featured

Isu Terkini

28 Apr 2018

Pengamat Konflik: Korut Korsel Sudah Lama Ingin bersatu, Namun Dihalangi Campur Tangan Asing

Ramadhan

Hari Jumat, 27 April 2018, sorotan dunia mengarah ke Semenanjung Korea, di mana pertemuan bersejarah terjadi antara pemimpin Korea Utara Kim Jong-un dengan Presiden Korea Selatan Moon Jae-in. Pertemuan itu berlangsung di Panmunjom yang merupakan zona demiliterisasi yang memisahkan kedua negara.

Pada momen pertemuan untuk pertama kalinya itu, Kim Jong-un dan Moon Jae-in tampak tersenyum dan saling menyapa. Kim Jong-un lebih dulu melangkahkan kakinya ke wilayah Korsel setelah melewati beton kecil yang memisahkan kedua negara.

Lalu, selesai berjabatan tangan, Kim Jong-un dan Moon Jae-in bergandengan tangan dan secara simbolis melangkah ke wilayah sebaliknya.

Saat memasuki Rumah Perdamaian, Kim menandatangani buku tamu, di mana dia menulis "Sebuah sejarah baru dimulai sekarang dan masa damai, pada titik awal sejarah."

Baca Juga: Pertemuan Bersejarah Kim Jong-un dan Moon Jae-in, Begini Awal Mula Perseteruan Korsel dan Korut

Selanjutnya, Kim Jong-un dan Moon Jae-in melakukan pembicaraan sehari penuh dengan tiga fokus pembahasan yang bisa berdampak bagi seluruh dunia yakni denuklirisasi Semenanjung Korea, penyelesaian damai, dan peningkatan hubungan bilateral.

Seperti diketahui, Kim Jong-un jadi pemimpin Korea Utara pertama yang menginjakkan kaki di Korea Selatan dengan melintasi garis militer yang telah membagi semenanjung itu sejak akhir Perang Korea pada tahun 1953.

Apa Dampak Pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in?

Pertemuan bersejarah kedua pemimpin Korea tersebut mendapatkan perhatian dari Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea, Teguh Santosa. Menurut Teguh, banyak dampak positif dari pertemuan Kim dan Moon.

“Dampaknya ya jalan menuju perdamaian kembali terbuka. Kenapa saya sebut kembali terbuka? Karena begini, sebetulnya unifikasi atau reunifikasi Korea itu adalah tugas konstitusional baik itu di Korea Utara maupun Korea Selatan,” kata Teguh kepada Asumsi, Jumat, 27 April.

Teguh mengungkapkan bahwa usaha duo Korea menuju jalan reunifikasi memang sudah diperjuangkan sejak lama. Bahkan, pemimpin Korut dan Korsel terdahulu kerap melakukan pertemuan demi sebuah perdamaian.

“Jadi kedua Korea ini memang bergerak ke arah itu. Dalam rangka bergerak ke arah reunifikasi, setelah Perang Korea 1953, mereka banyak melakukan kontak dan pembicaraan, termasuk misalnya pembicaraan antara Kim Jong-il dan Kim Dae-jung tahun 2000, juga pembicaraaan antara Kim Jong-il dengan Roh Moo-hyun tahun 2007,” ujar Dosen Hubungan Internasional di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Baca Juga: Dua Tahun Saling Cuek, Korsel dan Korut Akhirnya Baikan karena Hal Ini

Bahkan, kedua pemimpin Korea beberapa tahun silam sudah mulai membicarakan soal bentuk negara baru yang akan menaungi Korut dan Korsel.

“Dan dalam pembicaraan itu mereka sudah sepakati dan membahas soal bentuk negara baru yang mereka bayangkan, yang kala itu misalnya muncul opsi nama Konferedasi Korea Bersatu. Diwakili satu pemerintahan tapi di dalamnya mereka mempunyai sistem sendiri.”

Sayangnya, menurut Teguh, konsensus menuju jalan damai yang diperjuangkan Korut dan Korsel selama ini selalu dirusak oleh kekuatan asing, terutama Amerika Serikat yang punya kepentingan untuk mempertahankan dominasinya di Asia Timur.

"Ketegangan di Semenanjung Korea adalah buah dari pertarungan kekuatan asing di kawasan itu sejak Perang Dunia Kedua usai. Pertemuan Kim Jong Un dan Moon Jae-in diharapkan bisa memperbaiki status hubungan kedua negara. Bagaimanapun, kedua Korea pernah bersatu sebelum dicabik-cabik kolonial.”

Prospek Perdamaian Korut dan Korsel

Teguh yakin bahwa prospek pertemuan Kim dan Moon sangat positif dan cerah. Tak hanya itu saja, pertemuan tersebut sekaligus ingin menggambarkan sosok Kim yang sebenarnya sangat ramah dan bisa diajak berdialog.

“Kalau di level inter Korea atau di level kedua negara, saya pikir prospeknya memang gemilang. Orang sudah bisa lihat bahwa Kim Jong-un adalah sosok yang tidak seperti digambarkan selama ini karena dia juga orangnya dialogis, rasional, murah senyum.”

“Tapi kalau kita lihat mereka bertemu di Panmunjom, itu ada sebuah adegan kecil tapi itu bahasa simbol yang luar biasa. Kim Jong-un masuk ke Korea Selatan, kemudian bersalaman. Lalu Kim Jong-un mengajak Moon Jae-in melangkah ke Korea Utara.”

“Itu luar biasa dan sekaligus bisa menjelaskan bahwa Kim Jong-un ini jauh lebih dewasa, jauh lebih negarawan daripada apa yang digembar-gemborkan media Barat selama ini.”

Sekadar informasi, Teguh sendiri mengikuti konflik Korea dari dekat. Setiap tahun, ia mengunjungi Pyongyang. Kunjungan pertama Teguh ke Pyongyang dilakukan di tahun 2003, tak lama setelah Presiden Amerika Serikat saat itu, George W. Bush menuding Korea Utara sebagai anggota poros setan bersama Iran dan Irak.

Atas perhatiannya yang cukup dalam pada isu Korea, Teguh mendapatkan Bintang Kehormatan dari pemerintah Korea Utara pada 2017 lalu.

Teguh pun berharap Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump tidak melakukan intervensi dalam usaha damai Korut dan Korsel.

“Agar pertemuan Kim Jong-un dan Moon Jae-in bisa menghasilkan perdamaian abadi, saya minta Donald Trump tidak merecoki," ujarnya.

Share: Pengamat Konflik: Korut Korsel Sudah Lama Ingin bersatu, Namun Dihalangi Campur Tangan Asing