asumsi

Belum lagi ada anak muda yang mengeluh bagaimana membayar pajak dengan pengasilannya yang hanya tiga jutaan rupiah per bulan. Sri Mulyani lagi-lagi menegaskan, bahwa seseorang yang pendapatannya di bawah Rp54 juta per tahun itu tidak dikenai pajak.

"Banyak anak-anak itu baper [bawa perasaan] ya. 'Bu saya bayar pajaknya berapa?' Saya tanya penghasilan kamu berapa, Rp3 juta katanya. Saya bilang itu di bawah PTKP [Penghasilan Tidak Kena Pajak], kenapa merasa bayar pajak. Jadi kalau Anda pendapatan di bawah Rp54 juta [per tahun], Anda enggak bayar pajak, itu pendapatan yang dibebaskan dari pajak," ujarnya tegas.

Kemudian ia menerangkan, bahwa hidup di sebuah negara, memang harus patuh membayar pajak sebagaimana yang telah diatur, sebab pajak nantinya diperuntukkan bagi kesejahteraan sosial, pembangunan infrastruktur, dan sebagainya.

Menteri Keuangan Terbaik Tapi Kenapa Rupiah Melemah?

Meski dihadiri millennials, tentu ada yang berani bertanya mengenai kebijakan pemerintah, terutama mengapa akhir-akhir ini rupiah kian melemah terhadap dolar Amerika. Perempuan kelahiran Bandar Lampung, 26 Agustus 1962, itu pun menjelaskan.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan rupiah kian melemah, kata Sri Mulyani, salah satunya karena inflasi Indonesia masih di atas dunia dan mata uang yang masih menggunakan lima digit.

Penyebab tingginya inflasi di Indonesia bisa berbagai macam, mulai dari distribusi barang yang kurang, harga cabai di tingkat petani murah tapi sampai pada konsumen naik tiga kali lipat, dan masalah perdagangan. Namun, inflasi di Indonesia, menurutnya, saat ini sudah menurun cukup siginifikan, dulu sempat di angka 6 persen dan saat ini menjadi 3 persen.

Selain itu, kebijakan moneter juga bisa menyebabkan inflasi. Ia mengatakan, Kementerian Keuangan bersama Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) terus berkoordinasi untuk menjaga stabilitas nilai tukar, meski memang ada hal-hal yang tidak bisa dikontrol oleh pemerintah dan BI.

"Unfortunately, life itu enggak selalu simple. Bila dibandingkan, Turki turunnya sudah sampai 10 persen, sedangkan rupiah kita melemahnya sekitar tiga persen," ujarnya.

“Karena yang benar adalah, dolar menguat, dan itu tidak hanya terhadap rupiah. Dari Januari sampai dengan Mei ini, seluruh dunia mengalami pelemahan terhadap dolar,” ungkap Sri.

Share: Sri Mulyani Ngomongin Kenapa Rupiah Melemah Hingga Enggak Pernah Mimpi Jadi Menteri