Budaya Pop

Menelusuri Penyebab Di Balik Hampir Punahnya Path dari Kehidupan Millenial

Ramadhan– Asumsi.co

featured image

Path jadi salah satu jejaring sosial yang seringkali ada di setiap gadget anak muda sebagai bentuk eksistensi generasi milenial. Bahkan dalam menu aplikasi di smartphone, biasanya Path diposisikan bersanding dengan Facebook, Twitter, dan Instagram. Yang bikin seru dari aplikasi warna orange ini adalah fitur-fiturnya yang lengkap banget kalau kita pengen ngeksis: ada fitur location untuk pamer lo lagi liburan kemana, fitur "reading to", untuk pamer lo lagi baca buku berbobot apa, "watching to" untuk pamer lo abis nonton film apa, sampe fitur "listening to" untuk pamer lo lagi asyik dengerin musiknya siapa. Pokoknya, Path ada karena hidup lo emang butuh di-Path-merin!

Tapi, lo semua pada ngerasa gak sih kalau belakangan ini, Path mulai ditinggalin para penggunanya? Kalo lo masih punya aplikasi Path di handphone lo, coba deh cek, masih banyak gak sih, temen-temen lo yang update di Path? Seperti dilansir dari Rappler (3/6), pengguna Path di Indonesia memang menurun. Jika pada tahun 2014 Path ada di urutan ke-16 sebagai aplikasi paling populer di Playstore Indonesia, maka di tahun 2015, posisinya merosot ke angka 27. Setahun kemudian, ranking Path turun lagi ke posisi 57. Lho, lho, kenapa ini? apakah millenial kita udah mulai insyaf dari kebiasaan pamernya?

Untuk menemukan jawaban atas pertanyaan ini, Tim Asumsi.co melakukan tinjauan kecil-kecilan dan mencari tahu kenapa aplikasi startup asal Amerika Serikat itu sekarang ini mulai gak nyaman lagi buat dipake. Ini dia jawabannya!

Path Udah Gak Asyik

Salah seorang bocah milenial merangkap guru SD di Ciledug, Rizki Hasan memberikan alasan kenapa doi yang gila sosmed itu sampe ninggalin Path. Singkat aja, menurut Rizki, Path udah gak asyik! Meski Path terus memperbaharui tampilan wajah dengan tambahan berbagai fitur seperti mention, notifikasi ulang tahun, In-App Browser, dan yang lainnya, tetap saja Rizki ogah memakai Path lagi.

“Path udah gak asyik. Beda jauh sama Instagram yang sekarang terus berubah secara tampilan,” kata Rizki Hasan kepada Asumsi.co.

Bagi Rizki, Path sekarang ini udah monoton, terlebih sebagian fitur yang ada di aplikasi Path sudah lebih dulu hadir di jejaring sosial lainnya seperti Facebook, Instagram, atau Twitter.

Terlalu Privasi

Path dikenal luas sebagai jejaring sosial yang mengedepankan ruang privasi. Di Path, kita bahkan bisa memilih siapa aja yang bisa nge-view update-an kita. Hal itulah yang semakin mempertegas kesan bahwa Path cenderung eksklusif, tapi ya jadi gak asyik karena gak menjangkau semua orang.

Masih menurut Rizki yang punya hampir seluruh jenis media sosial yang ada di Appstore, gaya Path yang terlalu privasi itu justru membuatnya eneg dan pusing sendiri. Pria kelahiran tahun 1989 ini menilai lini masa Path jadi sering digunakan para penggunanya untuk meng-ekspose momen-momen aib yang gak seharusnya di-share.

“Di Path, orang-orang jadi lebih seneng mengumbar kehidupan pribadi. Sedikit-sedikit curhat, kalau galau langsung posting di Path. Pokoknya hal-hal yang sifatnya privasi malah jadi konsumsi banyak orang,” jelas Rizki. Lho, namanya juga pamer, Ki!

Banyak yang Nyampah

Path yang cenderung privasi itulah yang akhirnya membuat para penggunanya jadi seneng nyampah sesuka hati dengan berbagai postingan yang gak jelas. Mereka jadi bodo amat sama pengguna-pengguna lainnya meski postingan mereka menggelikan.

Males aja pake Path sekarang ini karena banyak yang pada nyampah. Ya coba aja liat Path pasti ada aja temen lo yang baru jadi mahmud (mamah muda), terus posting foto anaknya yang lagi buang air-lah atau anaknya yang lagi sakit juga diposting di Path,” jelasnya.

Rizki menilai aksi para pengguna Path yang memposting kegiatan tak senonoh dari anak, bapak, kakek, nenek, atau saudara-saudaranya itulah yang malah membuat Path jadi tak berfaedah. Jadi kepo, temen-temen Path-nya Rizki nih siapa sih?

Karena Path Terlalu Path-mer

Sesuai jargon dan meme-meme yang sempat beredar di awal kemunculannya, Path dianggap sebagai jejaring sosial tempat para penggunanya beradu pamer. Malah nama Path pun sampe di­-plesetin jadi Path-mer, ya pamer.

“Path gak punya instastory-nya, kalah saing sama Instagram yang nge­-hits dan juga punya explore biar bisa mencari banyak foto-foto keren. Kalo di Path, orang dikit-dikit update status pas punya mobil baru, rumah baru, pacar baru,” seloroh Rizki.

“Kalo di Instagram kan jelas, orang-orang memang saling beradu buat pamerin foto-foto terbaiknya dan itu bikin mata sehat kan, enak diliat juga, gak ngebosenin,” pungkas alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Ya ya ya, jadi udah jelas ya kenapa Path sekarang popularitasnya mulai menurun dan ditinggalin para penggunanya. Udah gak asyik dan monoton, suka Path-mer lagi, cih. Path mah gitu!

Share: Menelusuri Penyebab Di Balik Hampir Punahnya Path dari Kehidupan Millenial