Isu Terkini

Hari Pendidikan Nasional, Mendikbud Muhadjir Effendy Ingatkan Pentingnya Memajukan Kebudayaan

OlehWinda Chairunisyah Suryani

featured image

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menggelar upacara peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2018, di kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu, 2 Mei. Mendikbud Muhadjir Effendy yang hadir sebagai pembina upacara memakai baju adat Minangkabau.

Dalam peringatan Hardiknas kali ini, Kemendikbud mengambil tema “Menguatkan Pendidikan, Memajukan Kebudayaan”. Menurut Muhadjir, kebudayaan juga perlu berdampingan dengan pendidikan. Apalagi, setelah disahkannya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, yang mempertegas posisi kebudayaan nasional sebagai ruh, pemberi hidup, dan penyangga bangunan pendidikan nasional.

"Oleh sebab itu, kebudayaan yang maju adalah prasyarat yang harus dipenuhi jika ingin pendidikan nasional tumbuh subur, kukuh, dan menjulang," kata Muhadjir.

Sejarah Hari Pendidikan Nasional

Penetapan tanggal 2 Mei menjadi hari pendidikan nasional berawal dari hari lahir sang pelopor pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara. Ia sendiri lahir di Yogyakarta pada 2 Mei 1889. Kiprah dan aktivitas Ki Hajar Dewantara dalam mendirikan dan mengembangkan sekolah Taman Siswa mulai pada tahun 1922.

Semboyan "Tut Wuri Handayani" milik Ki Hajar Dewantara pun sampai saat ini masih menjadi motto untuk para pengajar di Indonesia. Teks aslinya berbunyi ”Ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani” yang artinya adalah, “Dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan. Di tengah atau di antara murid, guru harus menciptakan prakarsa dan ide. Di depan, seorang pendidik harus memberi teladan atau contoh tindakan yang baik”.

Ki Hajar Dewantara terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soeryaningrat. Dia ber­asal dari lingkungan keluarga Keraton Yogyakarta. Saat genap berusia 40 tahun, ia lebih memilih berganti nama menjadi Ki Hadjar Dewantara demi bisa bebas dekat dengan rakyat.

Anak Indonesia Masih Banyak yang Putus Sekolah

Mencerdaskan kehidupan bangsa memang menjadi salah satu tujuan negara sesuai amanat UUD 1945. Tapi, jumlah siswa yang putus sekolah masih tetap memprihatinkan, di mana angkanya pada tahun 2017 kemarin adalah sebanyak 2,9 juta anak.

Berdasarkan data Kemendikbud.go.id, dari pemantapan pembangunan pendidikan, pada jenjang SD, SMP, dan SMA, serta SMK dan SLB, pada tahun lalu telah dibangun 397 Unit Sekolah Baru (USB) dan 2.314 Ruang Kelas Baru (RKB). Sedangkan untuk kebutuhan guru di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), Kemendikbud juga telah mengirimkan 6.296 guru garis depan.

Share: Hari Pendidikan Nasional, Mendikbud Muhadjir Effendy Ingatkan Pentingnya Memajukan Kebudayaan