Isu Terkini

Kenapa Masih Mau Temenan Sama Pandji?

OlehPangeran Siahaan

featured image

Dalam konteks pemilihan kepala daerah (Pilkada), saya dua kali bertemu dengan Pandji Pragiwaksono. Yang pertama adalah begitu ia resmi diumumkan menjadi juru bicara resmi pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta saat itu, Anies Baswedan-Sandiaga Uno. Bersama dengan Iman Sjafei, kami mengobrol bertiga sambil menyeruput kopi.

Pertanyaan saya kepada dirinya sederhana—dan sama seperti pertanyaan banyak orang: “Are you sure about this? Why?

Pandji memberi jawaban panjang lebar akan pertanyaan itu. Saya tak perlu menuliskan kembali apa yang ia katakan karena Pandji menuliskan hal yang sama di blog dan akun media sosialnya. Saya tak yakin apakah saya benar-benar bisa menerima penjelasannya. Tapi saya menghormati keputusannya dan berharap yang terbaik untuk dirinya.

Kali kedua adalah tak lama usai Anies terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Kami kembali bertemu bertiga bersama dengan Iman. Saya memberikan selamat sembari memuji keputusan politiknya untuk berada di pihak yang ternyata memenangi kontes elektoral.

Sebelum perhelatan Pilkada DKI 2017 digelar, memang sulit untuk membayangkan ada orang yang mau berada di kubu non-petahana. Saya katakan pada Pandji bahwa manuver-manuver politik yang terjadi selama Pilkada DKI 2017 jauh dari nilai-nilai ideal yang saya anut. Namun jika kita lucuti proses politik tersebut dari nilai dan etika yang menyertainya, bagi saya langkah dia adalah political gambit.

Jika pertanyaan pertama saya dulu di awal kampanye adalah mengapa, pertanyaan saya kali ini kepada dirinya adalah, “So, what’s next?

Pandji kembali memberikan jawaban yang sama seperti yang ia katakan di berbagai saluran komunikasi publik miliknya. Ia tak akan berada di dalam lingkar kekuasaan. Ia akan menjaga jarak. Lalu saya katakan bahwa selamanya ia akan terasosiasi dengan apa yang terjadi dalam Pilkada DKI 2017. Ia tak membantah. Konsekuensi yang telah terkalkulasi.

Tapi selama Pilkada DKI 2017, Pandji bukanlah satu-satunya pihak yang kerap dicecar pertanyaan.

Saya (dan juga Iman) pun dihujani pertanyaan yang rata-rata isinya, “Teman lo si Pandji kenapa tuh?”

“Dibayar berapa dia?”

“Dia dapet apaan aja jadi jubir?”

“Wah Pandji udah pindah ke dark side. Lo enggak ikutan?”

... dan lain sebagainya.

Sama seperti halnya Pandji yang akan selalu terasosiasi dengan Gubernur Anies, saya pun sering terasosiasi dengan Pandji. Ia tidak hanya sahabat, tapi dalam banyak hal ia adalah mentor, baik secara langsung dan tidak langsung.

Saya tak pernah ikut sekalipun training atau workshop apa pun yang ia buat, namun jika ada buku How Pandji Pragiwaksono Does His Business, saya yakin saya tahu 90% isinya di luar kepala.

Bahkan teknik interview saya yang tidak pernah membawa daftar pertanyaan pun saya serap darinya. Dulu sekali ia pernah mengatakan, “Gue enggak pernah bikin daftar pertanyaan. Gue ingin pertanyaan gue benar-benar dari penasaran dan keingintahuan. Pasti percakapannya akan lebih hidup.”

Pilkada DKI 2017 mungkin adalah momen pertama di mana Pandji dan saya berbeda pandangan. Kami punya perspektif yang sama soal edukasi politik. Kami sama-sama menggemari hip-hop. Kami fans klub sepakbola yang sama dan juga mendukung tim NBA yang sama (Detroit Pistons yang super katro itu).

Pada Pilkada DKI 2012, saya bersimpati pada pasangan cagub-cawagub yang sama dengan dirinya meski saya tahu bahwa pasangan independen tak akan menang. Apa yang terjadi di kontes elektoral Jakarta tahun lalu benar-benar kali pertama di mana kami bersilang jalan.

Saya tak setuju dengan apa yang ia Iakukan tapi saya menghormati keputusannya. Pandji juga tahu bahwa saya tak sependapat dengan dirinya, tapi ia juga menghormati pendirian saya untuk tak seiya-sekata dengannya.

Meski begitu, saya tetap penasaran dengan apa yang ia temui dan alami di tengah-tengah orang yang tadinya juga tidak sependapat dengan dirinya. Pandji di tengah-tengah Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS). There’s a novel storyline lies there somewhere.

Alih-alih merasa kehilangan teman yang menyeberang ke tempat baru, saya malah merasa sekarang memiliki teman di pihak yang tadinya sama sekali asing bagi saya—gelas setengah kosong atau gelas setengah penuh. Masalah perspektif.

Saya jadi bisa meraba-raba bagaimana proses berpikir dan berorganisasi pihak-pihak yang selama ini saya tak punya koneksi sama sekali. Paling tidak, ini memperlebar khazanah pengetahuan dan horizon berpikir. Menambah wawasan.

Banyak teman kami yang mengatakan bahwa apa yang dilakukan Pandji dalam Pilkada tak bisa diterima, dan bagi mereka Pandji yang mereka kenal sudah tak ada. Soal itu saya tak bisa berkata apa-apa. Semua orang punya hak yang sama untuk berpikir dan mengambil kesimpulan apa pun.

Sejak tahun lalu saya memiliki tekad untuk berteman lebih banyak dengan orang-orang yang tak sependapat dengan saya. Bagi saya, terlalu nyaman berada di tengah-tengah orang yang selalu seiya-sekata tak sehat bagi nalar dan daya kritis—kemanjaan ruang gema.

Maka saya ingin menjalin komunikasi dengan orang-orang yang kesamaan nilainya jauh agar bisa memahami bagaimana proses berpikir mereka. Dari memahami proses berpikir, kita bisa mendapat gambaran yang lebih akurat untuk menentukan common grounds (persamaan). Lalu setelahnya baru bisa kita rumuskan apa yang bisa kita lakukan (atau tidak bisa kita lakukan) bersama-sama tanpa harus benar-benar sependapat dengan mereka.

Lalu mengapa masih mau temenan sama Pandji?

Kalau orang asing yang tidak sependapat dengan saya saja ingin saya temani, apalagi jika orang tersebut adalah sahabat saya sendiri.

Pangeran Siahaan adalah co-founder dan Editor-in-Chief Asumsi

Share: Kenapa Masih Mau Temenan Sama Pandji?