General

Elektabilitas Jokowi Perlahan Naik, Apa Saja Penyebabnya?

OlehKiki Esa Perdana

featured image

Dalam beberapa waktu terakhir, elektabilitas Presiden Joko Widodo (Jokowi) mulai naik perlahan tapi pasti. Dalam hasil survei Lembaga Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Kompas, elektabilitas Jokowi berada pada 55,9 persen.

Survei tersebut dilakukan pada 21 Maret 2018 hingga 1 April 2018 lalu. Angka ini meningkat dari enam bulan lalu, di mana elektabilitas Jokowi masih 46,3 persen.

Sementara itu, elektabilitas Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto jauh di belakangnya, di angka 14,1 persen.

Pada survei lain yang diadakan Cyrus Network, elektabilitas Jokowi malah lebih tinggi lagi, yaitu pada 58,8 persen, disusul oleh Prabowo dengan 21,8 persen.

Bagi kubu Jokowi, angka-angka ini pun memang sedikit mengejutkan karena dalam beberapa bulan lalu, elektabilitas mantan Gubernur DKI Jakarta itu masih berkisar di bawah 50 persen. Misal, angka yang dikeluarkan Saeful Mujani Research and Consulting (SMRC) pada September 2017 lalu, menunjukkan elektabilitas Jokowi hanya 38,9 persen.

Begitu pula dengan hasil yang dirilis kajian riset KedaiKopi yang menunjukkan angka 44,9 persen. Lalu ada Media Survei Nasional (Median) yang memperlihatkan elektabilitas Jokowi pada 36,3 persen.

Lantas, apa saja faktor yang menyebabkan peningkatan elektabilitas mantan Wali Kota Solo ini?

Elektabilitas adalah ketertarikan seseorang dalam memilih. Naik-turunnya ketertarikan untuk dipilih dari seorang politisi ditentukan banyak hal, baik langsung atau pun tidak langsung. Berikut beberapa hal yang penulis cermati melalui kacamata sederhana warga. Di antaranya adalah:

1. Erat dengan Anak Muda

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = 'https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.12'; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Saya akhirnya punya sepeda motor hasil rancangan dan kreasi anak bangsa sendiri. Sepeda motor bergaya chopper dengan...Posted by Presiden Joko Widodo on Saturday, January 20, 2018

Pembentukan citra dekat dengan anak muda ini salah satu alasan yang kuat yang memungkinkan untuk mendapatkan satu poin plus yang cukup besar untuk elektabilitas. Kegiatan mulai dari cukur rambut di barbershop anak muda, datang ke Jakarta Sneakers Day, membeli dan mengendarai motor modifikasi chopper, hingga muncul langsung untuk menonton konser Metallica pun dilakukan Jokowi.

2. Pembangunan Infrastruktur di Wilayah Perbatasan

Daerah perbatasan yang semula tidak begitu terurus, perlahan berbenah besar-besaran. Mulai dari pembangunan jalan di tiga kawasan perbatasan Indonesia, yakni di Pulau Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan Papua, hingga pembangunan sarana pendukung infrastruktur pendidikan dan pengadaan air bersih.

3. Pembangunan Jalan Lintas Papua

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = 'https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.12'; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Posted by Kementerian Sekretariat Negara RI on Wednesday, May 10, 2017

Ini adalah salah satu hal yang dinilai cukup besar juga; pembangunan Trans Papua yang sudah dimulai sejak era Presiden Habibie ini diselesaikan kebut dan maksimal pada zaman Jokowi. Jalur Trans Papua yang meyambungkan Sorong dan Merauke ini kurang lebih sepanjang 4,329 kilometer.

4. Dekat dengan Ulama

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = 'https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.12'; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Para ulama dari Jawa Barat datang bersilaturahmi dengan saya di Istana Negara, dua pekan lalu. Kali ini, saya melakukan...Posted by Presiden Joko Widodo on Tuesday, April 17, 2018

Mengunjungi banyak pesantren, mulai dari pulau Sulawesi, Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, hingga Sumatera Utara, menjadi salah satu agenda Jokowi.

Dalam beberapa kesempatan, Jokowi menyebutkan alasannya mengunjungi pesantren adalah untuk menjaga ukhuwah dan meminta masukan dari para ulama. Jokowi juga acap kali menerima para ulama di Istana Negara, seperti ulama dari Kalimantan Barat dan Jawa Barat. Yang paling terakhir, ia menerima tokoh agama dari alumni 212.

Namun, kesemuanya adalah faktor yang memang mengikat secara politis. Di luar faktor-faktor tersebut, ada sejumlah hal lain yang tak terduga, dan cukup dianggap bisa menjadi perhitungan. Apa saja itu?

5. Faktor Gibran, Kahiyang, dan Kaesang

(function(d, s, id) { var js, fjs = d.getElementsByTagName(s)[0]; if (d.getElementById(id)) return; js = d.createElement(s); js.id = id; js.src = 'https://connect.facebook.net/en_US/sdk.js#xfbml=1&version=v2.12'; fjs.parentNode.insertBefore(js, fjs); }(document, 'script', 'facebook-jssdk'));

Foto bersama keluarga. Kedua mempelai memperlihatkan cincin kawin.Posted by Presiden Joko Widodo on Sunday, June 14, 2015

Ketiga anak Jokowi—Gibran Rakabuming, Kahiyang Ayu, Kaesang Pangarep—mencerminkan remaja seumurnya; mahasiswa, berbisnis kuliner, dan aktif dengan media media. Bisnis kaos, dagang martabak, bisnis catering, hingga jualan pisang nugget pun dilakoni. Hal ini seakan terlihat berbeda dengan remaja seusianya yang juga anak pejabat, yang lebih memilih aktif menjadi pebisnis besar, menjadi politisi, atau aktif di partai.

6. Gaya Blusukan

Gaya blusukan ini sudah identik dengan Jokowi, gaya blusukan ini sudah dilakukannya sejak masih memerintah kota Solo dengan tujuan untuk mendengarkan langsung aspirasi warga. Mau tidak mau, gaya blusukan ini seakan menghilangkan sekat protokoler yang selama ini menjadi tembok pembatas antara pejabat tinggi dengan masyarakat.

Berbagai poin tersebut, memang terlihat ada yang terikat secara politis dan juga tidak. Artinya, beberapa memang hadir dengan sendirinya, bukan dibentuk karena keterkaitan politis. Tantangan selanjutnya sudah tepat di depan mata, bagaimana Jokowi dalam menghadapi pemilihan presiden 2019, apakah akan tetap dengan gaya yang sama, atau kali ini ada citra lain yang akan ditampilkan?

Share: Elektabilitas Jokowi Perlahan Naik, Apa Saja Penyebabnya?